power of dreams

Tinggalkan komentar

Filed under vidio

Permendikbud 111 tahun 2014

SALINAN
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 111 TAHUN 2014
TENTANG
BIMBINGAN DAN KONSELING
PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka pengembangan kompetensi hidup, peserta didik memerlukan sistem layanan pendidikan di satuan pendidikan yang tidak hanya mengandalkan layanan pembelajaran mata pelajaran/bidang studi dan manajemen, tetapi juga layanan bantuan khusus yang lebih bersifat psiko-edukatif melalui layanan bimbingan dan konseling;
b. bahwa setiap peserta didik satu dengan lainnya berbeda kecerdasan, bakat, minat, kepribadian, kondisi fisik dan latar belakang keluarga serta pengalaman belajar yang menggambarkan adanya perbedaan masalah yang dihadapi peserta didik sehingga memerlukan layanan Bimbingan dan Konseling;
c. bahwa Kurikulum 2013 mengharuskan peserta didik menentukan peminatan akademik, vokasi, dan pilihan lintas peminatan serta pendalaman peminatan yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling;
d. bahwa sehubungan dengan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b dan huruf c perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5410);
-2-
3. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 194, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4941);
4. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2014;
5. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2014;
6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor;
7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah;
8. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah;
9. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 57 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah;
10. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 58 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah;
11. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 59 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah;
12. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 60 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TENTANG BIMBINGAN DAN KONSELING PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH.
Pasal 1
Dalam peraturan menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Bimbingan dan Konseling adalah upaya sistematis, objektif, logis, dan berkelanjutan serta terprogram yang dilakukan oleh konselor atau guru Bimbingan dan Konseling untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik/Konseli untuk mencapai kemandirian dalam kehidupannya.
2. Konseli adalah penerima layanan Bimbingan dan Konseling pada satuan pendidikan.
-3-
3. Konselor adalah pendidik profesional yang berkualifikasi akademik minimal Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang Bimbingan dan Konseling dan telah lulus pendidikan profesi guru Bimbingan dan Konseling/konselor.
4. Guru Bimbingan dan Konseling adalah pendidik yang berkualifikasi akademik minimal Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang Bimbingan dan Konseling dan memiliki kompetensi di bidang Bimbingan dan Konseling.
5. Satuan pendidikan adalah Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar Luar Biasa (SD/MI/SDLB), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMP/MTs/SMPLB), Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah/Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMA/MA/SMALB), dan Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan/Sekolah Menengah Kejuruan Luar Biasa (SMK/MAK/SMKLB).
Pasal 2
Layanan Bimbingan dan Konseling bagi Konseli pada satuan pendidikan memiliki fungsi:
a. pemahaman diri dan lingkungan;
b. fasilitasi pertumbuhan dan perkembangan;
c. penyesuaian diri dengan diri sendiri dan lingkungan;
d. penyaluran pilihan pendidikan, pekerjaan, dan karir;
e. pencegahan timbulnya masalah;
f. perbaikan dan penyembuhan;
g. pemeliharaan kondisi pribadi dan situasi yang kondusif untuk perkembangan diri Konseli;
h. pengembangan potensi optimal;
i. advokasi diri terhadap perlakuan diskriminatif; dan
j. membangun adaptasi pendidik dan tenaga kependidikan terhadap program dan aktivitas pendidikan sesuai dengan latar belakang pendidikan, bakat, minat, kemampuan, kecepatan belajar, dan kebutuhan Konseli.
Pasal 3
Layanan Bimbingan dan Konseling memiliki tujuan membantu Konseli mencapai perkembangan optimal dan kemandirian secara utuh dalam aspek pribadi, belajar, sosial, dan karir.
Pasal 4
Layanan Bimbingan dan Konseling dilaksanakan dengan asas:
a. kerahasiaan sebagaimana diatur dalam kode etik Bimbingan dan Konseling;
b. kesukarelaan dalam mengikuti layanan yang diperlukan;
c. keterbukaan dalam memberikan dan menerima informasi;
d. keaktifan dalam penyelesaian masalah;
e. kemandirian dalam pengambilan keputusan;
f. kekinian dalam penyelesaian masalah yang berpengaruh pada kehidupan Konseli;
-4-
g. kedinamisan dalam memandang Konseli dan menggunakan teknik layanan sejalan dengan perkembangan ilmu Bimbingan dan Konseling;
h. keterpaduan kerja antarpemangku kepentingan pendidikan dalam membantu Konseli;
i. keharmonisan layanan dengan visi dan misi satuan pendidikan, serta nilai dan norma kehidupan yang berlaku di masyarakat;
j. keahlian dalam pelayanan yang didasarkan pada kaidah-kaidah akademik dan profesional di bidang Bimbingan dan Konseling;
k. Tut Wuri Handayani dalam memfasilitasi setiap peserta didik untuk mencapai tingkat perkembangan yang optimal.
Pasal 5
Layanan Bimbingan dan Konseling dilaksanakan berdasarkan prinsip:
a. diperuntukkan bagi semua dan tidak diskriminatif;
b. merupakan proses individuasi;
c. menekankan pada nilai yang positif;
d. merupakan tanggung jawab bersama antara kepala satuan pendidikan, Konselor atau guru Bimbingan dan Konseling, dan pendidik lainnya dalam satuan pendidikan;
e. mendorong Konseli untuk mengambil dan merealisasikan keputusan secara bertanggungjawab;
f. berlangsung dalam berbagai latar kehidupan;
g. merupakan bagian integral dari proses pendidikan;
h. dilaksanakan dalam bingkai budaya Indonesia;
i. bersifat fleksibel dan adaptif serta berkelanjutan;
j. dilaksanakan sesuai standar dan prosedur profesional Bimbingan dan Konseling; dan
k. disusun berdasarkan kebutuhan Konseli.
Pasal 6
(1) Komponen layanan Bimbingan dan Konseling memiliki 4 (empat) program yang mencakup:
a. layanan dasar;
b. layanan peminatan dan perencanaan individual;
c. layanan responsif; dan
d. layanan dukungan sistem.
(2) Bidang layanan Bimbingan dan Konseling mencakup:
a. bidang layanan pribadi;
b. bidang layanan belajar;
c. bidang layanan sosial; dan
d. bidang layanan karir.
(3) Komponen layanan Bimbingan dan Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan bidang layanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan ke dalam program tahunan dan semester dengan mempertimbangkan komposisi dan proporsi serta alokasi waktu layanan baik di dalam maupun di luar kelas.
-5-
(4) Layanan Bimbingan dan Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang diselenggarakan di dalam kelas dengan beban belajar 2 (dua) jam perminggu.
(5) Layanan Bimbingan dan Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang diselenggarakan di luar kelas, setiap kegiatan layanan disetarakan dengan beban belajar 2 (dua) jam perminggu.
Pasal 7
(1) Strategi layanan Bimbingan dan Konseling dibedakan atas:
a. jumlah individu yang dilayani;
b. permasalahan; dan
c. cara komunikasi layanan.
(2) Strategi layanan Bimbingan dan Konseling berdasarkan jumlah individu yang dilayani sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan melalui layanan individual, layanan kelompok, layanan klasikal, atau kelas besar.
(3) Strategi layanan Bimbingan dan Konseling berdasarkan permasalahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilaksanakan melalui pembimbingan, konseling, atau advokasi.
(4) Strategi layanan Bimbingan dan Konseling berdasarkan cara komunikasi layanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilaksanakan melalui tatap muka atau media.
Pasal 8
(1) Mekanisme layanan Bimbingan dan Konseling meliputi:
a. mekanisme pengelolaan; dan
b. mekanisme penyelesaian masalah.
(2) Mekanisme pengelolaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan langkah-langkah dalam pengelolaan program Bimbingan dan Konseling pada satuan pendidikan yang meliputi langkah: analisis kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut pengembangan program.
(3) Mekanisme penyelesaian masalah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan langkah-langkah yang dilakukan oleh Konselor dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling kepada Konseli atau peserta didik yang meliputi langkah: identifikasi, pengumpulan data, analisis, diagnosis, prognosis, perlakuan, evaluasi, dan tindak lanjut pelayanan.
(4) Program Bimbingan dan Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dievaluasi untuk mengetahui keberhasilan layanan dan pengembangan program lebih lanjut.
Pasal 9
(1) Layanan Bimbingan dan Konseling pada satuan pendidikan dilakukan oleh Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling.
(2) Tanggung jawab pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling pada satuan pendidikan dilakukan oleh Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling.
-6-
(3) Pada satuan pendidikan yang mempunyai lebih dari satu Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling kepala satuan pendidikan menugaskan seorang koordinator.
(4) Tanggung jawab pengelolaan program layanan Bimbingan dan Konseling pada satuan pendidikan dilakukan oleh kepala satuan pendidikan.
(5) Dalam melaksanakan layanan, Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling dapat bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan di dalam dan di luar satuan pendidikan.
(6) Pemangku kepentingan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) mendukung pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling yang dilakukan dalam bentuk antara lain: mitra layanan, sumber data/informasi, konsultan, dan narasumber melalui strategi layanan kolaborasi, konsultasi, kunjungan, ataupun alih-tangan kasus.
Pasal 10
(1) Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling pada SD/MI atau yang sederajat dilakukan oleh Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling.
(2) Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling pada SMP/MTs atau yang sederajat, SMA/MA atau yang sederajat, dan SMK/MAK atau yang sederajat dilakukan oleh Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling dengan rasio satu Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling melayani 150 orang Konseli atau peserta didik.
Pasal 11
(1) Guru Bimbingan dan Konseling dalam jabatan yang belum memiliki kualifikasi akademik Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan kompetensi Konselor, secara bertahap ditingkatkan kompetensinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(2) Calon Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling harus memiliki kualifikasi akademik Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan telah lulus pendidikan profesi Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor.
Pasal 12
(1) Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling menggunakan Pedoman Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah yang tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(2) Pedoman Bimbingan dan Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (1) perlu diatur lebih rinci dalam bentuk panduan operasional layanan Bimbingan dan Konseling.
(3) Panduan operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disusun dan ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar atau Direktur Jenderal Pendidikan Menengah sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 13
Semua ketentuan tentang bimbingan dan konseling pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah dalam Peraturan Menteri yang sudah ada sebelum Peraturan Menteri ini berlaku, tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri ini.
-7-
Pasal 14
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 8 Oktober 2014
MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
REPUBLIK INDONESIA,
TTD.
MOHAMMAD NUH
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 14 Oktober 2014
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
TTD.
AMIR SYAMSUDIN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 NOMOR 1544
Salinan sesuai dengan aslinya, Kepala Biro Hukum dan Organisasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
TTD.
Ani Nurdiani Azizah
NIP 195812011985032001

Tinggalkan komentar

Filed under Dunia Konseling

Pedoman BK

-1-
SALINAN
LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 111 TAHUN 2014
TENTANG
BIMBINGAN DAN KONSELINGPADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH.
PEDOMAN BIMBINGAN DAN KONSELING
I. PENDAHULUAN
Pada Abad ke-21, setiap peserta didik dihadapkan pada situasi kehidupan yang kompleks, penuh peluang dan tantangan serta ketidakmenentuan. Dalam konstelasi kehidupan tersebut setiap peserta didik memerlukan berbagai kompetensi hidup untuk berkembang secara efektif, produktif, dan bermartabat serta bermaslahat bagi diri sendiri dan lingkungannya.
Pengembangan kompetensi hidup memerlukan sistem layanan pendidikan pada satuan pendidikan yang tidak hanya mengandalkan layanan pembelajaran mata pelajaran/bidang studi dan manajemen saja, tetapi juga layanan khusus yang bersifat psiko-edukatif melalui layanan bimbingan dan konseling. Berbagai aktivitas bimbingan dan konseling dapat diupayakan untuk mengembangkan potensi dan kompetensi hidup peserta didik/konseli yang efektif serta memfasilitasi mereka secara sistematik, terprogram, dan kolaboratif agar setiap peserta didik/konseli betul-betul mencapai kompetensi perkembangan atau pola perilaku yang diharapkan.
Kurikulum 2013 memuat program peminatan peserta didik yang merupakan suatu proses pemilihan dan pengambilan keputusan oleh peserta didik yang didasarkan atas pemahaman potensi diri dan peluang yang ada pada satuan pendidikan. Muatan peminatan peserta didik meliputi peminatan kelompok mata pelajaran, mata pelajaran, lintas peminatan, pendalaman peminatan dan ekstra kurikuler. Dalam konteks tersebut, layanan bimbingan dan konseling membantu peserta didik untuk memahami, menerima, mengarahkan, mengambil keputusan, dan merealisasikan keputusan dirinya secara bertanggungjawab sehingga mencapai kesuksesan, kesejahteraan dan kebahagiaan dalam kehidupannya. Di samping itu, bimbingan dan konseling membantu peserta didik/konseli dalam memilih, meraih dan mempertahankan karir untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera.
Sesuai dengan arah dan spirit Kurikulum 2013, paradigma bimbingan dan konseling memandang bahwa setiap peserta didik/konseli memiliki potensi untuk berkembang secara optimal. Perkembangan optimal bukan sebatas tercapainya prestasi sesuai dengan kapasitas intelektual dan minat yang dimiliki, melainkan sebagai sebuah kondisi perkembangan yang memungkinkan peserta didik mampu mengambil pilihan dan keputusan secara sehat dan bertanggungjawab serta memiliki daya adaptasi tinggi terhadap dinamika kehidupan yang dihadapinya.
-2-
Setiap peserta didik/konseli satu dengan lainnya berbeda dalam hal kecerdasan, bakat, minat, kepribadian, kondisi fisik dan latar belakang keluarga serta pengalaman belajarnya. Perbedaan tersebut menggambarkan adanya variasi kebutuhan pengembangan secara utuh dan optimal melalui layanan bimbingan dan konseling. Layanan bimbingan dan konseling mencakup kegiatan yang bersifat pencegahan, perbaikan dan penyembuhan, pemeliharaan dan pengembangan.
Layanan bimbingan dan konseling dalam implementasi kurikulum 2013 dilaksanakan oleh konselor atau guru bimbingan dan konseling sesuai dengan tugas pokoknya dalam upaya membantu tercapainya tujuan pendidikan nasional, dan khususnya membantu peserta didik/konseli mencapai perkembangan diri yang optimal, mandiri, sukses, sejahtera dan bahagia dalam kehidupannya. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan kolaborasi dan sinergisitas kerja antara konselor atau guru bimbingan dan konseling, guru mata pelajaran, pimpinan sekolah/madrasah, staf administrasi, orang tua, dan pihak lainyang dapat membantu kelancaran proses dan pengembangan peserta didik/konseli secara utuh dan optimal dalam bidang pribadi, sosial, belajar, dan karir.
II. TUJUAN
Pedoman ini dimaksudkan untuk memberi arah penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling dalam implementasi kurikulum 2013. Secara khusus bertujuan untuk:
1. Memfasilitasi Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling dalam merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan tindak lanjut layanan bimbingan dan konseling;
2. Memberi acuan dalam mengembangkan program layanan bimbingan dan konseling secara utuh dan optimal dengan memperhatikan hasil evaluasi dan daya dukung sarana dan prasarana yang dimiliki;
3. Memberi acuan dalam monitoring, evaluasi dan supervisi penyelenggaraan bimbingan dan konseling.
III. PENGGUNA
Pengguna pedoman ini mencakup pihak-pihak sebagai berikut.
1. Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling;
2. Pimpinan satuan pendidikan;
3. Dinas pendidikan atau kantor kementerian agama provinsi dan kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya;
4. Pengawas pendidikan dan pengawas bimbingan dan konseling;
5. Lembaga pendidikan calon guru bimbingan dan konseling atau konselor;
6. Organisasi profesi bimbingan dan konseling; dan
7. Komite sekolah/madrasah.
-3-
IV. LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
Bimbingan dan konseling sebagai layanan profesional pada satuan pendidikan dilakukan olehtenaga pendidik profesional yaitu Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling. Konselor adalah seseorang yang berkualifikasi akademik Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan telah lulus Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling/ Konselor.Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling yangdihasilkan Lembaga Pendidikan Tinggi Kependidikan (LPTK) dapat ditugasi sebagai Guru Bimbingan dan Konseling untuk menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan.
Guru Bimbingan dan Konseling yang bertugas pada satuan pendidikan tetapi belum memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi yang ditentukan, secara bertahap ditingkatkan kualifikasi akademik dan kompetensinya sehingga mencapai standar yang ditentukan sebagaimana yang diatur dalam Permendiknas Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor yaitu Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan telah lulus Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor.
Program Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor (PPGBK/K) menghasilkan tenaga pendidik profesional dalam bidang bimbingan dan konseling/ Konselor. Kurikulum pendidikan profesi guru bimbingan dan konseling sama dengan kurikulum pendidikan profesi konselor, dengan demikian lulusan program PPGBK/K menghasilkan pendidik profesional dalam bidang bimbingan dan konseling yang disebut konselor atau guru bimbingan dan konseling yang dianugerahi gelar Gr.Kons.
A. Pengertian
Pengertian beberapa istilah yang terdapat dalam pedoman ini sebagai berikut.
1. Bimbingan dan Konselingsebagai bagian integral dari pendidikan adalah upaya memfasilitasi dan memandirikan peserta didik dalam rangka tercapainya perkembangan yang utuh dan optimal.
2. Layanan Bimbingan dan Konseling adalah upaya sistematis, objektif, logis, dan berkelanjutan serta terprogram yang dilakukan oleh konselor atau guru Bimbingan dan Konseling untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik/Konseli untuk mencapai kemandirian, dalam wujud kemampuan memahami, menerima, mengarahkan, mengambil keputusan, dan merealisasikan diri secara bertanggung jawab sehingga mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan dalam kehidupannya.
Layanan bimbingan dan konseling dilaksanakan secara langsung (tatap muka) antara guru bimbingan dan konseling atau konselor dengan konseli dan tidak langsung (menggunakan media tertentu), dan diberikan secara individual (jumlah peserta didik/konseli yang dilayani satu orang), kelompok (jumlah peserta didik/konseli yang dilayani lebih dari satu orang), klasikal (jumlah peserta didik/konseli yang dilayani lebih dari satuan kelompok), dan kelas besar atau
-4-
lintas kelas (jumlah peserta didik/konseli yang dilayani lebih dari satuan klasikal).
3. Konselor adalah pendidik profesional yang berkualifikasi akademik minimal Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang Bimbingan dan Konseling dan telah lulus Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling/ Konselor.
4. Guru Bimbingan dan Konseling adalah pendidik yang berkualifikasi akademik minimal Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang Bimbingan dan Konseling dan memiliki kompetensi di bidang Bimbingan dan Konseling.
5. Konseli adalah penerima layanan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikandalam rangka realisasi tugas-tugas perkembangan secara utuh dan optimalserta mencapaikemandirian dalam kehidupannya.
6. Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling di satuan pendidikan bertugas merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan melakukan tindak lanjut layanan bimbingan dan konseling.
B. Fungsi dan Tujuan Bimbingan dan Konseling
1. Fungsi layanan bimbingan dan konseling terdiri dari;
a. Pemahaman yaitu membantu konseli agar memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, budaya, dan norma agama).
b. Fasilitasi yaitu memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek pribadinya.
c. Penyesuaian yaitu membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri sendiri dan dengan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
d. Penyaluran yaitu membantu konseli merencanakan pendidikan, pekerjaan dan karir masa depan, termasuk juga memilih program peminatan, yang sesuai dengan kemampuan, minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadiannya.
e. Adaptasi yaitu membantu para pelaksana pendidikan termasuk kepala satuan pendidikan, staf administrasi,dan guru mata pelajaran atau guru kelas untuk menyesuaikan program dan aktivitas pendidikan dengan latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan peserta didik/konseli.
f. Pencegahan yaitu membantu peserta didik/konseli dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan timbulnya masalah dan berupaya untuk mencegahnya, supaya peserta didik/konseli tidak mengalami masalah dalam kehidupannya.
g. Perbaikan dan Penyembuhan yaitu membantu peserta didik/konseli yang bermasalah agar dapat memperbaiki kekeliruan berfikir, berperasaan, berkehendak, dan bertindak. Konselor atau guru bimbingan dan konseling melakukan
-5-
memberikan perlakuan terhadap konseli supaya memiliki pola fikir yang rasional dan memiliki perasaan yang tepat, sehingga konseli berkehendak merencanakan dan melaksanakan tindakan yang produktif dan normatif.
h. Pemeliharaan yaitu membantu peserta didik/konseli supaya dapat menjaga kondisi pribadi yang sehat-normal dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya.
i. Pengembangan yaitu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan peserta didik/konseli melalui pembangunan jejaring yang bersifat kolaboratif.
j. Advokasi yaitu membantu peserta didik/konseli berupa pembelaan terhadap hak-hak konseli yang mengalami perlakuan diskriminatif.
2. Tujuan layanan bimbingan dan konseling
Tujuan umum layanan bimbingan dan konseling adalah membantu peserta didik/konseli agar dapat mencapai kematangan dan kemandirian dalam kehidupannya serta menjalankan tugas-tugas perkembangannya yang mencakup aspek pribadi, sosial, belajar, karir secara utuh dan optimal. Tujuan khusus layanan bimbingan dan konseling adalah membantu konseli agar mampu: (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya; (2) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir dan kehidupannya di masa yang akan datang; (3) mengembangkan potensinya seoptimal mungkin; (4) menyesuaikan diri dengan lingkungannya; (5) mengatasi hambatan atau kesulitan yang dihadapi dalam kehidupannya dan (6) mengaktualiasikan dirinya secara bertanggung jawab.
C. Asas dan Prinsip Bimbingan dan Konseling
1. Asas layanan bimbingan dan konseling
a. Kerahasiaan yaitu asas layanan yang menuntut konselor atau guru bimbingan dan konseling merahasiakan segenap data dan keterangan tentang peserta didik/konseli, sebagaimana diatur dalam kode etik bimbingan dan konseling.
b. Kesukarelaan, yaitu asas kesukaan dan kerelaan peserta didik/konseli mengikuti layanan yang diperlukannya.
c. Keterbukaan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang bersifat terbuka dan tidak berpura-pura dalam memberikan dan menerima informasi.
d. Keaktifan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik/konseli memerlukan keaktifan dari kedua belah pihak.
-6-
e. Kemandirian yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang merujuk pada tujuan agar peserta didik/ konseli mampu mengambil keputusan pribadi, sosial, belajar, dan karir secara mandiri.
f. Kekinian yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang berorientasi pada perubahan situasi dan kondisi masyarakat di tingkat lokal, nasional dan global yang berpengaruh kuat terhadap kehidupan peserta didik/konseli.
g. Kedinamisan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang berkembang dan berkelanjutan dalam memandang tentang hakikat manusia, kondisi-kondisi perubahan perilaku, serta proses dan teknik bimbingan dan konseling sejalan perkembangan ilmu bimbingan dan konseling.
h. Keterpaduan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang terpadu antara tunjuan bimbingan dan konseling dengan tujuan pendidikan dan nilai – nilai luhur yang dijunjung tinggi dan dilestarikan oleh masyarakat.
i. Keharmonisan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang selaras dengan visi dan misi sekolah, nilai dan norma kehidupan yang berlaku di masyarakat.
j. Keahlian yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling berdasarkan atas kaidah-kaidah akademik dan etika profesional, dimana layanan bimbingan dan konseling hanya dapat diampu oleh tenaga ahli bimbingan dan konseling.
k. Tut wuri handayani yaitu suatu asas pendidikan yang mengandung makna bahwa konseloratau guru bimbingan dan konseling sebagai pendidik harus memfasilitasi setiap peserta didik/konseli untuk mencapai tingkat perkembangan yang utuh dan optimal.
2. Prinsip bimbingan dan konseling
a. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua peserta didik/konseli dan tidak diskriminatif. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua peserta didik/konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa tanpa diskriminatif.
b. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap peserta didik bersifat unik (berbeda satu sama lainnya) dan dinamis, dan melalui bimbingan peserta didik/konseli dibantu untuk menjadi dirinya sendiri secara utuh.
c. Bimbingan dan konseling menekankan nilai-nilai positif. Bimbingan dan konseling merupakan upaya memberikan bantuan kepada konseli untuk membangun pandangan positif dan mengembangkan nilai-nilai positif yang ada pada dirinya dan
-7-
lingkungannya.
d. Bimbingan dan konseling merupakan tanggung jawab bersama. Bimbingan dan konseling bukan hanya tanggung jawab konselor atau guru bimbingan dan konseling, tetapi tanggungjawab guru-guru dan pimpinan satuan pendidikan sesuai dengan tugas dan kewenangan serta peran masing-masing.
e. Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk membantu peserta didik/konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan serta merealisasikan keputusannya secara bertanggungjawab.
f. Bimbingan dan konseling berlangsung dalam berbagai setting (adegan) kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya berlangsung pada satuan pendidikan, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya.
g. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan. Penyelenggaraan bimbingan dan konseling tidak terlepas dari upaya mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
h. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dalam bingkai budaya Indonesia. Interaksi antar guru bimbingan dan konseling atau konselor dengan peserta didik harus senantiasa selaras dan serasi dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh kebudayaan dimana layanan itu dilaksanakan.
i. Bimbingan dan konseling bersifat fleksibel dan adaptif serta berkelanjutan. Layanan bimbingan dan konseling harus mempertimbangkan situasi dan kondisi serta daya dukung sarana dan prasarana yang tersedia.
j. Bimbingan dan konseling diselenggarakan oleh tenaga profesional dan kompeten. Layanan bimbingan dan konseling dilakukan oleh tenaga pendidik profesional yaitu Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling yang berkualifikasi akademik Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan telah lulus Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dari Lembaga Pendidikan Tinggi Kependidikan yang terakreditasi.
k. Program bimbingan dan konseling disusun berdasarkan hasil analisis kebutuhan peserta didik/konseli dalam berbagai aspek perkembangan.
l. Program bimbingan dan konseling dievaluasi untuk mengetahui keberhasilan layanan dan pengembangan program lebih lanjut.
D. Komponen Bimbingan dan Konseling
Layanan bimbingan dan konseling sebagai layanan profesional yang diselenggarakan pada satuan pendidikan mencakup komponen program, bidang layanan, struktur dan program layanan, kegiatan dan alokasi waktu layanan. Komponen program meliputi layanan dasar, layanan peminatan dan perencanaan individual, layanan responsif, dan
-8-
dukungan sistem, sedangkan bidang layanan terdiri atas bidang layanan pribadi, sosial, belajar, dan karir.
Komponen program dan bidang layanan dituangkan ke dalam program tahunan dan semesteran dengan mempertimbangkan komposisi, proporsi dan alokasi waktu layanan, baik di dalam maupun di luar kelas.
Program kerja layanan bimbingan dan konseling disusun berdasarkan hasil analisis kebutuhan peserta didik/konseli dan struktur program dengan menggunakan sistematika minimal meliputi: rasional, visi dan misi, deskripsi kebutuhan, komponen program, bidang layanan, rencana operasional, pengembangan tema/topik, pengembangan RPLBK, evaluasi-pelaporan-tindak lanjut, dan anggaran biaya.
1. Komponen Program
Layanan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan secara keseluruhan dikemas dalam empat komponen layanan, yaitu komponen: (a) layanan dasar, (b) layanan peminatan dan perencanaan individual, (c) layanan responsif, dan (d) dukungan sistem.
a. Layanan Dasar
1) Pengertian
Layanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis dalam rangka mengembangkan kemampuan penyesuaian diri yang efektif sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian).
2) Tujuan
Layanan dasar bertujuan membantu semua konseli agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan hidup, atau dengan kata lain membantu konseli agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya secara optimal. Secara rinci tujuan pelayanan ini dapat dirumuskan sebagai upaya untuk membantu konseli agar (1) memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama), (2) mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya, (3) mampu memenuhi kebutuhan dirinya dan mampu mengatasi masalahnya sendiri, dan (4) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.
Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling dalam komponen layanan dasar antara lain; asesmen kebutuhan, bimbingan klasikal, bimbingan kelompok, pengelolaan media informasi, dan layanan bimbingan dan konseling lainnya.
-9-
3) Fokus Pengembangan
Untuk mencapai tujuan tersebut, fokus pengembangan kegiatan yang dilakukan diarahkan pada perkembangan aspek-aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Semua ini berkaitan erat dengan upaya membantu peserta didik/konseli dalam upaya mencapai tugas-tugas perkembangan dan tercapainya kemandirian dalam kehidupannya.
b. Layanan Peminatan dan Perencanaan Individual
1) Pengertian
Peminatan adalah program kurikuler yang disediakan untuk mengakomodasi pilihan minat, bakat dan/atau kemampuan peserta didik/konseli dengan orientasi pemusatan, perluasan, dan/atau pendalaman mata pelajaran dan/atau muatan kejuruan.Peminatan peserta didik dalam Kurikulum 2013 mengandung makna: (1) suatu pembelajaran berbasis minat peserta didik sesuai kesempatan belajar yang ada dalam satuan pendidikan; (2) suatu proses pemilihan dan penetapan peminatan belajar yang ditawarkan oleh satuan pendidikan; (3) merupakan suatu proses pengambilan pilihan dan keputusan oleh peserta didik tentang peminatan belajar yang didasarkan atas pemahaman potensi diri dan pilihan yang tersedia pada satuan pendidikan serta prospek peminatannya; (4)merupakan proses yang berkesinambungan untuk memfasilitasi peserta didik mencapai keberhasilan proses dan hasil belajar serta perkembangan optimal dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional; dan (5) layanan peminatan peserta didik merupakan wilayah garapan profesi bimbingan dan konseling, yang tercakup pada layanan perencanaan individual.Layanan Perencanaan individual adalah bantuan kepada peserta didik/konseli agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas-aktivitas sistematik yang berkaitan dengan perencanaan masa depan berdasarkan pemahaman tentang kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman terhadap peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Pemahaman konseli secara mendalam, penafsiran hasil asesmen, dan penyediaan informasi yang akurat sesuai dengan peluang dan potensi yang dimiliki konseli amat diperlukan sehingga peserta didik/konseli mampu memilih dan mengambil keputusan yang tepat di dalam mengembangkan potensinya secara optimal, termasuk keberbakatan dan kebutuhan khusus peserta didik/konseli.
2) Tujuan
Peminatan dan perencanaan individual secara umum bertujuan untuk membantu konseli agar (1) memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya, (2) mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial,
-10-
belajar, maupun karir, dan (3) dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya. Tujuan peminatan dan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya memfasilitasi peserta didik/konseli untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola rencana pendidikan, karir, dan pengembangan pribadi- sosial oleh dirinya sendiri.
Isi layanan perencanaan individual meliputi memahami secara khusus tentang potensi dan keunikan perkembangan dirinya sendiri.Dengan demikian meskipun peminatan dan perencanaan individual ditujukan untuk seluruh peserta didik/konseli, layanan yang diberikan lebih bersifat individual karena didasarkan atas perencanaan, tujuan dan keputusan yang ditentukan oleh masing-masing peserta didik/konseli.
Layanan peminatan peserta didik secara khusus ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik mengembangkan kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan peserta didik sesuai dengan minat, bakat dan/atau kemampuan akademik dalam sekelompok mata pelajaran keilmuan, maupun kemampuan dalam bidang keahlian, program keahlian, dan paket keahlian.
3) Fokus Pengembangan
Fokus pengembangan layanan peminatan peserta didik diarahkan pada kegiatan meliputi; (1) pemberian informasi program peminatan; (2)melakukan pemetaan dan penetapan peminatan peserta didik (pengumpulan data, analisis data, interpretasi hasil analisis data dan penetapan peminatan peserta didik); (3) layanan lintas minat; (4) layanan pendalaman minat; (5)layanan pindah minat; (6) pendampingan dilakukan melalui bimbingan klasikal, bimbingankelompok, konseling individual, konseling kelompok, dan konsultasi, (7) pengembangan dan penyaluran; (8) evaluasi dan tindak lanjut. Konselor atau guru bimbingan dan konseling berperan penting dalam layanan peminatan peserta didik dalam implementasi kurikulum 2013 dengan cara merealisasikan 8 (delapan) kegiatan tersebut. Dalam penetapan peminatan peserta didik/konseli SMTA memperhatikan data tentangnilai rapor SMP/MTs atau yang sederajat, nilai Ujian Nasional SMP/MTs atau yang sederajat, minat peserta didik dengan persetujuan orang tua/wali, dan rekomendasi guru Bimbingan dan Konseling/Konselor SMP/MTs atau yang sederajat. Untuk menuju peminatan peserta didik/konseli yang tepat memerlukan arahan semenjak usia dini, dan secara sistematis dapat dimulai semenjak menempuh pendidikan formal.
Fokus perencanaan individual berkaitan erat dengan pengembangan aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Secara rinci cakupan fokus tersebut antara lain mencakup pengembangan aspek:(1) pribadi yaitu tercapainya pemahaman diri dan pengembangan konsep diri yang positif, (2) sosial yaitu tercapainya pemahaman lingkungan dan pengembangan keterampilan sosial yang efektif, (3) belajar yaitu tercapainya
-11-
efisiensi dan efektivitas belajar, keterampilan belajar, dan peminatan peserta didik/konseli secara tepat, dan (4) karir yaitu tercapainya kemampuan mengeksplorasi peluang-peluang karir, mengeksplorasi latihan pekerjaan, memahami kebutuhan untuk kebiasaan bekerja yang positif.
c. Layanan Responsif
1) Pengertian
Layanan responsif adalah pemberian bantuan kepada peserta didik/konseli yang menghadapi masalah dan memerlukan pertolongan dengan segera, agar peserta didik/konseli tidak mengalami hambatan dalam proses pencapaian tugas-tugas perkembangannya. Strategi layanan responsif diantaranya konseling individual, konseling kelompok, konsultasi, kolaborasi, kunjungan rumah, dan alih tangan kasus (referral).
2) Tujuan
Layanan responsif bertujuan untuk membantu peserta didik/konseli yang sedang mengalami masalah tertentu menyangkut perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir. Bantuan yang diberikan bersifat segera, karena dikhawatirkan dapat menghambat perkembangan dirinya dan berlanjut ke tingkat yang lebih serius. Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling hendaknya membantu peserta didik/konseli untuk memahami hakikat dan ruang lingkup masalah, mengeksplorasi dan menentukan alternatif pemecahan masalah yang terbaik melalui proses interaksi yang unik. Hasil dari layanan ini, peserta didik/konseli diharapkan dapat mengalami perubahan pikiran, perasaa, kehendak, atau perilaku yang terkait dengan perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir.
3) Fokus Pengembangan
Fokus layanan responsif adalah pemberian bantuan kepada peserta didik/konseli yang secara nyata mengalami masalah yang mengganggu perkembangan diri dan secara potensial menghadapi masalah tertentu namun dia tidak menyadari bahwa dirinya memiliki masalah. Masalah yang dihadapi dapat menyangkut ranah pribadi, sosial, belajar, atau karir. Jika tidak mendapatkan layanan segera dari Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling maka dapat menyebabkan peserta didik/konseli mengalami penderitaan, kegagalan, bahkan mengalami gangguan yang lebih serius atau lebih kompleks. Masalah peserta didik/konseli dapat berkaitan dengan berbagai hal yang dirasakan mengganggu kenyamanan hidup atau menghambat perkembangan diri konseli, karena tidak terpenuhi kebutuhannya, atau gagal dalam mencapai tugas-tugas perkembangan.
Untuk memahami kebutuhan dan masalah peserta didik/konseli dapat diperoleh melalui asesmen kebutuhan dan analisis perkembangan peserta didik/konseli, dengan
-12-
menggunakan berbagai instrumen, misalnya angket konseli, pedoman wawancara, pedoman observasi, angket sosiometri, daftar hadir peserta didik/konseli, leger, inventori tugas-tugas perkembangan (ITP), psikotes dan alat ungkap masalah (AUM).
d. Dukungan Sistem
1) Pengertian
Ketiga komponen program (layanan dasar, layanan peminatan dan perencanan individual, dan responsif) sebagaimana telah disebutkan sebelumnya merupakan pemberian layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik/konseli secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infrastruktur (misalnya Teknologi Informasi dan Komunikasi), dan pengembangan kemampuan profesional konselor atau guru bimbingan dan konseling secara berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada peserta didik/konseli atau memfasilitasi kelancaran perkembangan peserta didik/konseli dan mendukung efektivitas dan efisiensi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling.
2) Tujuan
Komponen program dukungan sistem bertujuan memberikan dukungan kepada konselor atau guru bimbingan dan konseling dalam memperlancar penyelenggaraan komponen-komponen layanan sebelumnya dan mendukung efektivitas dan efisiensi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. Sedangkan bagi personel pendidik lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan pada satuan pendidikan.
Dukungan sistem meliputi kegiatan pengembangan jejaring, kegiatan manajemen, pengembangan keprofesian secara berkelanjutan.
3) Fokus Pengembangan
Pengembangan jejaring menyangkut kegiatan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang meliputi (1) konsultasi, (2) menyelenggarakan program kerjasama, (3) berpartisipasi dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan satuan pendidikan, (4) melakukan penelitian dan pengembangan. Suatu program layanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan terselenggara dan tujuannya tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah.
Pengembangan keprofesian berkelanjutan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan secara utuh diarahkan untuk memberikan kesempatan kepada Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi melalui serangkaian pendidikan dan pelatihan dalam jabatan maupun kegiatan-kegiatan pengembangan
-13-
dalam organisasi profesi Bimbingan dan Konseling, baik di tingkat pusat, daerah, dan kelompok musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling. Melalui kegiatan tersebut, peningkatan kapasitas dan kompetensi Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling dapat mendorong meningkatnya kualitas layanan bimbingan dan konseling.
2. Bidang Layanan
Bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan mencakup empat bidang layanan, yaitu bidang layanan yang memfasilitasi perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir. Pada hakikatnya perkembangan tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dalam setiap diri individu peserta didik/konseli.
a. Bimbingan dan konseling pribadi
1) Pengertian
Suatu proses pemberian bantuan dari konselor atau guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik/konseli untuk memahami, menerima, mengarahkan, mengambil keputusan, dan merealisasikan keputusannya secara bertanggung jawab tentang perkembangan aspek pribadinya, sehingga dapat mencapai perkembangan pribadinya secara optimal dan mencapai kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan dalam kehidupannya.
2) Tujuan
Bimbingan dan konseling pribadi dimaksudkan untuk membantu peserta didik/konseli agar mampu (1) memahami potensi diri dan memahami kelebihan dan kelemahannya, baik kondisi fisik maupun psikis, (2) mengembangkan potensi untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupannya, (3) menerima kelemahan kondisi diri dan mengatasinya secara baik, (4) mencapai keselarasan perkembangan antara cipta-rasa-karsa, (5) mencapai kematangan/kedewasaan cipta-rasa-karsa secara tepat dalam kehidupanya sesuai nilai-nilai luhur, dan (6) mengakualisasikan dirinya sesuai dengan potensi diri secara optimal berdasarkan nilai-nilai luhur budaya dan agama.
3) Ruang Lingkup
Secara garis besar, lingkup materi bimbingan dan konseling pribadi meliputi pemahaman diri, pengembangan kelebihan diri, pengentasan kelemahan diri, keselarasan perkembangan cipta-rasa-karsa, kematangan/kedewasaan cipta-rasa-karsa, dan aktualiasi diri secara bertanggung jawab. Materi bimbingan dan konseling pribadi tersebut dapat dirumuskan berdasarkan analisis kebutuhan pengembangan diri peserta didik, kebijakan pendidikan yang diberlakukan, dan kajian pustaka.
-14-
b. Bimbingan dan konseling sosial
1) Pengertian
Suatu proses pemberian bantuan dari konselor kepada peserta didik/konseli untuk memahami lingkungannya dan dapat melakukan interaksi sosial secara positif, terampil berinteraksi sosial, mampu mengatasi masalah-masalah sosial yang dialaminya, mampu menyesuaikan diri dan memiliki keserasian hubungan dengan lingkungan sosialnya sehingga mencapai kebahagiaan dan kebermaknaan dalam kehidupannya.
2) Tujuan
Bimbingan dan konseling sosial bertujuan untuk membantu peserta didik/konseli agar mampu (1) berempati terhadap kondisi orang lain, (2) memahami keragaman latar sosial budaya, (3) menghormati dan menghargai orang lain, (4) menyesuaikan dengan nilai dan norma yang berlaku, (5) berinteraksi sosial yang efektif, (6) bekerjasama dengan orang lain secara bertanggung jawab, dan (8) mengatasi konflik dengan orang lain berdasarkan prinsip yang saling menguntungkan.
3) Ruang Lingkup
Secara umum, lingkup materi bimbingan dan konseling sosial meliputi pemahaman keragaman budaya, nilai-nilai dan norma sosial, sikap sosial positif (empati, altruistis, toleran, peduli, dan kerjasama), keterampilan penyelesaian konflik secara produktif, dan keterampilan hubungan sosial yang efektif.
c. Bimbingan dan konseling belajar
1) Pengertian
Proses pemberian bantuan konselor atau guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik/ konseli dalam mengenali potensi diri untuk belajar, memiliki sikap dan keterampilan belajar, terampil merencanakan pendidikan, memiliki kesiapan menghadapi ujian, memiliki kebiasaan belajar teratur dan mencapai hasil belajar secara optimal sehingga dapat mencapai kesuksesan, kesejahteraan, dan kebahagiaan dalam kehidupannya.
2) Tujuan
Bimbingan dan konseling belajar bertujuan membantu peserta didik untuk (1) menyadari potensi diri dalam aspek belajar dan memahami berbagai hambatan belajar; (2) memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif; (3) memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat; (4) memiliki keterampilan belajar yang efektif; (5) memiliki keterampilan perencanaan dan penetapan pendidikan selanjutnya; dan (6) memiliki kesiapan menghadapi ujian.
-15-
3) Ruang Lingkup
Lingkup bimbingan dan konseling belajar terdiri atas sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang menunjang efisiensi dan keefektivan belajar pada satuan pendidikan dan sepanjang kehidupannya; menyelesaikan studi pada satuan pendidikan, memilih studi lanjut, dan makna prestasi akademik dan non akademik dalam pendidikan, dunia kerja dan kehidupan masyarakat.
d. Bimbingan dan konseling karir
1) Pengertian
Proses pemberian bantuan konselor atau guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik/ konseli untuk mengalami pertumbuhan, perkembangan, eksplorasi, aspirasi dan pengambilan keputusan karir sepanjang rentang hidupnya secara rasional dan realistis berdasar informasi potensi diri dan kesempatan yang tersedia di lingkungan hidupnya sehingga mencapai kesuksesan dalam kehidupannya.
2) Tujuan
Bimbingan dan konseling karir bertujuan menfasilitasi perkembangan, eksplorasi, aspirasi dan pengambilan keputusan karir sepanjang rentang hidup peserta didik/konseli. Dengan demikian, peserta didik akan (1) memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan; (2) memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir; (3) memiliki sikap positif terhadap dunia kerja; (4) memahami relevansi kemampuan menguasai pelajaran dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan; (5) memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, persyaratan kemampuan yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja; memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi; membentuk pola-pola karir; mengenal keterampilan, kemampuan dan minat; memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.
3) Ruang Lingkup
Ruang lingkup bimbingan karir terdiri atas pengembangan sikap positif terhadap pekerjaan, pengembangan keterampilan menempuh masa transisi secara positif dari masa bersekolah ke masa bekerja, pengembangan kesadaran terhadap berbagai pilihan karir, informasi pekerjaan, ketentuan sekolah dan pelatihan kerja, kesadaran akan hubungan beragam tujuan hidup dengan nilai, bakat, minat, kecakapan, dan kepribadian masing-masing. Untuk itu secara berurutan
-16-
dan berkesinambungan, kompetensi karir peserta didik difasilitasi bimbingan dan konseling dalam setiap jenjang pendidikan dasar dan menengah.
3. Struktur Program Layanan
a. Sistematika Program layanan.
Program layanan bimbingan dan konseling di satuan pendidikan disusun sekurang-kurangnya dengan menggunakan sistematika sebagai berikut.
1) Rasional
Perlu dirumuskan dasar pemikiran tentang urgensi bimbingan dan konseling dalam keseluruhan program satuan pendidikan. Rumusan konsep dasar kaitan antara bimbingan dan konseling dengan pembelajaran/implementasi kurikulum, dampak perkembangan iptek dan konteks sosial budaya hidup masyarakat (termasuk peserta didik), dan hal-hal lain yang dianggap relevan.
2) Visi dan Misi
Sajian visi dan misi bimbingan dan konseling harus sesuai dengan visi dan misi sekolah/madrasah, oleh karena itu sajikan visi dan misi sekolah/madrasah kemudian rumuskan visi dan misi program layanan bimbingan dan konseling.
3) Deskripsi Kebutuhan
Rumusan didasarkan atas hasil asesmen kebutuhan (need assessment) peserta didik/konseli dan lingkungannya ke dalam rumusan perilaku-perilaku yang diharapkan dikuasai peserta didik/konseli.
4) Tujuan
Rumusan tujuan yang akan dicapai disusun dalam bentuk perilaku yang harus dikuasai peserta didik/ konseli setelah memperoleh layanan bimbingan dan konseling.
5) Komponen Program.
Komponen program bimbingan dan konseling di satuan pendidikan meliputi: (1) Layanan Dasar, (2) Layanan Peminatanan peserta didik dan Perencanaan Individual (3) Layanan Responsif, dan (4) Dukungan sistem.
6) Bidang layanan
Bidang layanan bimbingan dan konseling meliputi pribadi, sosial, belajar dan karir. Materi layanan bimbingan klasikal disajikan secara proporsional sesuai dengan hasil asesmen kebutuhan 4 (empat) bidang layanan.
-17-
7) Rencana Operasional (Action Plan)
Rencana kegiatan (action plans) diperlukan untuk menjamin program bimbingan dan konseling dapat dilaksanakan secara efektif dan efesien. Rencana kegiatan adalah uraian detil dari program yang menggambarkan struktur isi program, baik kegiatan untuk memfasilitasi peserta didik/konseli mencapai kemandirian dalam kehidupannya.
8) Pengembangan Tema/Topik.
Tema/topik ini merupakan rincian lanjut dari identifikasi diskripsi kebutuhan peserta didik dalam aspek perkembangan pribadi, sosial, belajar dan karir.
Pengembangan Rencana Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling (RPLBK).
RPLBK dikembangkan sesuai dengan tema/topikdan sistematika yang diatur dalam panduan penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan.
9) Evaluasi, pelaporan dan tindak lanjut.
Rencana evaluasiperkembangan peserta didik/konseli didasarkan pada rumusan tujuan yang ingin dicapai dari layanan yang dilakukan. Di samping itu, perlu dilakukan evaluasi keterlaksanaan program, dan hasilnya sebagai bentuk akuntabilitas layanan bimbingan dan konseling. Hasil eveluasi harus dilaporkan dan diakhiri dengan rekomendasi tentang tindak lanjut pengembangan program selanjutnya.
10) Anggaran biaya.
Rencana anggaran biaya untuk mendukung implementasi program layanan bimbingan dan konseling disusun secara realistik dan dapat dipertanggungjawabkan secara transparan. Rancangan biaya dapat memuat kebutuhan biaya operasional layanan bimbingan dan konseling dan pengembangan profesi bimbingan dan konseling.
b. Program Layanan
Program layanan bimbingan dan konseling disusun dan diselenggarakan sebagai berikut.
1) Program Tahunan, yaitu program layanan bimbingan dan konseling meliputi kegiatan mencakup komponen, strategi dan bidang layanan selama satu tahun ajaran untuk masing-masing kelas rombongan belajar pada satuan pendidikan.
2) Program Semesteran yaitu program layanan bimbingan dan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester merupakan jabaran kegiatan lebih rinci dari program tahunan.
-18-
4. Kegiatan dan Alokasi Waktu Layanan
a. Kegiatan Layanan
Layanan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan diselenggarakan oleh tenaga pendidik profesional yaitu Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling. Layanan Bimbingan dan Konseling diselenggarakan di dalam kelas (bimbingan klasikal) dan di luar kelas. Kegiatan bimbingan dan konseling di dalam kelas dan di luar kelas merupakan satu kesatuan dalam layanan profesional bidang bimbingan dan konseling. Layanan dirancang dan dilaksanakan dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas, serta mensinkronkan dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler.
Layanan Bimbingan dan Konseling diselenggarakan secara terprogram berdasarkan asesmen kebutuhan (need assessment) yang dianggap penting (skala prioritas) dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan (scaffolding). Semua peserta didik harus mendapatkan layanan bimbingan dan konseling secara terencana, teratur dan sistematis serta sesuai dengan kebutuhan. Untuk itu, Konselor atau guru Bimbingan dan Konseling dialokasikan jam masuk kelas selama 2 (dua) jam pembelajaran per minggu setiap kelas secara rutin terjadwal.Layanan bimbingan dan konseling di dalam kelas bukan merupakan mata pelajaran bidang studi, namun terjadwal secara rutin di kelas dimaksudkan untuk melakukan asesmen kebutuhan layanan bagi peserta didik/konseli dan memberikan layanan yang bersifat pencegahan, perbaikan dan penyembuhan, pemeliharaan, dan atau pengembangan.
1) Layanan bimbingan dan konseling di dalam kelas.
a) Layanan bimbingan dan konseling di dalam kelas (bimbingan klasikal) merupakan layanan yang dilaksanakan dalam seting kelas, diberikan kepada semua peserta didik, dalam bentuk tatap muka terjadwal dan rutin setiap kelas/perminggu.
b) Volume kegiatan tatap muka secara klasikal (bimbingan klasikal) adalah 2 (dua) jam per kelas (rombongan belajar) perminggu dan dilaksanakan secara terjadwal di kelas.
c) Materi layanan bimbingan klasikal meliputi empat bidang layanan Bimbingan dan Konselingdiberikan secara proporsioal sesuai kebutuhan peserta didik/konseli yang meliputi aspek perkembangan pribadi, sosial, belajar dan karirdalamkerangka pencapaian perkembangan optimal peserta didik dan tujuan pendidikan nasional.
d) Materi layanan bimbingan klasikal disusun dalam bentuk rencanapelaksanaan layanan bimbingan klasikal (RPLBK).
e) Bimbingan klasikal diberikan secara runtut dan terjadwal di kelas dan dilakukan oleh konselor yaitu pendidik profesional yang minimal berkualifikasi akademik Sarjana Pendidikan (S1)dalam bidang Bimbingan dan Konseling dan lulus pendidikanprofesi guru bimbingan dan konseling/konselor, atau guru Bimbingan dan konseling
-19-
yang berkualifikasi minimal Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan bersertifikat pendidik.
2) Layanan bimbingan dan konseling di luar kelas.
a) Kegiatan layanan bimbingan dan konseling di luar kelas, meliputi konseling individual, konseling kelompok, bimbingan kelompok, bimbingan kelas besar atau lintas kelas, konsultasi, konferensi kasus, kunjungan rumah (home visit), advokasi, alih tangan kasus, pengelolaan media informasi yang meliputi website dan/atau leaflet dan/atau papan bimbingan dan konseling, pengelolaan kotak masalah, dan kegiatanlain yang mendukung kualitas layanan bimbingan dan konseling yang meliputi panajemen program berbasis kompetensi, penelitian dan pengembangan,pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB), serta kegiatan tambahan yang relevan dengan profesi bimbingan dan konseling atau tugas kependidikan atau lainnya yang berkaitan dengan tugas profesi bimbingan dan konseling yang didasarkan atas tugas dari pimpinan satuan pendidikan atau pemerintah. Berikut ini penjelasan beberapa kegiatan profesi bimbingan dan konseling yang di luar kelas.
Konseling individual merupakan kegiatan terapeutik yang dilakukan secara perseorangan untuk membantu peserta didik/konseli yang sedang mengalami masalah atau kepedulian tertentu yang bersifat pribadi. Dalam pelaksanaannya, peserta didik/konseli dibantu oleh Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling untuk mengidentifikasimasalah,penyebabmasalah, menemukan alternatif pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan terbaik untuk mewujudkan keputusannya dengan penuh tanggung jawab dalam kehidupannya.
Konseling kelompok merupakan kegiatan terapeutik yang dilakukan dalam situasi kelompokuntuk membantu menyelesaikan masalah individu yang bersifat rahasia. Dalam pelaksanaannya, peserta didik/konseli dibantu oleh Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling dan anggota kelompok untuk mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, menemukan alternatif pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan terbaik dan mewujudkan keputusannya dengan penuh tanggung jawab.
Bimbingan kelompok merupakan pemberian bantuan kepada peserta didik/konseli melalui kelompok-kelompok kecil terdiri atas dua sampai sepuluh orang untuk maksud pencegahan masalah, pemeliharaan nilai-nilai atau pengembangan keterampilan-keterampilan hidup yang dibutuhkan. Bimbingan kelompok harus dirancang sebelumnya dan harus sesuai dengan kebutuhan nyata anggota kelompok. Topik bahasan dapat ditetapkan berdasarkan kesepakatan angggota kelompok atau dirumuskan sebelumnya oleh Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling berdasarkan pemahaman atas data tertentu. Topiknya bersifat umum (common problem)
-20-
dan tidak rahasia. seperti: cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, pergaulan sosial, persahabatan, penanganan konflik, mengelola stress.
Bimbingan kelas besar atau lintas kelas, Bimbingan lintas kelas merupakan kegiatan yang bersifat pencegahan, pengembangan yang bertujuan memberikan pengalaman, wawasan, serta pemahaman yang menjadi kebutuhan peserta didik, baik dalam bidang pribadi, sosial, belajar, serta karir. Salah satu contoh kegiatan bimbingan lintas kelas adalah career day.
Konsultasi merupakan kegiatan berbagi pemahaman dan kepedulian antara konselor atau guru bimbingan dan konseling dengan guru mata pelajaran, orang tua, pimpinan satuan pendidikan, atau pihak lain yang relevan dalam upaya membangun kesamaan persepsi dan memperoleh dukungan yang diharapkan dalam memperlancar pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling.
Konferensi kasus (case conference) merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh konselor atau guru pembimbing dengan maksud membahas permasalahan peserta didik/konseli. Dalam pelaksanaannya, melibatkan pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi penyelesaian masalah peserta didik/konseli.
Kunjungan rumah (home visit) merupakan kegiatan mengunjungi tempat tinggal orangtua/wali peserta didik/konseli dalam rangka klarifikasi, pengumpulan data, konsultasi dan kolaborasi untuk penyelesaian masalah peserta didik/konseli.
Alih tangan kasus (referral) adalah pelimpahan penanganan masalah peserta didik/konseli yang membutuhkan keahlian di luar kewenangan konselor atau guru bimbingan dan konseling. Alih tangan kasus dilakukan dengan menuliskan masalah konseli dan intervensi yang telah dilakukan, serta dugaan masalah yang relevan dengan keahlian profesional yang melakukan alih tangan kasus.
Advokasi adalah layanan bimbingan dan konseling yang dimaksudkan untuk memberi pendampingan peserta didik/konseli yang mengalami perlakuan tidak mendidik, diskriminatif, malpraktik, kekerasan, pelecehan, dan tindak kriminal.
Kolaborasi adalah kegiatan fundamental layanan BK dimana Konselor atau guru bimbingan dan konseling bekerja sama dengan berbagai pihak atas dasar prinsip kesetaraan, saling pengertian, saling menghargai dan saling mendukung. Semua upaya kolaborasi diarahkan pada suatu kepentingan bersama, yaitu bagaimana agar setiap peserta didik/konseli mencapai perkembangan yang optimal dalam aspek perkembangan pribadi, sosial, belajar dan karirnya. Kolaborasi dilakukan antara konselor atau guru bimbingan dan konseling dengan guru mata pelajaran, wali kelas, orang tua, atau pihak lain yang relevan untuk membangun pemahaman dan atau upaya bersama dalam membantu
-21-
memecahkan masalah dan mengembangkan potensi peserta didik/konseli.
Pengelolaan Media informasi merupakan kegiatan penyampaian informasi yang ditujukan untuk membuka dan memperluas wawasan peserta didik/konseli tentang berbagai hal yang bermanfaat dalam pengembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir, yang diberikan secara tidak langsung melalui media cetak atau elektronik (seperti web site, buku, brosur, leaflet, papan bimbingan)
Pengelolaan kotak masalah merupakan kegiatan penjaringan masalah dan pemberian umpan balik terhadap peserta didik yang memasukan surat masalah kedalam sebuah kotak yang menampung masalah-masalah peserta didik.
Manajemen Program berbasis komptensi. Dalam hal pengelolaan bimbingan dan konseling secara operasional, kepala sekolah mendelegasikan kewenangan kepada koordinator bimbingan dan konseling sebagai tugas tambahan yang ditugaskan kepada konselor atau guru bimbingan dan konseling yang berlatar belakang Sarjana Pendidikan (S-1) bidang Bimbingan dan Konseling dan telah lulus pendidikan profesi guru bimbingan dan konseling/konselor, atau minimal Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang Bimbingan dan Konseling.
Penelitian dan Pengembangan. Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling dituntut menggunakan temuan-temuan baru atau mengembangkan cara-cara baru dalam melaksanakan tugas-tugas keprofesiannya. Upaya yang dapat dilakukan antara lain melakukan penelitian mandiri, penelitian kelompok bersama teman sejawat, penelitian berkolaboratif dengan pakar di perguruan tinggi. Proses dan hasil penelitian dan pengembangan disebarluaskan kepada berbagai pihak melalui jurnal, forum konvensi dan forum ilmiah lainnya, rubrik media cetak maupun elektronik.
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Dalam upaya memberikan layanan profesi dan pengabdian terbaik serta merespons dinamika tuntutan dan tantangan profesi, konselor atau guru bimbingan dan konseling berusaha secara terus-menerus mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan melalui pendidikan dan latihandalam jabatan, studi lanjut dan aktif dalam organisasi profesi pada tataran lokal, regional, nasional, dan internasional.
b) Kegiatan layanan bimbingan dan konseling di luar kelas dapat dihitung jam kerja dengan menggunakan tabel berikut ini.
Tabel 1. Perhitungan Ekuivalensi Kegiatan Layanan bimbingan dan konseling di luar kelas dengan jam kerja. No. KEGIATAN URAIAN PELAPORAN DURASI JUMLAH PERTEMUAN EKUIVALEN
1.
Konseling individual,
Melaksanakan layanan konseling
Disusun laporan dan status
40 menit untuk SMTP,
1 pertemuan
setara dengan 2 jam
-22-
No. KEGIATAN URAIAN PELAPORAN DURASI JUMLAH PERTEMUAN EKUIVALEN
baik peserta didik datang sendiri maupun dipanggil
konseling
dan 45 menit untuk SMTA
pelajaran
20-39 menit
2 pertemuan atau 2 konseli
setara dengan 2 jam pelajaran
2.
Konseling kelompok,
Melaksana kan layanan konseling kelompok baik peserta didik datanng sendiri maupun dipanggil
Disusun laporan, dan tersedia RPLBK serta status konseling
40 menit untuk SMTP, dan 45 menit untuk SMTA
1 pertemuan
setara dengan 2 jam pelajaran
20-39 menit
2 pertemuan atau 2 Kelompok
3.
Bimbingan kelompok,
Melaksanakan layanan bimbingan kelompok baik peserta didik datanng sendiri maupun dipanggil
Disusun laporan, dan tersedia RPLBK serta status bimbingan
40 menit untuk SMTP, dan 45 menit untuk SMTA
1 pertemuan
setara dengan 2 jam pelajaran
20-39 menit
2 pertemuan atau 2 Kelompok
4.
Bimbingan klasikal
Melaksana kan layanan tatap di kelas secara terstruktur dan terprogram secara berkelanjutan berupa asesmen kebutuhan atau materi bidang layanan pribadi, belajar, sosial atau karir
Disusun laporan, dan tersedia RPLBK serta perkemba ngan peserta didik
2 x 40 menit untuk SMTP, dan 2 x 45 menit untuk SMTA
1 pertemuan
setara dengan 2 jam pelajaran
5.
Bimbingan kelas besar atau lintas kelas.
Melaksana kan layanan tatap muka dengan peserta didik 100 – 160 peserta
Disusun laporan dan dilengkapi surat/foto yang relevan
100–120 menit
1 pertemuan
setara dengan 3 jam pelajaran
-23-
No. KEGIATAN URAIAN PELAPORAN DURASI JUMLAH PERTEMUAN EKUIVALEN
didik/ konseli
6.
Konsultasi
Memberi kan layanan konsultasi kepada peserta didik, orang tua, dan pendidik/tenaga kependidi kan dalam upaya perkembangan peserta didik/konseli.
Tersedia catatan Konsultasi
+/- 20 menit
2 pertemuan atau 2 konseli
setara dengan 1 jam pelajaran
7.
Kolaborasi dengan Guru
Melaksanakan kolaborasi kerja dalam melaksanakan tugas profesi bimbingan dan konseling
Tersedia catatan Komunikasi
Menye suaikan
1 bidang studi 1 pertemuan
setara 1 jam pelajaran
8.
Kolaborasi dengan Orang Tua
Melaksana kan kolaborasi dengan orang tua untuk kepentingan kesuksesan peserta didik dan tercapainya layanan bimbingan dan konseling
Tersedia catatan komunikasi
Menye suaikan
1 pertemuan untuk orang tua dari 1 peserta didik
setara 1 jam peajaran
1 pertemuan untuk orang tua satu kelas/lintas kelas peserta didik
setara 2 jam pelajaran
9.
Kolaborasi dengan ahli lain
Melaksana kan kolaborasi dengan ahli lain untuk kepentingan kesuksesan peserta didik dan tercapainya
Disusun laporan dan tersedia naskah kerjasama atau surat penugasan dari kepala satuan pendidikan
Menye suaikan
1 ahli 1 pertemuan
setara 1 jam pelajaran
-24-
No. KEGIATAN URAIAN PELAPORAN DURASI JUMLAH PERTEMUAN EKUIVALEN
tujuan layanan bimbingan dan konseling
10.
Kolaborasi dengan Lembaga Lain
Melaksana kan kolaborasi dengan lembaga untuk kepentingan kesuksesan peserta didik dan tercapainya layanan bimbingan dan konseling
Disusun laporan dan tersedia naskah kerja sama atau surat penugasan dari kepala satuan pendidikan
Menye suaikan
1 lembaga 1 pertemuan
setara 2 jam pelajaran
11.
Konferensi kasus,
Melaksana kan pertemuan kasus dalam upaya penyelesai an masalah yang dihadapi konselidengan melibatkan pihak lain yang relevan
Tersedia catatan /notulen Konferensi Kasus dan status penyelesaian kasus
Menye suaikan
1 kali
Setara 2 jam pelajaran
12.
Kunjungan rumah (home visit),
Melaksana kan kunjungan ke tempat tinggal orangtua/ wali peserta didik/konseli dalam rangka klarifikasi, pengumpulan data, konsultasi dan kolaborasi untuk pengembangan diri
Disusun laporan kunjungan rumah dan surat penugasan dari kepala satuan pendidikan
Menye suaikan (40 – 60 menit efektif pertemuan langsung dengan orang tua/ wali peserta didik).
1 kali
Setara 1 jam pelajaran
-25-
No. KEGIATAN URAIAN PELAPORAN DURASI JUMLAH PERTEMUAN EKUIVALEN
peserta didik/ konseli.
13.
Layanan advokasi,
Melaksana kan kegiatan pendampingan peserta didik
Disusun Laporan advokasi
Menye suaikan
1 kali
Setara dengan 1 jam pelajaran
14.
Pengelolaan papan Bimbingan
Memberi kan layanan bimbingan dan konseling melalui media papan bimbingan dalam bidang perkembangan pribadi, sosial, belajar atau karir
Tersedia dokumen dan bukti pernah dipasang dalam papan bimbingan
1 karya
1 kali (10 – 15 hari sekali)
Setara 2 jam pelajaran
15.
Pengelolaan kotak masalah,
Memberi kan layanan bimbingan dan konseling berdasarkan surat dari peserta didik /koseli
Tersedia bukti surat dari peserta didik/konseli dan layanan yang telah diberikan
1 mas alah
1 kali pertemuan
Setara 1 jam pelajaran
16.
Pengelolaan leaflet,
Memberi kan layanan bimbingan dan konseling melalui media leaflet bimbingan dalam bidang perkembangan pribadi, sosial, belajar atau karir
Tersedia leaflet dan bukti dibagikan kepada pserta didik
1 karya
1 kali cetak
Setara 2 jam pelajaran
17.
Pengembangan media BK,
Pembuatan atau pengemban
Hasil rekayasa/kreatifitas
1 karya
1 kali
setara 2 jam pelajaran
-26-
No. KEGIATAN URAIAN PELAPORAN DURASI JUMLAH PERTEMUAN EKUIVALEN
gan hasil kreatifitas guru bimbingan dan konseling atau konselor sekolah berupa alat peraga, cetak, elektronik , film dan komputer
berupa: softcopy (power poin, pengembangan excel), pengembangan film dan flash, elektronik dan non elektronik
18.
Kegiatan tambahan
Melaksanakan tugas sebagai pembina ekstra kurikuler dan instruktur, dll.
Disusun laporan dan tersedia bukti fisik.
Menye suaikan
Menyesuai kan
tidak dihitung untuk beban tugas kerja, tetapi dapat dihitung untuk kepentingan kenaikan pangkat/jabatan
Melaksanakan tugas sebagai koordinator bimbingan dan konseling,
Tersedia bukti surat penugasan dari kepala satuan pendidikan
Menye suaikan
satu minggu
setara 4 jam pembelajar an
19.
Melaksana kan dan menindaklanjuti asesment kebutuhan
Melaksana kan asesmen kebutuhan layanan dan mengumpulkan data peminatan
Disusun laporan dan ada dokumennya
Menye suaikan
Terprogram
setara 2 jam pelajaran
20.
Menyusun dan melaporkan program kerja
Membuat persiapan sampai menjadi program setiap semester diikuti pembuatan pelaporan kegiatan
Hasil need assessment dan program tahunan dan semesteran,
Menye suaikan
setiap bulan
Tidak dihitung tetapi harus dilakukan
21.
Membuat
Melaksanakan dan
Form Laporan
Menye
menyesuaika
Tidak dihitung
-27-
No. KEGIATAN URAIAN PELAPORAN DURASI JUMLAH PERTEMUAN EKUIVALEN
evaluasi
melaporkan evaluasi pelaksanaan program
evaluasi
suaikan
n
tetapi harus dilakukan
22.
Melaksana kan administrasi dan manajemen Bimbingan dan Konseling
Mengelola buku masalah, buku kasus, menginventarisir dan input data harian, data pendampingan peminatan, merekap dan mengana lisis kehadiran; absensi, keterlambatan, bolos dan dispensasi yang ditindak lanjuti
tersedia administrasi layanan bimbingan dan konseling (misalnya :buku masalah, buku kasus, buku komunikasi, data siswa di computer, lembar kerja/ porto folio, rekap absensi, surat panggilan orang tua, dll)
Menye suaikan
setiap minggu
setara 1 jam pelajaran
Keterangan
1. Beban kerja seorang Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling adalah 150 – 160 peserta didik ekuivalen 24 jam pembelajaran.
2. Peserta didik/konseli yang diampu 80, berarti untuk memenuhi persyaratan jumlah minimal adalah 70, dan 150 – 160 adalah ekuivalen 24 jam pembelajaran. Bila diekuivalenkan dengan jam pembelajaran, maka masih kekurangan 11 jam pembelajaran ( 70 dibagi 160 dikalikan 24=10,5 dibulatkan menjadi 11 jam pembelajaran).
3. Berdasarkan tabel kegiatan bimbingan dan konseling terebut diatas dapat digunakan untuk memenuhi jumlah jam kerja minimal bagi konselor atau guru bimbingan dan konseling.
b. Alokasi Waktu Layanan
Pengaturan proporsi prakiraan waktu layanan setiap komponen program Bimbingan dan Konseling pada satuan pendidikan dalam Kurikulum 2013 diatur dalam Tabel 2. Besaran persentase dalam setiap layanan dan setiap jenjang satuan pendidikan didasarkan data hasil asesmen kebutuhan peserta didik/konseli dan satuan pendidikan. Dengan demikian besaran persentase bisa berbeda-beda antara satuan pendidikan yang satu dengan yang lainnya, karena sangat tergantung hasil asesmen kebutuhan.
-28-
Tabel 2.Alokasi Waktu Layanan Bimbingan dan Konseling Program SD/MI SMP/MTs SMA/MA/SMK/MAK
Layanan Dasar
45 – 55%
35 – 45%
25 – 35%
Layanan Peminatan dan Perencanaan Individual
5 – 10%
15 – 25%
25 – 35%
Layanan Responsif
20 – 30%
25 – 35%
15 – 25%
Dukungan Sistem
10 – 15%
10 – 15%
10 – 15%
Pengaturan waktu bekerja bagi konselor atau guru Bimbingan dan Konseling di dalam melaksanakan layanan Bimbingan dan Konseling pada satuan pendidikan mengacu pada ketentuan sebagaimana diatur pada Tabel 2. Alokasi jam kerja pada setiap layanan Bimbingan dan Konseling bergantung pada besaran persentase dari setiap layanan.
Tabel 3. Contoh Perhitungan Alokasi Waktu Layanan Bimbingan dan Konseling Program Pembagian waktu Layanan (24 – 40 Jam Kerja)
Layanan Dasar
35 % x (24 – 40 jam kerja) = 8 – 14 jam kerja
Layanan Responsif
25 % x (24 – 40 jam kerja) = 6 – 10 jam kerja
Layanan Peminatan dan Perencanaan Individual
30 % x (24- 40 jam kerja) = 7 – 12 jam kerja
Dukungan sistem
10 % x (24 -40 jam kerja) = 3 – 4 jam kerja
Penetapan persentase pada setiap satuan pendidikan didasarkan pada hasil analisis kebutuhan pada setiap satuan pendidikan, sehingga angka persentase bisa berbeda antara satuan pendidikan satu dengan satuan lainnya.
Pengakuan jam kerja konselor atau guru Bimbingan dan Konseling diperhitungkan dengan rasio 1: (150 – 160) ekuivalen dengan jam kerja 24 jam. Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling yang rasionya dengan konseli kurang dari 1:150 maka jam kerjanya dapat dihitung dengan menggunakan satuan jam kinerja profesi bimbingan dan konseling, yaitu melaksanakan berbagai kegiatan profesi bimbingan dan konseling dengan bukti aktivitasnya terdokumentasikan. Penghargaan jam kerja diekuivalenkan dengan jumlah peserta didik/konseli yang kurang adalah jumlah peserta didik/konseli yang dilayani dibagi 160 dikalikan 24 jam. Sedangkan konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling yang rasionya melebihi 1 : 160 maka kelebihan jam kerjanya dihitung dengan menambahkan setiap satu rombongan belajar dalam satuan pendidikan dan setiap satuan rombongan belajar dihargai dua jam pembelajaran.Contoh : jumlah peserta didik/konseli yang dilayani sejumlah 191, ukuran jumlah kelas adalah 32, maka kelebihan 31 tidak dihitung kelebihan beban tugas, namun bila jumlahnya 192, maka dapat dihitung sebagai tambahan jam kerja sejumlah 2 jam pelajaran/perminggu.
-29-
Perhitungan jumlah peserta didik/konseli dalam setiap rombongan belajar sesuai dengan ketentuan standar nasional yang berlaku.
Secara bertahap, kinerja profesi bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan dapat menggunakan perhitungan kinerja profesional bimbingan dan konseling bukan dihitung berdasarkan jumlah peserta didik/ konseli yang menjadi tanggung jawabnya. Bukti kinerja profesional konselor atau guru bimbingan dan konseling yang memadai sesuai ketentuan dapat dipergunakan sebagai pemenuhan syarat memperoleh pengakuan dan penghargaan sesuai peraturan.
5. Mekanisme Pengelolaan Layanan
Secara berurutan, mekanisme pengelolaan bimbingan dan konseling ditata dan mencakup tahapan analisis kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut pengembangan program.
a. Analisis kebutuhan
Program bimbingan dan konseling dirancang berdasar data kebutuhan peserta didik, sekolah, dan orangtua.Data kebutuhan dikumpulkan dan ditelaah untuk memperbaharui tujuan dan rencana program bimbingan dan konseling.Bimbingan dan konseling direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi serta ditindaklanjuti berbasis prioritas data kebutuhan yang difasilitasi pemenuhanya dalam bidang dan komponen bimbingan dan konseling.
Kebutuhan peserta didik, satuan pendidikan, dan orangtua diidentifikasi dengan berbagai instrumen non tes dan tes atau dengan pengumpulan fakta, laporan diri, observasi, dan tes, yang diselenggakan oleh konselor atau guru bimbingan dan konseling sendiri atau fihak lain yang lebih berkewenangan. Hasil identifikasi dianalisis dan diinterpretasi untuk menentukan skala prioritas layanan bimbingan dan konseling.
b. Perencanaan
Perencanaan (action plans) sebagai alat yang berguna untuk merespon kebutuhan yang telah teridentifikasi, mengimplementasikan tahap-tahap khusus untuk memenuhi kebutuhan, dan mengidentifikasi fihak yang bertanggungjawab terhadap setiap tahap, serta mengatur jadwal dalam program tahunan dan semesteran serta pengimplementasiannya.Dengan demikian, sejak awal telah dirancang efisiensi dan keefektivan program dan rencana pengukuran akuntabilitasnya.Program bimbingan dan konseling direncanakan sebagai program tahunan dan program semesteran.
-30-
c. Pelaksanaan
Pelaksanaan bimbingan dan konseling harus memperhatikan aspek penggunaan data dan penggunaan waktu yang tersebar ke dalam kalender akademik.
Aspek pertama adalah penggunaan data. Kumpulan data akan memberikan informasi penting dalam pelaksanaan program dan akan diperlukan untuk mengevaluasi program dalam kaitannya dengan kemajuan yang diraih peserta didik/konseli. Data dikumpulkan sepanjang proses pelaksanaan bimbingan dan konseling sehubungan dengan perencanaan apa yang dikerjakan, apa yang tidak dikerjakan, apa yang berubah atau ditingkatkan. Data yang dikumpulkan dipilah menjadi data tiga: (1)data jangka pendek yaitu data setiap akhir aktivitas, (2)data jangka menengah merupakan data kumpulan dari periode waktu tertentu, misalnya program semesteran maka data yang dimaksud adalah data selama satu semester untuk mengukur indikator kemajuan ke arah pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, dan (3)data jangka panjang merupakan data akhri serangkaian program misalnya program tahunan yang merupakan data hasil seluruh aktivitas dan dampaknya pada perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir peserta didik.
Aspek kedua adalah penggunaan waktu yang tersebar dalam kalender akademik. Proporsi waktu perencanaan dan pelaksanaan setiap komponen dan bidang bimbingan dan konseling harus memperhatikan tingkat satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, jumlah konselor atau guru bimbingan dan konseling, jumlah peserta didik yang dilayani.Perhatian utama ditujukan kepada kebutuhan peserta didik sebagai hasil analisis kebutuhan. Persentase dalam distribusi waktu konselor atau guru bimbingan dan konseling dalam setiap komponen program bimbingan dan konseling juga harus memperhatikan tingkatan kelas dalam satuan pendidikan.Sebagian besar waktu konselor atau guru bimbingan dan konseling (80%-85%) untuk pelayanan langsung kepada peserta didik, sisanya (15%-20%) untuk aktivitas manajemen dan administrasi.Kalender aktivitas bimbingan dan konseling sebagai perencanaan program semua komponen dan bidang bimbingan dan konseling diatur sejalan dengan kalender akademik satuan pendidikan.
d. Evaluasi
Evaluasi dalam bimbingan dan konseling merupakan proses pembuatan pertimbangan secara sistematis mengenai keefektivan dalam mencapai tujuan program bimbingan dan konseling berdasar pada ukuran (standar) tertentu. Dengan demikian evaluasi merupakan proses sistematis dalam mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang efisiensi, keefektivan, dan dampak dari program dan layanan bimbingan dan konseling terhadap perkembangan pribadi, sosial belajar, dan karir peserra didik/konseli. Evaluasi berkaitan dengan akuntabilitas yaitu
-31-
sebagai ukuran seberapa besar tujuan bimbingan dan konseling telah dicapai.
e. Pelaporan
Pelaporan proses dan hasil dari pelaksanaan program dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan bagaimana peserta didik berkembang sebagai hasil dari layanan bimbingan dan konseling. Laporan akan digunakan sebagai pendukung program lanjutan untuk menjamin keberhasilan pelaksanaan program selanjutnya. Laporan jangka pendek akan menfasilitasi evaluasi aktivitas program jangka pendek. Laporan jangka menengah dan jangka panjang akan merefleksikan kemajuan ke arah perubahan dalam diri semua peserta didik. Isi dan format laporan sejalan dengan kebutuhan untuk menyampaikan informasi secara efektif krpada seluruh pemangku kepentingan. Laporan juga akan menjadi informasi penting bagi pengembangan profesionalitas yang diperlukan bagi konselor atau guru bimbingan dan konseling.
f. Tindak lanjut
Tindak lanjut atas laporan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling akan menjadi alat penting dalam tindak lanjut untuk mendukung program sejalan dengan yang direncanakan, mendukung setiap peserta didik yang dilayani, mendukung digunakannya materi yang tepat, mendokumentasi proses, persepsi, dan hasil program secara rinci, mendokumentasi dampak jangka pendek, menengah dan jangka panjang, atas analisis keefektivan program digunakan untuk mengambil keputusan apakah program dilanjutkan, direvisi, atau dihentikan, meningkatkan program, seta dihgunakan untuk mendukung perubahan-perubahan dalam sistem sekolah.
E. Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling
Strategi layanan bimbingan dan konseling berkenaan dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh konselor atau guru bimbingan dan konseling untuk memfasilitasi peserta didik/konseli mencapai kemandirian dalam kehidupannya. Strategi layanan bimbingan dan konseling dibedakan atas jumlah individu yang dilayani, jenis dan intensitas masalah yang dihadapi peserta didik/ konseli, dan cara komunikasi layanan. Strategi layanan bimbingan dan konseling berdasarkan jumlah individu yang dilayani dilaksanakan melalui layanan individual, layanan kelompok, layanan klasikal, atau layanan kelas besar atau lintas kelas. Strategi layanan bimbingan dan konseling berdasarkan jenis dan intensitas masalah yang dihadapi peserta didik/konseli dilaksanakan melalui bimbingan klasikal, bimbingan kelompok, bimbingan individual, konseling individual, konseling kelompok, atau advokasi. Strategi layanan bimbingan dan konseling berdasarkan cara komunikasi layanan dilaksanakan melalui tatap muka antara konselor atau guru bimbingan
-32-
dan konseling dengan peserta didik/konseli atau menggunakan media tertentu, baik media cetak maupun elektronik. Media bimbingan dan konseling yang dimaksudkan misalnya : papan bimbingan, kotak masalah, leaflet, website, email, buku, telepon, dan lainnya.
F. SARANA, PRASARANA, PEMBIAYAAN
Penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien untuk mencapai tujuan layanan dan membantu tercapainya tujuan pendidikan nasional memerlukan sarana, prasarana, dan pembiayanan yang memadai.
1. Ruang Bimbingan dan Konseling
Ruang kerja bimbingan dan konseling memiliki kontribusi keberhasilan layanan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan. Ruang kerja bimbingan dan konseling disiapkan dengan ukuran yang memadai, dilengkapi dengan perabot/perlatannya, diletakan pada lokasi yang mudah untuk akses layanan dan kondisi lingkungan yang sehat. Di samping ruangan, dapat dibangun taman sekolah yang berfungsi ganda yaitu untuk kepentingan taman satuan pendidikan, dapat juga ada disain untuk layanan bimbingan dan konseling di taman.
Ukuran ruang bimbingan dan konseling harus disesuaikan dengan kebutuhan jenis dan jumlah ruangan. Ruang kerja konselor atau guru bimbingan dan konselor disiapkan secara terpisah dan antar ruangan tidak tembus pandang dan suara. Jenis ruangan yang diperlukan antara antara lain (1) ruang kerja sekaligus ruang konseling individual, (2) ruang tamu, (3) ruang bimbingan dan konseling kelompok, (4) ruang data, (5) ruang konseling pustaka (bibliocounseling) dan (6) ruang lainnya sesuai dengan perkembangan profesi bimbingan dan konseling. Jumlah ruang disesuaikan dengan jumlah peserta didik/konseli dan jumlah konselor atau guru bimbingan dan konseling yang ada pada satuan pendidikan.
Fasilitas ruangan yang diharapkan tersedia ialah ruangan tempat bimbingan yang khusus dan teratur, serta perlengkapan lain yang memungkinkan tercapainya proses pelayanan bimbingan dan konseling yang bermutu. Ruangan itu hendaknya sedemikian rupa sehingga di satu segi para peserta didik/konseli yang berkunjung ke ruangan tersebut merasa nyaman, dan segi lain di ruangan tersebut dapat dilaksanakan pelayanan dan kegiatan bimbingan lainnya sesuai dengan asas-asas dan kode etik bimbingan dan konseling. Khusus ruangan konseling individual harus merupakan ruangan yang memberi rasa aman, nyaman dan menjamin kerahasiaan konseli.
Di dalam ruangan hendaknya juga dapat disimpan segenap perangkat instrumen bimbingan dan konseling, himpunan data peserta didik, dan berbagai data serta informasi lainnya. Ruangan tersebut hendaknya juga mampu memuat berbagai penampilan, seperti penampilan informasi pendidikan dan jabatan. Yang tidak kalah penting ialah, ruangan itu hendaklah nyaman yang menyebabkan para pelaksana bimbingan dan konseling betah
-33-
bekerja. Kenyamanan itu merupakan modal utama bagi kesuksesan
program layanan bimbingan dan konseling yang disediakan.
Adapun contoh minimal ruang bimbingan dan konseling seperti
tertera pada gambar berikut;
Alternatif contoh penataan ruang kerja profesi bimbingan dan konseling
RUANG BK KELOMPOK RUANG BK KELOMPOK
RUANG KERJA
DAN RUANG KONSELING
R. TAMU
R. STAFF
RUANG KERJA
DAN RUANG KONSELING
RUANG KERJA
DAN RUANG KONSELING
RUANG BIBLIOTERAPI RUANG DATA
6000 5000 5000
4000 2000 4000
3000 3000 4000
3000 3000 5000 1000 4000
16000
10000
-34-
Alternatif contoh penataan ruang kerja profesi BimbinganKonseling
RUANG BK KELOMPOK
RUANG KERJA
DAN RUANG KONSELING
R. TAMU
R. STAFF
RUANG KERJA
DAN RUANG KONSELING
RUANG KERJA
DAN RUANG KONSELING
RUANG DATA RUANG BIBLIOTERAPI
3000 5000 5000
4000 2000 4000
3000 3000 4000
3000 3000 5000 1000 4000
16000
10000
3000
RUANG KERJA
DAN RUANG KONSELING
RUANG KERJA
DAN RUANG KONSELING
2. Fasilitas Penunjang
Selain ruangan, fasilitas lain yang diperlukan untuk penyelenggaraan
bimbingan dan konseling antara lain:
a. Dokumen program bimbingan dan konseling yang disiman dalam
almari.
b. Instrumen pengumpul data dan kelengkapan administrasi
seperti:
1) Alat pengumpul data berupa tes.
2) Alat pengumpul data teknik non-tes yaitu: biodata peserta
didik/konseli, pedoman wawancara, pedoman observasi,
catatan anekdot, daftar cek, skala penilaian, angket (angket
peserta didik dan orang tua), biografi dan autobiografi, angket
sosiometri, AUM, ITP, format RPLBK, format-format surat
(panggilan, referal, kunjungan rumah), format pelaksanaan
pelayanan, dan format evaluasi.
3) Alat penyimpan data, dapat berbentuk kartu, buku pribadi,
map dan file dalam komputer. Bentuk kartu ini dibuat dengan
ukuran-ukuran serta warna tertentu, sehingga mudah untuk
disimpan dalam almari/ filing cabinet. Untuk menyimpan
berbagai keterangan, informasi atau pun data untuk masingmasing
peserta didik, maka perlu disediakan map pribadi.
Mengingat banyak sekali aspek-aspek data peserta didik yang
perlu dan harus dicatat, maka diperlukan adanya suatu alat
yang dapat menghimpun data secara keseluruhan yaitu buku
pribadi.
4) Kelengkapan penunjang teknis, seperti data informasi, paket
bimbingan, alat bantu bimbingan perlengkapan administrasi,
seperti alat tulis menulis, blanko surat, kartu konsultasi,
kartu kasus, blanko konferensi kasus, dan agenda surat,
buku-buku panduan, buku informasi tentang studi lanjutan
atau kursus-kursus, modul bimbingan, atau buku materi
pelayanan bimbingan, buku hasil wawancara, laporan
-35-
kegiatan pelayanan, data kehadiran peserta didik, leger Bimbingan dan Konseling, buku realisasi kegiatan Bimbingan dan Konseling, bahan-bahan informasi pengembangan keterampilan pribadi, sosial, belajar maupun karir, dan buku/ bahan informasi pengembangan keterampilan hidup, perangkat elektronik (seperti komputer, tape recorder, film, dan CD interaktif, CD pembelajaran, OHP, LCD, TV); filing cabinet/ lemari data (tempat penyimpanan dokumentasi dan data peserta didik/konseli), dan papan informasi Bimbingan dan Konseling.
Dalam kerangka pikir dan kerangka kerja Bimbingan dan Konseling terkini, para konselor atau guru bimbingan dan konselingpada satuan pendidikan perlu terampil menggunakan perangkat komputer, perangkat komunikasi dan berbagai software untuk membantu mengumpulkan data, mengolah data, menampilkan data maupun memaknai data sehingga dapat diakases secara cepat dan secara interaktif. Perangkat tersebut memiliki peranan yang sangat strategis dalam pelayananBimbingan dan konseling pada satuan pendidikan.
Dalam konteks ini, para konselor atau guru bimbingan dan konseling dituntut untuk menguasai sewajarnya penggunaan beberapa perangkat lunak dan perangkat keras komputer. Banyak sekali perangkat lunak yang dapat dimanfaatkan oleh konselor atau guru bimbingan dan konseling dalam upaya memberikan pepelayanan terbaik, efisien, dan daya jangkau pelayanan yang lebih luas kepada para peserta didik/konseli. Sebagai contoh perangkat lunak itu antara lain, program database peserta didik, perangkat ungkap masalah, analisis tugas dan tingkat perkembangan peserta didik, dan beberapa perangkat tes tertentu.
Komputer yang disediakan di ruang bimbingan dan konseling hendaknya memiliki memori yang cukup besar karena akan menyimpan semua data peserta didik, memiliki kelengkapan audio agar dapat dimanfaatkan setiap peserta didik untuk menggunakan berbagai CD interaktif informasi maupun pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan masalah, serta kelengkapan akses internet agar dapat mengakses informasi penting yang diperlukan peserta didik maupun dimanfaatkan peserta didik untuk melakukan e-counseling.
Salah satu perangkat lunak yang dapat dipergunakan untuk mendeteksi kebutuhan pelayanan bimbingan dan konseling adalah Inventori Tugas Perkembangan (ITP). Pengolahan data secara komputerisasi memungkinkan kebutuhan peserta didik terdeteksi secara rinci sehingga dapat diturunkan manjadi program umum satuan pendidikan, program untuk tingkatan kelas maupun program individual setiap peserta didik/konseli. Kondisi ini memungkinkan karena data setiap peserta didik, data peserta didik/konseli dalam kelompok kelas, data peserta didik/konseli sebagai bagian dari tingkatan kelas maupun data seluruh satuan pendidikan dapat tertampilkan.
Berbagai film dan CD interaktif sebagai bahan penunjang pengembangan keterampilan pribadi, sosial, belajar dan karir juga
-36-
harus tersedia, sehingga para peserta didik tidak hanya memperoleh informasi melalui buku atau papan informasi. Media bimbingan merupakan pendukung optimalisasi layanan bimbingan dan konseling.
3. Pembiayaan
Perencanaan anggaran merupakan komponen penting dari pengelolaan bimbingan dan konseling. Perlu dirancang dengan cermat berapa anggaran yang diperlukan untuk mendukung implementasi program. Anggaran ini harus masuk ke dalam Anggaran dan Belanja Satuan Pendidikan.Memilih strategi pengelolaan yang tepat dalam usaha mencapai tujuan program layanan bimbingan dan konseling memerlukan analisis terhadap anggaran yang dimiliki. Strategi pengelolaan program yang dipilih harus disesuaikan dengan anggaran yang dimiliki.
Kebijakan satuan pendidikansetiap satan pendidikan harus memberikan dukunganterhadap penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling. Pelaksanaan program bimbingan dan konseling harus diperlakukan sebagai kegiatan yang utuh dari seluruh program pendidikan.
Adapun komponen anggaran meliputi:
a. Anggaran untuk semua aktivitas yang tercantum pada program Bimbingan dan Konseling.
b. Anggaran untuk aktivitas pendukung (seperti untuk asesmen kebutuhan, kunjungan rumah, pengadaan pustaka terapi/buku pendukung, mengikuti diklat/seminar/workshop atau kegiatan profesi bimbingan dan konseling, studi lanjut, kegiatan musyawarah guru bimbingan dan konseling, pengadaan instrumen bimbingan dan konseling, dan lainnya yang relevan untuk operasional layanan bimbingan dan konselinh.
c. Anggaran untuk pengembangan dan peningkatan kenyamanan ruang atau pemberian layanan bimbingan dan konseling (seperti pembenahan ruangan, pengadaan buku-buku untuk konseling pustaka, penyiapan perangkat konseling kelompok).
Sumber biaya selain dari RKAS (rencana kegiatan dan anggaran Sekolah/Madrasah), dengan dukungan kebijakan Kepala Sekolah/Madrasah jika memungkinkan dapat mengakses dana dari sumber-sumber lain melalui kesepakatan lembaga dengan pihak lain, atau menggunakan sumber yang dialokasikan oleh komite Sekolah/Madrasah.
V. PENYELENGGARA LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DAN PIHAK YANG DILIBATKAN
A. Penyelenggara Layanan Bimbingan dan Konseling:
1) Satuan pendidikan SD/MI/SDLB
a. Penyelenggara layanan bimbingan dan konselingdi SD/MI/SDLB adalah konselor atau guru bimbingan dan konseling.
-37-
b. Pada satu SD/MI/SDLB atau gugus/sejumlah SD/MI/SDLB dapat diangkatkonseloratau guru Bimbingan dan Konseling untuk menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling.
c. Konselor atauguru bimbingan dan konseling dapat bekerja sama dengan guru kelasdalam membantu tercapainya perkembangan peserta didik/konseli dalam bidang layanan pribadi, sosial, belajar, dan karir secara utuh dan optimal.
2) Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB
a. Penyelenggara layanan bimbingan dan konseling di SMP/MTs/SMPLB adalah Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling.
b. Setiap satuan pendidikan di SMP/MTs/SMPLB diangkat sejumlah Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling dengan rasio 1 : (150 – 160) (satu konselor atau guru bimbingan dan konseling melayani 150 – 160 orang peserta didik/konseli).
c. Setiap SMP/MTs/SMPLB diangkat koordinatorbimbingan dan konseling yangberlatar belakang Sarjana Pendidikan(S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan telah lulus pendidikan profesi Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor.
3) Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB, SMK/MAK
a. Penyelenggara layanan bimbingan dan konseling di SMA/MA/SMALB, SMK/MAK adalah konselor atau guru bimbingan dan konseling.
b. Setiapsatuan pendidikan SMA/MA/SMALB/ SMK/MAK diangkat sejumlah konseloratau guru bimbingan dan konseling dengan rasio 1 :(150-160) (satu konselor atau guru bimbingan dan konseling melayani 150 – 160 orang peserta didik/konseli).
c. Setiap satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/ SMK/MAK, diangkat koordinator bimbingan dan konseling yang berlatar belakang minimal Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan telah lulus pendidikan profesi guru bimbingan dan konseling/konselor; atau minimal Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling.
B. Pihak lain yang dilibatkan
1. Dalam melaksanakan tugas layanan bimbingan dan konseling Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling dapat bekerjasama dengan berbagai pihak di dalam satuan pendidikan (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, wali kelas, guru mata pelajaran, staf administrasi sekolah) dan di luar satuan pendidikan (pengawas pendidikan, komite sekolah, orang tua, organisasi profesi bimbingan dan konseling, dan profesi lain yang relevan).
2. Keterlibatan berbagai pihak dalam mendukung pelaksanaan layanan bimbingan konseling dapat dilakukan dalam bentuk kerjasama seperti: mitra layanan, sumber data/informasi, konsultan, dan narasumber melalui strategi layanan kolaborasi, konsultasi, kunjungan, ataupun referal.
-38-
VI. PENUTUP
Bimbingan dan konseling dalam implementasi kurikulum 2013 memiliki peranan yang sangat pentingdalam membantu tercapainya tujuan pendidikan nasional, dan membantu peserta didik/konseli dalam mencapai pengembangan potensinya secara optimal, kemandirian dalam kehidupannya, dan pengambilan keputusan dan pilihan untuk mewujudkan kehidupan yang produktif, sejahtera dan peduli kemaslahatan umum.Bimbingan dan konseling menyelenggarakan layanan peminatan peserta didik agar implementasi kurikulum 2013 berjalan lancar mencapai tujuan pedidikan.
Guna mencapai tujuan tersebut, maka penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling harus dilakukan oleh tenaga profesional yang memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi akademik dan kompetensi profesional sebagaimana yang tertuang dalam Permendiknas No. 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor, yaitu Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang Bimbingan dan Konseling dan telah lulus pendidikan profesi guru bimbingan dan konseling/konselor (PPGBK/K).
Pedoman ini sebagai acuan dasar dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan. Selanjutnya, sebagai langkah lanjut untuk operasional penyelenggaraan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan disusun Panduan Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar atau Direktur Jenderal Pendidikan Menengah sesuai dengan kewenangannya.
MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
REPUBLIK INDONESIA,
TTD.
MOHAMMAD NUH
Salinan sesuai dengan aslinya, Kepala Biro Hukum dan Organisasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
TTD.
Ani Nurdiani Azizah
NIP 195812011985032001

Tinggalkan komentar

Filed under Dunia Konseling

PENGAWASAN  PROFESIONAL KONSELOR SEKOLAH

PENGAWASAN  PROFESIONAL KONSELOR SEKOLAH

Pengantar

Sangat jarang untuk menemukan seorang profesional yang muncul dari program sarjana dan merasa sepenuhnya siap untuk pekerjaan yang ada di depan. Kesenjangan yang tak terelakkan ada antara pelatihan berbasis sekolah pascasarjana dan praktek magang, dan tuntutan pribadi dan profesional dari “dunia nyata.” waktu dan pengalaman mungkin diperlukan untuk mengintegrasikan dan menerapkan pengalaman pelatihan sebelum praktek profesional. Sebagai contoh, penelitian dalam bidang pendidikan guru menunjukkan bahwa tidak sampai tahun ketiga guru mengajar bahwa ia siap untuk menerapkan banyak metode yang diperkenalkan selama program pelatihan guru karena ia terlalu sibuk hanya “hidup. ”

Demikian pula, ketika seorang siswa meninggalkan program pelatihan konselor untuk memulai karir di sekolah, ia hanya sebagian terlatih untuk memberikan yang kompeten, layanan yang komprehensif (Matthes, 1992; Page, Pietrzak, & Sutton, 2001). Pada bagian, jalan melalui periode induksi akan menjadi kurang berbatu melalui waktu pada pekerjaan. Waktu yang dibutuhkan, misalnya, untuk memahami kebutuhan unik dari sekolah dan masyarakat di mana yang bekerja. Waktu juga diperlukan untuk membangun kepercayaan dengan rekan-rekan baik di dalam maupun di luar sekolah. Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk belajar bagaimana untuk menavigasi politik bangunan dan gaya kabupaten termasuk kepemimpinan dan agenda bersaing sebagai salah satu mencoba untuk menemukan tempat seseorang dalam tim pendidik.

Selain tugas-tugas awal yang akan dikuasai melalui waktu pada pekerjaan, tugas-tugas lain yang dihadapi konselor sekolah akan memerlukan upaya yang cukup. Bahkan, banyak penulis telah menekankan bahwa upaya ini harus menjangkau seluruh karir profesional seorang praktisi (Brott & Myers, 1999; Skovholt & rønnestad, 1992). Misalnya, keterampilan konseling diperkenalkan selama program pelatihan pascasarjana mungkin perlu perbaikan terus-menerus. Pengetahuan yang diperoleh selama sekolah pascasarjana dapat dengan cepat menjadi usang. tidak peduli berapa tahun pengalaman, konselor juga dapat menemukan jenis baru kasus atau situasi krisis yang membingungkan, etis menantang, dan stres memprovokasi.

Selain tantangan individu, konselor sekolah yang melanjutkan menyusuri jalan menuju kompetensi profesional menghadapi serangkaian tantangan yang unik kontekstual. Pertama, menekan masalah sosial mengintensifkan dan memudar dalam waktu yang sangat singkat, membutuhkan konselor sekolah untuk tetap mengikuti isu-isu saat berdampak siswanya. Sebagai contoh, sementara keterlibatan geng dapat menimbulkan panik tingkat tinggi dalam satu tahun, dampak dari berkembang biak laboratorium meth dalam sebuah komunitas dapat gerhana masalah yang geng berpose di tahun berikutnya. Kedua, metode mengobati orang dengan masalah berada dalam keadaan konstan evolusi. Konselor harus mencari pengembangan keterampilan yang terus-menerus tentang hal-hal seperti obat untuk gangguan kejiwaan anak-anak dan praktik terbaik dalam mengurangi kekerasan di sekolah
Demikian pula, ketika seorang siswa meninggalkan program pelatihan konselor untuk memulai karir di sekolah, ia hanya sebagian terlatih untuk memberikan yang kompeten, layanan yang komprehensif (Matthes, 1992; Page, Pietrzak, & Sutton, 2001). Pada bagian, jalan melalui periode induksi akan menjadi kurang berbatu melalui waktu pada pekerjaan. Waktu yang dibutuhkan, misalnya, untuk memahami kebutuhan unik dari sekolah dan masyarakat di mana yang bekerja. Waktu juga diperlukan untuk membangun kepercayaan dengan rekan-rekan baik di dalam maupun di luar sekolah. Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk belajar bagaimana untuk menavigasi politik bangunan dan gaya kabupaten termasuk kepemimpinan dan agenda bersaing sebagai salah satu mencoba untuk menemukan tempat seseorang dalam tim pendidik.

Tantangan terakhir adalah bahwa konselor sekolah bekerja dalam konteks politik dan sosial yang selalu berubah dari sekolah. Secara politis, upaya reformasi nasional dan lokal untuk memperbaiki sistem pendidikan pasti membentuk dan membentuk kembali prioritas semua karyawan yang bekerja dalam dinding-dinding sekolah. Konselor sekolah yang efektif harus memahami dan berusaha untuk tetap selaras dengan prioritas dan arah bangunan dan kabupaten baru mereka. Sosial, populasi warga di Amerika Serikat menjadi semakin lebih beragam, dengan proyeksi memperkirakan pergeseran untuk Amerika Eropa dari mayoritas status minoritas selama 50 tahun ke depan (Sue & Sue, 2003). Konselor sekolah yang belum diperiksa prasangka, bias, dan identitas mereka budaya tertanam harus membuat kesadaran budaya dan tindakan prioritas agar dapat secara efektif memenuhi kebutuhan siswa dan keluarga mereka (Paisley & McMahon, 2002).

Perhatian akhir tentang pengembangan profesional untuk konselor sekolah adalah bahwa pengiriman keterampilan dalam program pelatihan belajar lebih cepat, tetapi waktu dan penilaian dalam penggunaan keterampilan memakan waktu lebih lama untuk memperoleh (Holloway & Neufeldt, 1995). Meyer (1978) menemukan bahwa, tanpa pengawasan, tingkat keterampilan menurun setelah pelatihan. Crutchfield & Borders (2002) khawatir dengan menemukan bahwa berlatih konselor mencetak gol dalam rentang subtraktif pada uji empati menanggapi-keterampilan dasar yang kita mungkin menganggap mereka telah diperoleh pada tingkat tertentu penguasaan. Demikian juga, Granello (1997) menemukan bahwa, dibandingkan dengan rekan-rekan mereka dalam kesehatan mental, masyarakat, dan pernikahan dan keluarga konseling, yang meningkat perkembangan kognitif dengan pelatihan, konselor sekolah menunjukkan kecenderungan perkembangan kognitif regresif karena mereka berkembang di pelatihan.

Paling memprihatinkan adalah survei tindak lanjut 10 tahun konselor sekolah yang dinilai oleh supervisor dan guru rendah, rata-rata, dan tinggi efektivitas (Wiggins, 1993).
Bertentangan dengan gagasan bahwa konselor sekolah, pada umumnya, akan secara alami mengembangkan kompetensi yang lebih besar dengan pengalaman bertahun-tahun, hasil menunjukkan bahwa hanya 12 dari 193 dievaluasi konselor menerima rating lebih tinggi setelah 10 tahun pada pekerjaan. Dalam sampel, 33 konselor menerima peringkat yang lebih rendah dan 148 menerima rating efektivitas yang sama. Tanpa upaya bersama untuk mengatasi tantangan individu dan kontekstual, banyak penulis telah memperingatkan bahwa berlatih konselor sekolah menghadapi sejumlah risiko profesional, termasuk regresi dalam keterampilan, stagnasi, dan kelelahan (Crutchfield & Borders, 1997; Herlihy, Gray, & McCollum .2002; Meyer, 1978; Wiggins, Wilkerson, & Bellini, 2006).

Mengingat banyak tantangan, tampak jelas bahwa, karena mereka terus berusaha mencapai kemampuan di kehidupan profesional mereka, konselor sekolah profesional akan perlu mengakses banyak sumber pengembangan dan dukungan. Peneliti Merintis Skovolt dan Rønnestad (1992) mengemukakan bahwa pengembangan konselor adalah proses multiyear yang melibatkan banyak pengaruh yang berbeda, dimana konselor sangat manfaat dari pengawasan, terutama sejak dini. Proses bergerak dari pemula untuk terampil membutuhkan umpan balik dari klien, rekan-rekan, dan profesional yang lebih berpengalaman. Skovolt dan Rønnestad menyarankan bahwa dengan memperhatikan secara seksama pelatihan dan pengawasan, kemampuan dapat mengambil minimal sepuluh tahun. Bagaimana konselor sekolah terbaik mengatasi kebutuhan berjangkauan luas untuk pelatihan berkelanjutan, pengawasan, dan dukungan sepanjang karier mereka?

Tujuan bab ini adalah untuk meninjau apa yang diketahui tentang mengawasi perjalanan konselor sekolah ketika mereka bergerak dari konselor pemula segar dari program pelatihan untuk para profesional yang lebih berpengalaman. Kami akan memeriksa dasar dan penelitian temuan teoritis sekitarnya pada pekerjaan profesional pengembangan dan konselor sekolah supervisi. Kami juga akan memeriksa penelitian tentang praktik yang berpotensi mendukung yang dapat membantu konselor bergerak dengan lancar terhadap kompetensi dan efektivitas. Akhirnya, kita akan meninjau inovasi terbaru mengenai pengembangan profesional dan arah masa depan.

TEORI
Peran Pengawasan dalam Pembangunan Konselor

Pengembangan keahlian konseling adalah proses yang kabur. Hal ini tidak linear atau langsung dan dalam kasus konseling sekolah, biasanya terasa seperti “belajar dengan cepat.” Begitu banyak situasi muncul setiap hari dalam kehidupan seorang konselor sekolah yang tidak mungkin untuk menulis buku teks atau serangkaian buku pelajaran yang bisa mengatasi setiap tantangan potensial. Supervisor dapat memainkan peran penting dalam membantu para profesional baru untuk mengelola ketidakpastian yang melekat dalam peran konselor sekolah. Bahkan, penelitian tentang tahapan perkembangan konselor mengatakan bahwa pengawas memberikan pengaruh yang kuat pada konseptualisasi profesional baru ‘tentang pekerjaan mereka, keputusan tentang bagaimana untuk berlatih, dan pengembangan identitas profesional (Skovholt & Rønnestad, 1992). Konseling mahasiswa dan profesional awal bergantung pada pengawas keahlian baik in vivo atau Memori baik ke beberapa tahun pertama latihan mereka.

Karena belajar menjadi ahli menuntut pemahaman tentang bagaimana mengelola ambiguitas dan kompleksitas, mengembangkan profesional diperkirakan melewati serangkaian diprediksi tahap. Dalam konseling, perkembangan ini telah digambarkan sebagai model perkembangan yang terintegrasi, atau IDM (Stoltenberg, McNeill, & Delworth, 1998). Menurut IDM, Tingkat pertama telah disupervisi pelatihan terbatas, atau pengalaman minimal terbatas, dalam domain tertentu di mana mereka sedang diawasi. Kedua motivasi dan kecemasan yang tinggi. Supervisees difokuskan pada memperoleh keterampilan; mereka ingin tahu “yang benar” atau “terbaik” pendekatan dengan siswa dan klien lainnya. Pada Tingkat pertama, supervisees tergantung pada supervisor mereka. Mereka sangat, tetapi dengan kesadaran diri yang terbatas yang berfokus diri, dan mereka khawatir tentang evaluasi. Dengan demikian, mereka membutuhkan pendidikan terstruktur, umpan balik positif, dan sedikit konfrontasi langsung.

Pada Tingkat Dua, yang disupervisi transisi dari yang menjadi struktur-struktur independent dependent. Mereka mengalami fluktuatif kepercayaan. Meskipun berfungsi
lebih mandiri, mereka mungkin mengalami konflik antara otonomi dan ketergantungan, sebanyak satu tidak pada masa remaja. Konflik ini dapat bermanifestasi sebagai resistance diucapkan kepada pengawas dan atasan. Berkenaan dengan kesadaran, yang disupervisi di Level Dua memiliki kemampuan lebih besar untuk fokus pada dan berempati dengan siswa; Namun, “keseimbangan” masih menjadi masalah. Dalam supervisees muda, masalahnya mungkin menjadi nyata dalam peran kebingungan dan keterperangkapan dengan siswa dan keluarga siswa. Pengawasan bisa agak bergolak dalam tahap ini. Pengawasan Level Dua konselor mungkin memerlukan pengawas untuk mengenali perlawanan dan / atau keterperangkapan sebagai perkembangan di alam dan bekerja untuk memfasilitasi supervisee di nya pertumbuhan menuju otonomi.

Tingkat Tiga supervisee telah mencapai tingkat otonomi dan cenderung lebih fokus pada pendekatan personal untuk berlatih, serta penggunaan dan pemahaman tentang “diri” dalam konseling. Motivasi konsisten; keraguan tentang efektivitas sesekali akan terjadi, tetapi tidak akan melumpuhkan. Sebuah keyakinan yang kuat dalam pertimbangan profesional sendiri telah dikembangkan sebagai supervisee bergerak dalam praktek mandiri. Pengawasan cenderung lebih kolegial, sebagai perbedaan antara pengawas dan supervisee keahlian berkurang.

Tingkat Tiga supervisees kembali menjadi sadar diri, tetapi dengan kualitas yang sangat berbeda dari di Level pertama. Supervisees pada tingkat ini dapat tetap fokus pada siswa sementara juga melangkah mundur untuk menghadiri reaksi pribadi mereka sendiri untuk para siswa dan menggunakan kesadaran ini dalam pengambilan keputusan tentang siswa. Stoltenberg et al. (1998) mengusulkan tahap kedua ke Level Tiga pengembangan: Tingkat Tiga, Terpadu (Level 3i). Pada fase terpadu Tingkat Tiga, supervisee mampu menerapkan mengembangkan pengetahuan dan kesadaran domain di seluruh pekerjaan.

Dengan demikian, konselor sekolah pada tingkat ini akan merasa yakin seluruh tugas-tugas seperti mengembangkan kurikulum bimbingan; berinteraksi dengan orang tua; berinteraksi dengan administrator, guru, dan personil sekolah lainnya; dan menguasai teknis penjadwalan dan menasihati praktek. Meskipun tidak sepenuhnya berpengalaman, yang supervisee pada fase ini juga merasa yakin dalam menilai kebutuhan siswa dan mengembangkan intervensi kolaboratif untuk mengatasinya. Supervisees pada tingkat ini mampu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan mereka dan dapat memanfaatkan supervisor yang membantu mereka dalam proses ini dan membantu mereka untuk mengidentifikasi sumber-sumber pendidikan berkelanjutan.

Terus menerus Refleksi profesional: Kunci kemajuan perkembangan

Meskipun pembangunan konselor mungkin tampak untuk kemajuan sepanjang jalur linear, konseling profesional kesempatan sekutu menghadapi situasi yang menantang model procedural mereka saat ini seperti tentang bagaimana untuk menangani situasi dan menghasilkan pengalaman krisis. Sebuah contoh yang baik dari situasi seperti ini merasa yakin tentang mengetahui bagaimana dan kapan harus membuat laporan kepada layanan perlindungan anak tentang pelecehan anak. Anda telah memiliki beberapa pengalaman untuk melakukannya dan Anda bahkan telah mengembangkan hubungan dengan beberapa di lembaga kepada siapa Anda dapat mengandalkan. Situasi muncul dengan seorang mahasiswa yang mengaku pada Anda bahwa ayahnya telah mengalahkan dia pada beberapa kesempatan dan mengancam akan membunuhnya dan adik-adiknya jika ia mengatakan. Dia tidak memiliki gejala diamati pelecehan, dan personil sekolah lainnya telah mengatakan kepada Anda bahwa layanan perlindungan telah menyelidiki rumah sebelumnya tapi tidak bisa mendapatkan bukti yang jelas dari salah satu anak-anak bahwa pelecehan itu terjadi. Anda takut bahwa pelaporan tuduhan siswa untuk layanan perlindungan dapat mengakibatkan kerusakan lebih lanjut untuk siswa.

Kekhawatiran ini mengganggu pengetahuan prosedural tentang bagaimana mengatasi tuduhan pelecehan anak, dan Anda mengalami krisis setelah mengalami unfamiliar “warna abu-abu” sehubungan dengan pelaporan pelecehan anak. Pada saat-saat seperti ini, pengawas bisa sangat membantu. Mereka dapat memberikan “dalam informasi” diperlukan tentang bagaimana situasi melengking ditangani di sekolah atau di kabupaten, mereka dapat membantu konselor dengan disonansi kognitif dan kekhawatiran tentang hasil negatif untuk murid, dan mereka dapat memberikan dukungan yang diperlukan seluruh proses.

Dengan pengetahuan dan pengalaman dengan mengelola kompleks, menantang situasi baru, konselor berkembang lagi dapat bersantai dan merasa percaya diri karena ia telah mengembangkan tingkat lain pemahaman informasi dan prosedural. Sayangnya, bagaimanapun, tenang hanya template temporer dalam kehidupan seorang konselor sekolah. Kompleksitas pekerjaan memastikan bahwa krisis baru akan meletus dan pengawas yang bijaksana akan diperlukan untuk memberikan sumbang saran, informasi, dan dukungan. Dibutuhkan keterampilan yang kompleks untuk memikirkan masalah-masalah yang kompleks. Pengembangan optimal keahlian bergantung pada sikap keterbukaan dan kesediaan untuk merefleksikan proses belajar seseorang (Neufeldt, 1999; Neufeldt, Karno, dan Nelson, 1996). Proses refleksi profesional berkelanjutan (Skovholt & Rønnestad, 1992) melibatkan mengamati pekerjaan seseorang, serta pikiran seseorang dan perasaan tentang keputusan yang masuk ke pekerjaan. Mengingat tantangan yang dihadapi kontekstual konselor sekolah, seperti diversifikasi dari penduduk, reflektifitas harus dipraktekkan terus menerus untuk memberikan pelayanan yang responsif dan etika.

Reflektifitas adalah satu proses dapat melakukan setelah menyelesaikan tugas (seperti pembekalan setelah sesi konseling latihan atau melihat dan membahas sesi rekaman dengan supervisor). Schön (1983) disebut proses ini sebagai “refleksi pada tindakan.” Reflektifitas juga dapat terjadi ketika salah satu sedang dalam proses melakukan tugas-semacam “berpikir pada kaki seseorang.” Schön disebut kedua sebagai “refleksi tindakan. “Ketika para profesional telah mengembangkan keterampilan reflektif, mereka dipersenjatai dengan kapasitas untuk memproses situasi masalah yang lebih cepat dan mencari program produktif tindakan. Profesional yang mempelajari keterampilan reflektifitas kurang rentan terhadap “penyitaan prematur” pembangunan (Skovholt & Rønnestad, 1992); yaitu, mereka cenderung terjebak dalam rapuh, cara kaku berpikir dan bekerja yang pada akhirnya dapat menyebabkan ketidakpuasan dan kelelahan. Melalui umpan balik hati-hati dan mempertanyakan, supervisor dapat membantu dalam membantu konselor untuk mengembangkan keterampilan reflektif yang akan berlangsung seumur hidup.

Reflektifitas adalah suatu keahlian dan kecenderungan. Kata yang berkonotasi kapasitas untuk mengidentifikasi bidang pekerjaan seseorang yang perlu diperiksa, untuk terlibat dalam pengolahan menyeluruh situasi ini, dan untuk mengidentifikasi program tindakan berdasarkan keterlibatan dengan mereka. Reflektifitas juga menyiratkan kapasitas pemeriksaan diri, termasuk pertimbangan dampak perilaku seseorang pada orang lain dan identifikasi cara lebih banyak produktif berhubungan. Seorang supervisor yang baik tidak lebih dari sekedar berbagi informasi atau memberikan pelatihan keterampilan. Dia menyediakan papan terdengar untuk konselor negara berkembang, menawarkan dorongan bagi konselor untuk bergulat dengan masalah. Seorang supervisor yang baik memberikan kesempatan bagi konselor berkembang untuk terlibat dalam pemeriksaan diri dalam hubungan yang aman dan mendukung.

Kebutuhan Pengawasan Konselor Sekolah

Skovholt dan Rønnestad (1992) karya ilustrasi bagaimana konselor profesional terus menarik pengalaman pengawasan baik ke karir mereka; Namun, mereka penulis tidak secara khusus menyelidiki pengalaman konselor sekolah, yang mungkin atau mungkin tidak mendapatkan keuntungan dari bentuk standar supervisi klinis. Penggunaan supervisi klinis telah menjadi metode yang paling banyak dibicarakan dari memfasilitasi bagi pengembangan profesional untuk konselor sekolah. Pengawasan, secara umum, telah ditetapkan sebagai intensif, interpersonal terfokus, satu-ke-satu hubungan di mana satu orang yang ditunjuk untuk mengawasi pekerjaan orang lain dengan tujuan mengungkapkan memperbaiki kinerja dan meningkatkan pengembangan profesional (Feldstein, 2000; Henderson & Lampe, 1992; Loganbill, Hardy, & Delworth, 1982).

Supervisi klinis, khususnya, sering mengacu pada hubungan difokuskan pada pemberian pelayanan langsung atau meningkatkan pengetahuan klinis dan keterampilan untuk bekerja dengan individu siswa, kelompok, atau berkonsultasi dengan orang tua atau guru (Roberts & Borders, 1994). Fokus pada supervisi klinis untuk konselor sekolah kemungkinan besar berasal dari akar profesi dalam terapi dan praktek klinis. Sebagai Holloway dan Neufeldt (1995) mengatakan, “pengawasan tertanam dalam keyakinan kita tentang apa yang merupakan pelatihan psikoterapi” (hal. 212).

Sementara pengawasan dapat menjadi elemen penting dalam memastikan bahwa konselor menjadi profesional yang kompeten dan dikembangkan, sejumlah hambatan yang gigih untuk memberikan supervisi klinis kualitas di sekolah telah diidentifikasi, termasuk kurangnya dana dan kurangnya waktu untuk melakukan pengawasan (Crutchfield, McGarty, Pennington, Richardson, & Tsolis, 1997). Penghalang tambahan, ditunjukkan oleh Sutton dan Page (1994), adalah bahwa konselor sendiri mungkin tidak mencari supervisi klinis karena mereka kurang kesadaran mengapa pengawasan dapat membantu dan tidak yakin bagaimana untuk mendapatkannya. Selain itu, konselor sekolah dapat mengantisipasi bahwa supervisi klinis tradisional tidak dapat menyediakan mereka dengan keterampilan dan pengetahuan yang mereka butuhkan untuk beroperasi dalam lingkungan sekolah; dengan demikian, mereka mungkin merasa terhalang tentang bagaimana untuk mendapatkan bantuan yang mereka benar-benar butuhkan.

Temuan ini menimbulkan pertanyaan: Mengingat hambatan diamati penyediaan supervisi klinis untuk konselor sekolah, yang ada jalan lain untuk pengembangan dan dukungan yang dapat memenuhi kebutuhan profesional konselor sekolah ‘? Selanjutnya, mengingat tuntutan upaya reformasi sekolah seperti No Child Left Behind, yang konselor sekolah menghadapi tuntutan pengembangan profesional yang melampaui lingkup umum supervisi klinis? Pada bagian berikut, kita akan melihat komprehensif pada penelitian tentang banyak jalan pengawasan dan pengembangan profesional yang tersedia untuk konselor sekolah.

Penelitian

Kebutuhan untuk pengawasan dalam bidang konseling telah diakui secara luas selama beberapa dekade (Bernard & Goodyear, 2004). namun dialog mengenai pengawasan yang tepat dan praktek pengembangan profesional untuk konselor sekolah tidak dimulai dalam jurnal sampai pertengahan 1970-an. Mengacu pada kurangnya pengawasan yang memadai diberikan kepada kebanyakan konselor sekolah, Boyd dan Walter (1975) menyamakan konselor sekolah untuk tanaman kaktus, menyatakan bahwa “kedua bertahan hidup minimal nutrisi” (hal. 103), dan mereka menyerukan peningkatan memperhatikan pengembangan profesional konselor sekolah. Karena tulisan awal pada topik, banyak penulis telah menyatakan keprihatinan mengenai praktik yang tidak memadai dan penelitian yang terbatas (Barret & Schmidt, 1986; Brott & Meyers, 1999; Crespi, 1998).

Organisasi profesi juga telah ditimbang di dalam masalah ini. Pada tahun 1989, AACD (sekarang ACA) Konseling Sekolah Task Force menyatakan kebutuhan untuk ing pengawasan konseling berlatih konselor sekolah, menyimpulkan bahwa, “pengawasan yang tepat dari konselor sekolah kurang di terbaik, tidak ada yang paling buruk” (hal. 20) . Menyadari kurangnya penelitian, mereka juga merekomendasikan bahwa pendidik konselor di tingkat universitas memimpin dalam memulai studi penelitian baru. Pada tahun-tahun sejak laporan AACD, banyak artikel telah diterbitkan, namun bukti empiris terlepas ing sarana yang efektif untuk pengawasan sangat terbatas (Agnew, Vaught, Getz, & Fortune, 2000; Crespi, 1998).

Apa yang bisa kita ambil dari literatur yang ada? Pertama, sejumlah peneliti telah berusaha untuk menarik hubungan antara pengawasan dan prestasi kerja. Wiggins dan Weslander (1986) menemukan bahwa konselor dinilai sebagai yang paling efektif oleh administrator bangunan mereka memiliki peringkat lebih tinggi dari kepuasan pekerjaan, harga diri, dan toleransi terhadap ambiguitas daripada rekan-rekan mereka yang kurang efektif. Selain itu, sebuah studi terbaru oleh Hal-verson (2000) menunjukkan bahwa konselor sekolah bersedia untuk mengejar pelatihan dan pengawasan yang berkelanjutan menunjukkan tingkat yang lebih tinggi dari perkembangan moral daripada rekan-rekan mereka, dan bahwa mereka dengan tingkat yang lebih tinggi dari konseptual pembangunan menunjukkan tingkat yang lebih besar dari kepuasan kerja. Mengingat bahwa kita tahu bahwa pengawasan-dibandingkan dengan tanpa pengawasan-mempromosikan pengembangan konselor (Wiley & Ray, 1986), kita mungkin bisa berhipotesis bahwa pengawasan yang memadai dapat berkontribusi untuk pembangunan konselor konseptual, yang, pada gilirannya, dapat mempromosikan pekerjaan kepuasan dan kompetensi yang lebih besar.

Sejumlah survei telah menyatakan dengan jelas bahwa nasihat-ORS sendiri mengakui kebutuhan untuk dukungan profesional yang signifikan. Dalam penelitian kualitatif para penasihat sekolah Australia, peserta mengutip kekhawatiran tentang “blind spot,” prasangka dicentang, dan “terjebak ke dalam… menggunakan berbagai keterampilan sempit “karena isolasi profesional dan kurangnya praktek diawasi (McMahon & Patton, 2000). Beberapa survei juga menjelaskan bagaimana berlatih sekolah para penasihat melihat kebutuhan pengawasan mereka. Peserta Roberts dan Borders (1994) survei konselor sekolah di North Carolina menunjukkan bahwa mereka ingin pengawasan konseling untuk meningkatkan pertumbuhan profesional, memberikan dukungan profesional, dan menghindari kelelahan. Dalam sebuah survei nasional konselor sekolah Amerika (Page et al., 2001) dan survei Maine kecil (Sutton & Page, 1994), atas dua gol supervisi peserta termasuk (a) mengambil tindakan yang sesuai dengan klien dan (b) mengembangkan keterampilan dan teknik.

Penelitian juga telah mengungkapkan bahwa banyak konseling sekolah ORS berharap mereka memiliki paparan supervisi klinis, tetapi mereka tidak menerimanya (Page et al, 2001;. Roberts & Borders, 1994; Sutton & Page, 1994). Sebagai contoh, dalam sebuah survei nasional, Page et al. menemukan bahwa 67% mengatakan mereka inginkan beberapa jenis supervisi klinis, tetapi hanya 24% yang menerima itu. Temuan ini juga menunjukkan bahwa 33% dari konselor sekolah merasa tidak perlu untuk supervisi klinis.

Sebagai bukti pendukung, dalam survei mereka Nasional Bersertifikat Konselor (NCC), Borders dan Usher (1992) menemukan bahwa sejumlah besar konselor sekolah melaporkan bahwa mereka tidak perlu untuk supervisi klinis. Mereka juga menemukan bahwa konselor sekolah (39% dari 357 NCC disampel) yang berbeda dengan konselor lain dalam hal praktek-praktek yang ada dan dilaporkan kebutuhan untuk pengawasan. Secara khusus, konselor di sekolah menerima jam lebih sedikit pengawasan postdegree dari masyarakat atau konselor praktek swasta. Mereka juga lebih mungkin tidak menerima pengawasan dan melaporkan ingin supervisi lebih jarang daripada rekan-rekan mereka dalam pengaturan lain lakukan. Akhirnya, penulis melaporkan bahwa, “alasan yang paling sering konseling berbasis sekolah ORS ‘untuk menerima pengawasan adalah bahwa itu adalah persyaratan lingkungan kerja” (hal. 596) daripada keinginan untuk pengembangan profesional.

Bagaimana kita bisa menjelaskan mengapa beberapa konselor sekolah merasa mereka tidak perlu supervisi klinis dan lain-lain merasa bahwa mereka membutuhkan lebih dari itu? Ada kemungkinan bahwa konselor sekolah, seperti yang dalam studi Borders dan Usher (1992), yang mengatakan bahwa mereka tidak perlu memikirkan supervisi klinis sebagai pengawasan untuk psikoterapis tradisional daripada sebagai supervisi untuk konselor di sekolah. Memang, banyak pengawas klinis nasional tradisi yang belum bekerja di sekolah mungkin tidak memahami kebutuhan atau peran yang kompleks diasumsikan oleh konselor sekolah. Selain itu, konselor sekolah biasanya diawasi oleh administrator atau sekolah kepala sekolah yang memiliki sedikit atau tidak ada pengalaman konseling (Borders & Usher, Mathes, 1992; Roberts & Borders, 1994). Mungkin sebagai hasil dari pengalaman negatif, konselor sekolah yang kurang menarik tidak berpikir pengawasan adalah upaya yang bermanfaat. Masalah mendasar adalah bahwa kelangkaan pengawas dengan keahlian yang memadai daun konseling sekolah ORS rentan terhadap kurangnya dukungan berpotensi berharga dan pelatihan profesional.

Pada wajah itu, laporan dari minat yang terbatas dan penyediaan miskin supervisi klinis menimbulkan kekhawatiran etis. Kode etik dari American Psychological Association (APA, 2002) menyatakan, “Psikolog memberikan jasa, mengajar, atau melakukan penelitian di daerah baru atau melibatkan teknik-teknik baru hanya setelah melakukan studi yang tepat, pelatihan, supervisi, dan / atau konsultasi dari orang yang kompeten di bidang ini atau teknik “(hal. 4). Mandat ini menunjukkan bahwa profesional perlu konsultasi dan pengawasan saat mereka menghadapi kesulitan klien yang berada di luar jangkauan pengalaman mereka. Kedua, kode etik yang dikembangkan oleh American Association Konseling (ACA, 1995) sangat SUG-gests yang konselor profesional berpartisipasi dalam supervisi klinis sedang berlangsung dan teratur. Berbeda dengan pedoman khusus mengenai pengawasan di kode ACA, yang Ameri- dapat Sekolah Asosiasi Konseling (ASCA) menawarkan rekomendasi yang lebih luas. ASCA berfokus pada pengembangan profesional daripada mengambil sikap tertentu pada supervisi klinis. Secara khusus, dalam profesional tanggung jawab bagian dari ASCA Standar Etika untuk Sekolah Coun selors (2004) adalah pernyataan berikut: “konselor sekolah profesional berusaha melalui inisiatif pribadi untuk utama- kompetensi profesional tain dan untuk mengikuti perkembangan informasi profesional” (ASCA, 2004, hal. 125). ASCA Standar Etika juga negara, “Profesional dan pribadi pertumbuhan yang berkelanjutan di seluruh konselor karir” (hal. 125). Berbeda dengan kode APA dan ACA etik, kode ASCA tampaknya mencerminkan realitas konseling dalam pengaturan sekolah: Karena prioritas pendanaan di sekolah, supervisi profesional sebagian besar tidak tersedia untuk konselor sekolah. Semua kode etik, bagaimanapun, berarti bahwa konselor bertanggung jawab untuk mendapatkan konsultasi profesional yang berkelanjutan.

Jika, seperti penelitian tersebut menunjukkan, beberapa konselor sekolah benar-benar menerima supervisi klinis sebagai sarana pengembangan profesional, bagaimana mereka mematuhi standar etika organisasi mereka? Banyak artikel menjelaskan bagaimana konselor sekolah menemukan cara untuk “menjaga kompetensi profesional” dan tumbuh secara berkelanjutan. Pertama, jaringan informal konselor di suatu wilayah, serta pertemuan yang lebih formal dari tim distrik, mungkin cara penting untuk memerangi isolasi dan stres (McMahon & Patton, 2000). Ini jaringan informal dan formal dapat menjadi cara terbaik untuk konselor geografis terisolasi di daerah pedesaan untuk berkonsultasi tentang isu-isu pengawasan kritis. Kedua, kegiatan pengembangan profesional yang diberikan melalui lokakarya dan afiliasi profesional dengan organisasi negara atau nasional mungkin komponen penting dalam hal perolehan keterampilan dan pengembangan program (Fairchild & Zins, 1986). Para penasihat seperti mereka yang bekerja dalam pengaturan dasar tanpa rekan-rekan langsung dapat bernapas kehidupan baru ke dalam program mereka dengan menghadiri workshop dengan rekan-rekan yang memahami tantangan yang mereka hadapi. Akhirnya, sebuah argumen yang dibuat oleh Barret dan Schmidt (1986) bahwa supervisi klinis mungkin berhasil ditambah dengan jenis lain dari supervisi, termasuk pengawasan administrasi dan program.

PENGEMBANGAN PRAKTEK PROFESIONAL

Tren yang berlaku dan Inovasi Terbaru

Pada bagian ini, kita meninjau tren saat ini dan inovasi terbaru dalam praktek pengembangan profesional. Pertama, kita mengatasi kontribusi terhadap perkembangan konselor sekolah yang dapat dibuat dengan pengawasan administrasi dan program. Kedua, kita berbicara tentang supervisi  kelompok sebaya dan menjelaskan beberapa model yang diusulkan untuk supervisi kelompok sebaya. Akhirnya, kami menjelaskan kolaborasi sekolah-universitas konseling dan pengembangan profesional sekolah sebagai upaya kolaboratif yang lebih luas untuk memberikan supervisi dan peluang pengembangan bagi konselor sekolah.

Supervisi Administrasi

Supervisi administrasi digambarkan sebagai terfokus pada supervisi prestasi kerja pegawai dan efektivitas, hubungan staf, dan pencapaian kepada orang tua dan bagian lainnya (Henderson, 1994; Roberts & Borders, 1994). Supervisi administrasi tampaknya bentuk paling umum yang diterima oleh konselor, mengingat bahwa kepala sekolah dan administrator tingkat kabupaten mengambil peran primer dalam mengawasi pekerjaan konselor sekolah (Schmidt & Barret, 1983; Sutton & Page, 1994). Sementara kekhawatiran yang sering dikutip, beberapa penulis telah memberikan visi bagaimana administrasi pengawasan dapat bermanfaat. Satu daerah sekolah di Virginia mengembangkan program pengembangan profesional dimana konselor, dengan dukungan dari administrator, menciptakan sebuah penilaian individu untuk menargetkan area pengembangan profesional (Kaplan, Geoffroy, Pare, & Wolf, 1992). Kemajuan didokumentasikan melalui evaluasi tertulis, observasi, laporan diri, kaset video, dan survei guru. Evaluasi pendahuluan menunjukkan bahwa rencana mendorong dialog yang konstruktif antara administrator dan konselor dalam membantu konselor mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan mereka. Para penulis juga berspekulasi bahwa, “partisipasi administrator dalam proses memberikan dukungannya untuk kegiatan [konseling] (Hal. 168).

Di Mississippi, penilaian pekerjaan diamanatkan mulai pada tahun 1982 dan Asosiasi Konseling Mississippi mengambil peran utama dalam mengembangkan kompetensi konselor untuk mematuhi undang-undang baru. Housely, McDaniel, dan Underwood (1990) memulai survei untuk menyelidiki dampak dari penilaian baru. Mereka melaporkan bahwa hampir setengah dari konselor melaporkan peningkatan kejelasan Tujuan sebagai konselor, perasaan kompetensi, dan perasaan diri sebagai seorang profesional. Satu-satunya perubahan yang signifikan (p, 05), bagaimanapun, peningkatan kemampuan organisasi. Mereka juga menemukan laporan konselor kurang berpengalaman lebih besar daripada konselor yang berpengalaman.

Supervisi Program

Supervisi Program didefinisikan sebagai supervisi yang berfokus pada pengembangan program, implementasi, koordinasi, dan evaluasi. Mengingat bahwa konselor sekolah bekerja dalam konteks komprehensif dari National Model ASCA (2003) dan Pengembangan Sekolah Konseling dan Bimbingan program (Gysbers & Henderson, 2000, 2001) pemanggilan untuk mengembangkan skala-besar program pendidikan pencegahan, unsur-unsur yang ditangani oleh seorang supervisor program seperti koordinator konselor atau koordinator kabupaten, mungkin sangat penting untuk keberhasilan program konseling sekolah. Sekali lagi, bukan menolak sebagai “bawahan” standar profesional sekolah konselor, pengawasan Program mungkin penting untuk sukses, mengingat tuntutan program pada konselor sekolah hari ini. Sebagai contoh, dalam survei nasional berlatih konselor sekolah, Fairchild dan Zins (1986) menemukan bahwa lebih dari setengah dari responden mengumpulkan program data akuntabilitas untuk meningkatkan pengembangan profesional mereka. Para peneliti melaporkan bahwa konselor menggunakan data dalam berbagai cara termasuk “menunjukkan Efektivitas seseorang kepada orang lain (75,6%) dan meningkatkan kualitas jasa (71%) “(hal. 198). Dari mereka konselor tidak mengumpulkan Data akuntabilitas, persentase terbesar (52%) mengatakan mereka tidak akrab dengan metode itu.

Para peneliti menekankan program pelatihan konselor “Perlu memainkan peran yang lebih penting dalam memastikan konselor dalam pelatihan memperoleh evaluasi diri dan program keterampilan evaluasi “(hal. 198). Kami juga menyarankan program administrator yang mengambil peran utama dalam membimbing konselor melalui proses pengumpulan data dan evaluasi. Contoh terakhir yang menggabungkan administrasi dan Program supervisi melibatkan penggunaan evaluasi kinerja dalam Sekolah restrukturisasi Austin (Texas) Bimbingan kabupaten dan program konseling (Synatschk, 2002). Proses restrukturisasi 5 tahun dimulai ketika tim mendirikan deskripsi pekerjaan yang jelas dan diterima konselor dalam menciptakan sistem penilaian tahunan. Proses penilaian melibatkan masing-masing konselor menyelesaikan “rencana prioritas kampus” berdasarkan penilaian kebutuhan siswa, meninjau rencana dengan administrator sekolah, mengumpulkan bukti kerja di semua bidang komprehensif model bimbingan, dan berpartisipasi pada akhir tahun evaluasi konferensi. Meskipun Synatschk tidak ikut mengumpulkan proses implementasi data, dia melakukan laporan anekdot bahwa administrator memperoleh penghargaan besar untuk manfaat model konseling komprehensif.

Supervisi Kelompok Sebaya

Selain hubungan orang-ke-orang dalam klinis model supervisi, beberapa penulis telah menunjuk supervisi kelompok sebaya sebagai alternatif, berarti efektif-biaya diberikan pada supervisi konselor sekolah (Agnew et al., 2000; Benshoff, 1993; Benshoff & Paisley, 1996; Crutchfield & Borders, 1997; Spice & Spice, 1976). Selain itu, supervisi sebaya mungkin dialami oleh anggota kolektif dan dukungan, serta kurang mengancam, dari supervisi klinis berdasarkan struktur hirarkis dari “ahli” dan “pelajar” konfigurasi biasanya ditemukan di lokasi pelatihan klinis (Borders, 1991; Crutchfield & Borders, 1997). Meskipun kode etik profesional menunjukkan bahwa supervisi harus disediakan oleh anggota senior profesi yang sama-perintah tampak bertentangan dengan supervisi praktekan sebaya nonformal kegiatan profesional dalam pengaturan sekolah; oleh karena itu, semua konselor sekolah secara teknis sebaya-baik pemula dan konselor sama berpengalaman. Penulis bab kedua ini telah melakukan mengembangkan kelompok profesional untuk konselor sekolah di mana beberapa anggota jauh lebih senior daripada yang lain. Selain itu, kekurangan konselor sekolah yang berpengalaman mungkin memiliki keahlian dalam bagian tertentu, konselor tidak lebih senior. Untuk misalnya, seorang konselor sekolah pemula dengan pengalaman professional teknisi kejiwaan mungkin tahu lebih lanjut tentang obat psikotropika dibandingkan personil sekolah lainnya dan dengan memberi saran kepada konselor yang lebih senior tentang efek samping obat.

Salah satu cara untuk menjamin kualitas supervisi konselor sebaya dengan keahlian di bidang tertentu ketika diminta memimpin konsultasi dalam bidang keahlian mereka. Jika tidak ada keahlian yang berkaitan dengan masalah tertentu ada dalam kelompok konsultasi, seorang profesional dengan pengalaman di daerah dapat dibawa sebagai tamu konsultan. Supervisi kelompok sebaya dapat diatur dalam cara. C. G. Spice dan W. H. Spice (1976) triadic menggambarkan supervisi kelompok sebaya dimana konselor bertemu setiap minggu atau dua minggu untuk memberikan dukungan dan konsultasi satu sama lain. Sebagai anggota kelompok, konselor menyajikan secara bergantian di peran supervisee, fasilitator, dan komentator, banyak cara yang sama seperti  konseling siswa bekerja di dalam kelas karena mereka belajar keterampilan dasar. Kelompok ini memutuskan keanggotaan mereka sendiri, struktur, dan pertemuan, berdasarkan kebutuhan dan kepentingan supervisi seperti orientasi teoritis tertentu, tingkatan kelas disajikan, dan atribut interpersonal.

Borders (1991) mengusulkan supervisi kelompok format terstruktur yang menawarkan beberapa saran untuk peran peserta, serta kegiatan kelompok, termasuk kasus presentasi dan rekomendasi, bermain peran, memberikan konstruktif umpan balik, dan melihat kasus presentasi dari berbagai orientasi teoritis. Meskipun model Borders adalah generik dan tidak terbatas pada supervisi konseling kelompok sebaya sekolah, memberikan alasan-alasan rinci dan strategi untuk mengatur dan berpartisipasi dalam supervisi kelompok sebaya dan “harus membaca” setiap kelompok konselor profesional ingin mengejar supervisi sebaya  kolaboratif. Baru-baru ini, Benshoff dan Paisley (1996) memberikan format selama sembilan minggu terstruktur supervisi sebaya di tiap pertemuan. Dalam model, kegiatan terstruktur termasuk pemeriksaan kesesuaian peran dan harapan konselor di sekolah masing-masing, diskusi peserta dari perubahan yang dibutuhkan dalam pelayanan konseling sekolah pada setiap peserta sekolah, dan review yang sedang berlangsung dengan konseling audio atau rekaman video. Peserta di awal Benshoff dan Model Paisley menunjukkan kepuasan yang kuat dengan pengalaman mereka.

Meskipun model waktu terbatas dan dirancang untuk supervsi sebaya, direkomendasikan kegiatan yang mudah diadopsi dan diadaptasi sesuai kebutuhan kolaborasi supervisi sebaya. Crutchfield dan Borders (1997) membandingkan relatif efektivitas Borders (1991) dan Benshoff dan Paisley (1996) model dan menemukan, terlepas dari format, peserta menyatakan puas dan meningkatkan konseling self-efficacy sebagai hasil dari partisipasi mereka. Selain itu, pemeriksaan kualitatif efektivitas Model Borders juga memberikan hasil yang menjanjikan (Crutchfield et al., 1997). Meskipun banyak penelitian yang diperlukan pada efektivitas supervisi sebaya, kami menyarankan agar trainee konselor sekolah melakukan upaya serius baik bergabung atau memulai pertemuan supervisi sebaya biasa, apakah dalam format atau kelompok.

Kolaborasi Sekolah-Universitas Konseling dan Pengembangan Sekolah Profesional

Kolaborasi upaya pengembangan profesional antara Departemen Pendidikan Konselor dan wialyah Sekolah tampaknya memberikan dukungan, pembaharuan, dan pembelajaran yang berkelanjutan untuk konselor sekolah profesional, serta pendidik konselor (Blackman, Hayes, Reeves, & Paisley, 2002; Hayes, Paisley, Phelps, Pearson, & Salter, 1997; Thomas, 2005). Sebuah kolaborasi antara Konseling University of Georgia Fakultas Sekolah dan Sekolah wilayah Clarke County telah berlangsung sejak 1992. konselor sekolah dan konselor pendidik bertemu selama 3 jam tiap bulan di kampus universitas untuk membahas masalah bersama, berbagi informasi, dan berpartisipasi dalam pelatihan profesional. Sebuah program kualitatif evaluasi mengungkapkan bahwa peserta menemukan kolaboratif menjadi sumber pribadi dan pembaharuan profesional dan dukungan, pengembangan profesional, dan masyarakat (Blackman et al., 2002). Konselor sekolah mengungkapkan jenis partisipasi menghancurkan rasa isolasi dan memberikan kontribusi besar terhadap rasa validasi mereka dalam melakukan pekerjaan yang baik. Peluang yang sama untuk dukungan yang berkelanjutan dan pelatihan mungkin tersedia melalui pengembangan profesional sekolah, dimana sebuah perguruan tinggi atau sekolah mitra pendidikan dengan sekolah untuk memberikan pendidikan dan pelatihan kolaboratif untuk personil sekolah, dosen, dan mahasiswa pendidikan (Clark & ​​Horton-Parker, 2002). Splete dan Grisdale (1992) menjelaskan Akademi Pengembangan Profesional untuk sekolah konselor di 28 kabupaten di Oakland County, Michigan. Peserta Akademi menghadiri  pelatihan penuh selama 12 bulan. Mereka menerima lanjutan kredit pendidikan untuk berpartisipasi. Penilaian kebutuhan akademik pada tiap awal tahun di isi pelatihan di identifikasi spesifik untuk melatih kebutuhan konselor. Evaluasi dari Oakland Academy yang positif seragam, dengan peserta menunjukkan partisipasi akademi meningkatkan motivasi mereka, efektivitas konseling dirasakan, dan profesional dengan kecanggihan (Waidley & Pappas, 1992). Selanjutnya, akademi untuk konselor sekolah berdasarkan model Akademi Oakland telah didirikan di beberapa kabupaten Michigan. Meskipun penelitian belum membentuk hubungan antara efikasi diri dan kompetensi profesional, seseorang dapat berhipotesis bahwa kombinasi pengalaman self-efficacy dan motivasi akan meningkatkan hasil dalam konseling sekolah.

ARAH MASA DEPAN

Jelas, ada kebutuhan suara untuk meningkatkan supervisi konselor sekolah. Bukti menunjukkan arah manfaat pengembangan profesional berkelanjutan untuk sekolah konselor dalam hal rasa kebersamaan, self-efficacy ditingkatkan, pengalaman dukungan profesional, validasi untuk pekerjaan yang baik, dan pencegahan kelelahan. Selain itu, etika Kode kedua ACA dan ASCA menekankan pentingnya supervisi biasa atau mengejar pengembangan peluang profesional. Tantangan yang berkelanjutan kami sebagai profesi terus menjadi cara untuk memberikan kesempatan dan mengevaluasi hasil dari upaya kami. Pada bagian ini, kami merangkum isu-isu kritis yang membahas berkenaan dengan baik praktek dan penelitian tentang supervisi praktikan konselor sekolah dan membuat rekomendasi bagaimana profesional di semua tingkatan dapat berkontribusi pada pengembangan  konselor berkelanjutan dan penyediaan pelayanan optimal kepada siswa.

Implikasi untuk Praktek

Dalam survei, Borders dan Usher (1992) menemukan bahwa mayoritas praktikan konselor ingin memiliki beberapa bentuk supervisi, dan yang paling ingin supervisi menyediakan tempat untuk mereka bekerja. Borders dan Usher menyebutkan pelatihan lebih untuk supervisi memenuhi kebutuhan supervisi profesional semua konselor pascasarjana, termasuk konselor sekolah. Goodyear dan Bernard (1998) berpendapat bahwa, idealnya, pengawas dari profesi apa pun harus menjadi anggota senior profesi yang sama secara aktif mengejar pengembangan profesional mereka sendiri dan yang trainee supervisor. Demikian juga, Page et al. (2001) menemukan bahwa konselor sekolah ingin di supervisi oleh konselor sekolah senior yang juga trainee supervisor. Keterbatasan dana saat ini diberikan di sekolah  Amerika, sangat tidak mungkin banyak daerah akan dapat memberikan ahli tersebut untuk mensupervisi konselor pada secara teratur. Hanya sedikit beruntung dapat memanfaatkan diri dari layanan tersebut. Selain itu, kami menyadari bahwa banyak sekolah yang menawarkan peluang bagus untuk konselor sekolah berkonsultasi dengan rekan-rekan dan pegawai sekolah lainnya seperti psikolog, perawat, terapis, dan pembicara terapis melalui partisipasi siswa dalam pertemuan tim intervensi.

Hal ini dimungkinkan, namun, untuk lembaga seperti sekolah tingkat kabupaten dan universitas untuk memberikan pengembangan kredit profesional, seperti Oakland County, Michigan, dan daerah berdekatan menunjukkan. Penciptaan sekolah pengembangan profesional telah menunjukkan bagaimana sekolah dan universitas dapat bermitra bersama-sama untuk mengatasi kekhawatiran kritis umum. Meskipun penelitian telah menunjukkan pengawasan kelompok sebaya dan upaya pengembangan profesional yang efektif dalam arti  mereka dapat meningkatkan motivasi dan self-efficacy, lapangan belum menunjukkan jenis pengembangan profesional dan peluang supervisi lebih efektif ketimbang orang lain atau yang mewakili “praktik terbaik.” tujuan itu bagi upaya penelitian yang sedang berlangsung. Berdasarkan atas temuan dari studi kami review dalam bab, namun, kami ingin membuat berikut rekomendasi:

  • Program pendidikan konselor harus menjadi akrab dengan penjangkauan dan pendidikan berkelanjutan unit di kampus-kampus untuk tambahan kredit, melanjutkan kursus pendidikan profesional untuk konselor sekolah. Melanjutkan kursus pendidikan profesional mungkin melibatkan lanjutan supervisi dalam format kelompok atau pelatihan yang sistematis dalam format supervisi sebaya.
  • Program pendidikan konselor harus menawarkan kursus dalam supervisi kepada siswa dalam program mereka, untuk konselor pacasarjana sekolah, atau keduanya. Idealnya, kursus ini harus disediakan oleh supervisor profesional dan konseling sekolah harus melibatkan pelatihan pendampingan konselor dalam pengaturan sekolah.
  • Pelatihan profesional konselor sekolah harus menekankan pentingnya memperoleh supervisi lanjutan selama profesional kerja dan praktikan konselor bertanggung jawab untuk mendapatkan bahwa supervisi. Seperti penekanan menjadi bagian dari pelatihan etika semua konselor sekolah.
  • Konseling Profesional sekolah harus atas diri sendiri, sebagai suatu kewajiban etis, untuk mengejar supervis lanjutan dan pengembangan profesional membentuk kursus, supevisi profesional, dan supervisi sebaya sepanjang karier mereka.

Implikasi untuk Penelitian

Banyak penulis telah menunjukkan kelangkaan penelitian supervisi konseling sekolah (Agnew et al., 2000; Bernard & Goodyear, 2004; Crespi, 1998). Selain itu, Bernard dan Goodyear menunjukan kebutuhan penelitian lebih lanjut pada efektivitas supervisi, terutama untuk konselor sekolah. Penelitian tentang konselor sekolah sulit dilakukan karena sebuah birokrasi harus bernegosiasi untuk mendapatkan ukuran sampel yang memadai. Setiap sekolah tentu memiliki beberapa konselor sekolah yang berpartisipasi dalam skala besar pengumpulan data. Salah satu alasan survei penelitian pada konselor sekolah umum. Metode kualitatif juga meminjamkan diri untuk sampel kecil, dan banyak penelitian dikutip pada pengembangan konselor dan proses supervisi yang ada. Banyak pekerjaan yang diperlukan, namun, untuk mendokumentasikan jenis supervisi yang berkontribusi terhadap pengembangan profesional lanjutan konselor sekolah dan efektivitas kerja mereka. Kami telah mengidentifikasi jenis supervisi yang mungkin tersedia untuk konselor sekolah: (a) supervisi administrasi, (b) supervisi program, dan (c) supervisi klinis. Kami juga telah merekomendasikan konselor sekolah profesional berpartisipasi dalam beberapa bentuk supervisi sebaya secara teratur. Agenda yang sesuai untuk penelitian supervisi pascasarjana yang akan membandingkan kontribusi relatif bahwa masing-masing jenis supervisi untuk membuat Pengembangan konselor sekolah dan efektif kerja. Dua duanya metode kuantitatif dan kualitatif akan berguna dalam upaya ini.

KESIMPULAN

Ada pengetahuan tentang kehidupan kerja praktikan konselor sekolah menunjukkan bahwa ada kebutuhan keseluruhan untuk supervisi lebih dan kesempatan pengembangan profesional. Konselor yang belum pascasarjana bukti perkembangan supervisi yang lebih besar dan stagnasi. Selain itu, tanpa masukan profesional lanjutan, terutama konselor yang bekerja di isolasi satu atau lebih sekolah dapat beresiko untuk melanggar prinsip-prinsip etika. Supervisi kelompok sebaya dan partisipasi dalam workshop pengembangan profesional dapat meningkatkan self-efficacy konselor sekolah, motivasi, dan rasa komunitas. Meskipun penelitian belum mendokumentasikan peluang pengembangan profesional konselor sekolah yang efektif, kami percaya praktikan konselor sekolah wajib etis untuk disupervisi dalam kegiatan pengembangan karier mereka. Lebih Jauh, program pendidikan konselor di Amerika Serikat mengambil peran yang kuat dalam mendukung pekerjaan konselor sekolah dengan memberikan peluang pengembangan profesional lanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Hardin L. K. Coleman dan Christine Yeh. 2011. Handbook Of School Counseling. New York: Routledge

Tinggalkan komentar

Filed under Dunia Konseling

motivasi diri

Tinggalkan komentar

Filed under vidio

MENINGKATKAN PEMBINAAN DAN PROGRAM KONSELING KOMPREHENSIF ANDA BERDASARKAN KEBUTUHAN DAN EVALUASI DATA

MENINGKATKAN PEMBINAAN DAN PROGRAM KONSELING KOMPREHENSIF ANDA BERDASARKAN KEBUTUHAN DAN

EVALUASI DATA 

Meningkatkan-Mendesain ulang bimbingan dan program konseling komprehensif Anda

  • Berkomitmen untuk proses redesain
  • Mulailah proses mendesain ulang dengan mengumpulkan kebutuhan dan evaluasi data
  • Membuat mendesain ulang keputusan atas dasar kebutuhan dan evaluasi data
  • Menerapkan desain baru
  • Memahami bahwa revitalisasi tindak redesain

Dalam bab 2, sampel jadwal menunjukkan bahwa setelah mengumpulkan Program, personel, dan data evaluasi hasil selama beberapa tahun, perlu untuk melangkah mundur dan memikirkan kembali seluruh program Anda. Waktu untuk mempertimbangkan mendesain ulang untuk menggabungkan setiap revisi kecil Anda telah membuat secara teratur dari waktu ke waktu. Juga, waktu penuh mungkin telah berlalu dari waktu siswa, sekolah, dan data masyarakat berkumpul untuk digunakan dalam merancang program asli Anda bahwa kebutuhan siswa dan keadaan sekolah dan masyarakat mungkin telah berubah. Kami menyebutnya desain ulang ini proses peningkatan program.

Redesain didasarkan tidak hanya pada data dari pekerjaan evaluasi yang sedang berlangsung, tetapi juga pengamatan Anda dan orang-orang dari siswa. Orang tua, dan administrator tentang seberapa baik program ini telah fungsi dari waktu ke waktu. Selain itu, didasarkan pada setiap realitas baru yang sekarang hadir di daerah anda. Mendesain ulang progam secara berkala adalah bagaimana Anda memastikan relevansinya bagi masyarakat siswa dan sekolah Anda. Redesain dapat menyebabkan baru atau bergeser prioritas untuk program konten, klien dan intervensi. Hal ini juga dapat menyebabkan prioritas baru atau bergeser untuk penggunaan waktu dan bakat konselor sekolah.

Hal penting untuk diingat bahwa proses desain ulang tidak mengubah kerangka dasar program yang dijelaskan dalam bab 3. Bahasa yang digunakan untuk menggambarkan kerangka dasar tetap sama. Apa yang mungkin berubah, bagaimanapun, akan terjadi dalam kerangka program: isi (standar siswa), deskripsi dan asumsi, intervensi, dan penggunaan waktu dan bakat konselor sekolah. Program dan personil prioritas juga bisa berubah.

Dalam bab ini, pertama kita menyoroti kebutuhan untuk berkomitmen untuk proses desain ulang. Kami membahas seberapa sering program harus terlibat, dan apa langkah yang harus diambil. Kemudian kita fokus pada apa yang terlibat dalam memulai proses desain ulang. Perhatian diberikan kepada mengumpulkan data yang diperlukan untuk menggunakan untuk memulai proses desain ulang. Berikutnya, kami memberikan perhatian untuk membuat keputusan desain ulang atas dasar data yang dikumpulkan. Akhirnya, kami menjelaskan apa yang terlibat dalam menerapkan desain baru dan menekankan fakta bahwa program dan personil revitalisasi mengikuti proses desain ulang. Anda akan mencatat bahwa proses desain ulang mengikuti proses yang sama yang Anda gunakan awalnya untuk merancang Anda bimbingan dan konseling program yang komprehensif. Contoh desain ulang. dari Northside tingkat sekolah independen di San Antonio Texas, yang digunakan di seluruh bab ini untuk menggambarkan apa yang terjadi ketika sebuah distrik sekolah melewati proses desain ulang-perangkat tambahan.

Berkomitmen untuk Proses desain ulang

Dalam berpikir tentang mendesain ulang sebuah program bimbingan dan konseling yang komprehensif, Anda perlu menjawab tiga ada pertanyaan. Seberapa sering program harus dirancang ulang? Siapa yang harus dilibatkan? Langkah-langkah apa yang harus diambil dalam proses desain ulang?

Seberapa Sering Harus Program yang dirancang ulang?

Anda akan ingat bahwa bab 2 menyediakan jadwal 10-tahun yang dimulai dengan tahun 1 perencanaan dan diakhiri dengan tahun 9 dan 10 Ditambahkannya. Anda juga akan ingat bahwa tahun 4 sampai 8 difokuskan pada tenaga, Program, dan hasil evaluationt sehingga setelah program ini ip dan berjalan, evaluasi berjalan. Akhirnya, ingat bahwa siklus 10-tahun itu dipilih untuk tujuan ilustrasi. Kabupaten Anda mungkin pada jadwal yang lebih pendek. Jadi seberapa sering seharusnya program akan dirancang kembali? Kami menggunakan istilah periodik untuk menunjuk selang waktu yang cukup lama untuk proses evaluasi yang sedang berlangsung (personil, Program, dan hasil) untuk mulai menunjukkan bahwa perubahan besar diperlukan.

Ingat, perubahan harus selalu dilakukan secara berkelanjutan sesuai kebutuhan, tunas desain ulang Program (peningkatan) fase harus dimulai ketika data evalution cukup telah mengumpulkan untuk menjamin perubahan besar, yang bisa menjadi 9 sampai 10 tahun atau lebih pendek tergantung pada jadwal kabupaten Anda untuk review program. Sekolah dan distrik sekolah mengubah prorities sebagai reformasi pendidikan baru datang ke perhatian mereka, sebagai tujuan akademis atau perilaku baru untuk permukaan siswa, dan untuk berbagai alasan lain. Sebagai intergral bagian dari sekolah, bimbingan dan konseling program harus telah prioritas mereka dinilai secara tepat waktu untuk memastikan keselarasan dengan ystems lebih besar di mana mereka beroperasi dan dengan rencana perbaikan sekolah kabupaten komprehensif.

Siapa yang Harus Terlibat?

Mendesain ulang untuk meningkatkan pembinaan dan program konseling membutuhkan perhatian dan ketelitian yang sama seperti yang diperlukan dalam menciptakan desain secara dini. Perubahan besar memerlukan upaya besar. Perbaikan yang cepat dan solusi sederhana mengganggu desain Program. Mereka sering menambahkan intervensi atau mengkonsumsi waktu tanpa pertimbangan yang diberikan seperti apa intervensi akan menggantikan atau efisien untuk membuat ruang dalam desain untuk mereka. Mendesain ulang program yang terbaik dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah pengembangan program yang sama yang diambil pertama kalinya. Seperti dalam menciptakan desain awal untuk bimbingan dan konseling program yang komprehensif, tiga kelompok berbeda yang terlibat dalam proses desain ulang: komite, komite penasihat sekolah-masyarakat, dan kelompok kerja. Komite pengarah terdiri dari individu-individu yang mendukung dan melaksanakan program tersebut. Ini termasuk konselor sekolah yang membentuk atau mewakili tim kepemimpinan bimbingan dan administrator tingkat kabupaten untuk program ini. Anggota tingkat perkembangan termasuk kepala sekolah dan guru. Pengarah bimbingan komite untuk memproses dan membuat rekomendasi tentang program, struktur, dan prioritas. Rekomandasi mereka akan diteruskan ke kebijakan kabupaten dan pengambil keputusan administratif.

Komite penasihat masyarakat sekolah, karena Anda akan ingat dari Bab 2, terdiri dari konsumen Program: siswa, orang tua, guru, dan anggota anggota komite masyarakat mungkin wakil dari mahasiswa, dari orang tua, guru, dan anggota masyarakat. Anggota masyarakat mungkin wakil dari mahasiswa, dari asosiasi orang tua, dari perkembangan komite manajemen berbasis situs-dan dari komunitas bisnis dan kesehatan mental. Mereka membuat saran dari perspesctive kelompok mereka mewakili mengenai alasan untuk program ini, mungkin prioritas yang akan dibahas dalam program, dan arah baru mereka melihat sekolah dari kabupaten dan masyarakat di bergerak maju.

Kelompok kerja melibatkan mungkin sebanyak konselor sekolah. (Ingat pepatah kami tidak pernah menggunakan satu ketika dua akan melakukan!) bantuan kelompok dalam menganalisis data evaluasi yang menggambarkan status program saat ini, menunjukkan hasil program, dan menunjukkan tren dalam konteks yang lebih besar dari sekolah dan masyarakat. Mereka mengidentifikasi kebutuhan baru dan terus sekelompok siswa. Mereka melakukan banyak kerja keras dalam menyajikan data dan informasi kepada panitia.

Langkah-langkah apa yang harus diambil?

Desain ulang untuk meningkatkan proses merupakan tanggung jawab utama, dan langkah-langkah yang cermin yang digunakan dalam pengembangan awal program anda: mendapatkan terorganisir, berencana merancang, merencanakan transisi, dan menerapkan desain program baru. Tabel 11.1 memberikan gambaran tentang proses desain ulang ini.

Sebagai komite pengarah berlangsung melalui tahapan proses desain ulang program yang anggotanya mempertimbangkan data evaluasi dalam konteks desain awal program realitas saat ini, dan kemungkinan-kemungkinan baru. Pertimbangan ini menyebabkan keputusan desain baru seperti prioritas program baru dan parameter baru untuk alokasi sumber daya. Data evalution disediakan untuk komite pengarah mengenai penggunaan bakat dan waktu konselor, keseimbangan Program dan intervensi yang dilakukan, siswa dilayani (oleh sub-populasi) dan hasil konten ditangani dan dicapai. Informasi juga disediakan mengenai unsur lain dari bimbingan dan konseling program yang komprehensif Anda: komponen struktural (bab 3) dan sumber daya dialokasikan, termasuk sumber pendanaan untuk berbagai aspek program.

Realitas saat ini dikenal oleh data dari sana jenis evaluasi (Program, personel, dan hasil) dan dari sekolah baru dan informasi masyarakat juga. Mengingat bahwa konselor sekolah membuat usaha untuk mematuhi prioritas Program awalnya didirikan dan parameter, daerah di mana data evaluasi menunjukkan pertandingan yang baik dan buruk dengan desain yang diinginkan menunjukkan kekuatan yang kita sebut realitas. Pertandingan yang baik menunjukkan bahwa desain asli sesuai dengan realitas (kebutuhan, tujuan, parameter waktu sekolah. Pertandingan jelek menunjukkan bahwa desain asli mungkin tidak layak. Prioritas komite pengarah, misalnya, mungkin telah ditetapkan untuk topik atau daerah untuk diatasi melalui intervensi yang direncanakan dalam layanan komponen resposive, namun data evaluasi program dapat menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir konselor sekolah menghabiskan sebagian besar waktu mereka bekerja di daerah.

Tabel 11.1

Proses mendesain program

Mendapatkan terorganisir

  • Sumber ulasan eksternal mengenai status bimbingan dan konseling di kabupaten atau      personel sekolah, hasil dan data evaluasi program.
  • Komitmen Aman untuk mendesain ulang
  • Mengadakan tim kepemimpinan bimbingan dan konseling
  • Mengidentifikasi kebutuhan untuk desain ulang
  • Mengembangkan rencana desain ulang
  • Bentuk bimbingan dan komite pengarah konseling, komite penasihat sekolah- masyarakat
  • Mengembangkan strategi penilaian kebutuhan siswa
  • Kumpulkan masukan perihal: Program kebutuhan perbaikan

Perencanaan

  • Meninjau sejarah perkembangan dan pelaksanaan program
  • Konfirmasikan komitmen kembali untuk Model Program
  • Menilai siswa dan kebutuhan klien lain
  • Diskusikan informasi kontekstual baru
  • Merevisi komponen struktural: pemikiran, asumsi, definisi
  • Menganalisis data evaluasi penilaian status

Mendesain ulang

  • Merevisi desain kualitatif: prioritas untuk hasil siswa, menyeimbangkan untuk layanan klien, standar operasional untuk komponen (pelaksanaan program) prioritas untuk digunakan kompetensi konselor
  • Merevisi desain kuantitatif: keseimbangan Program, rasio

Transisi Perencanaan

  • Kumpulkan masukan untuk rancangan akhir dari program desain ulang
  • Mengumpulkan data tambahan mengenai dimensi Program desain ulang
  • menulis kembali kerangka kerja bimbingan dan program konseling komprehensif
  • Daftar rekomendasi akhir untuk perbaikan program
  • Kenalkan Program kampus kabupaten atau proses perkembangan

Melaksanakan program didesain ulang

  • Kembali ke Merancang perencanaan transisi (Bab 6) dan menerapkan pembuatan transisi (bab 7) set tugas dan tugas selanjutnya dalam rencana instalasi awal.

Itu tidak bahkan di daftar. Dalam Northside Independent disrtict sekolah di San Antonio, Texas, misalnya, data evaluasi menemukan daerah seperti membendung dari masalah ketegangan ras dan etnis dan dari kurangnya siswa dan staf efektifitas dalam situasi lintas budaya.

Memulai proses desain ulang dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber

Sekarang komitmen telah dibuat untuk mendesain ulang program bimbingan dan konseling yang komprehensif dan Anda tahu siapa yang harus terlibat dan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengambil, tugas berikutnya untuk memulai proses desain ulang. Salah satu tugas dalam proses ini adalah untuk mengumpulkan dan menganalisis data, dan tren konseling sekolah profesional. Tugas lain adalah untuk mengumpulkan dan menganalisis personil, program dan data program intervensi. Anda juga akan perlu untuk mengumpulkan dan menganalisis data desain kualitatif tentang kinerja konselor sekolah, layanan klien, standar komponen Program, dan pengetahuan dan keterampilan siswa  baru butuhkan. Akhirnya, Anda perlu untuk mengumpulkan dan menganalisis desain kuantitatif membutuhkan informasi mengenai keseimbangan Program, rasio mahasiswa konselor-, dan jumlah siswa diperlukan.

Internal dan Data Eksternal

Kebutuhan Data Siswa

Menetapkan siswa perlu bantuan dari program bimbingan dan konseling komprehensif yang dilakukan secara berkala untuk mengidentifikasi kebutuhan baru untuk menunjukkan prioritas baru di antara kebutuhan yang teridentifikasi sebelumnya. Di beberapa sekolah, penilaian ulang siswa perlu menemukan kebutuhan siswa mereka  menemukan perhatian lebih harus untuk multikulturalisme, kabupaten lain telah menemukan bahwa siswa mereka membutuhkan bantuan lebih dalam menghadapi kekerasan disekitar mereka dan mengembangkan kemarahan dan konflik manajemen keterampilan. Kebutuhan siswa lainnya diidentifikasi telah memasukkan nomor peningkatan siswa yang merasa terasing dari sekolah dan staf sekolah dan meningkatkan jumlah siswa yang membutuhkan bantuan lebih lanjut karena mereka membuat rencana pengembangan pendidikan dan karir. Juga, mahasiswa di beberapa kabupaten membutuhkan bantuan dalam menetapkan tujuan yang menantang bagi diri mereka sendiri.

Tujuan Sekolah

Sebagai pengurus sekolah, pengawas, kepala sekolah, dan lainnya tingkat senior administrator perubahan sekolah, filosofi dan kebijakan juga bisa berubah. Sebagai masyarakat dan sekolah pelanggan berubah, prioritas pendidikan untuk perubahan juga. Bahkan misi distrik sekolah dapat mengubah dengan membungkuk politik masyarakat. Amerika mencoba untuk menyamakan dana yang membawa lebih banyak uang ke beberapa sekolah. Dana yang tidak mencukupi sekolah kabupaten lainnya. Tujuan pendidikan kabupaten dan inisiatif bervariasi dari tahun ke tahun sebagai legislatif berubah dan pendidikan mengidentifikasi ide-ide untuk perbaikan. Gerakan standar membawa peningkatan penekanan pada prestasi akademik. Upaya perencanaan strategis kabupaten seperti rencana perbaikan sekolah mereka harus memungkinkan mereka untuk lebih memahami masyarakat dan untuk merancang-gedung sekolah mereka untuk membangun-untuk merespon kebutuhan dan tujuan masyarakat.

Proses dimana keputusan dibuat dalam perubahan sekolah, mengubah ada hanya iklim sekolah, tetapi juga prioritas mereka. Pengambilan keputusan, dimana lebih banyak orang memiliki masukan ke dalam pilihan apa yang paling penting bagi sekolah dan masyarakat mereka, adalah contoh-situs berbasis. Juga, kabupaten dan negara yang semakin menuntut bahwa keputusan lokal didasarkan pada data hard bahwa kebutuhan saat ini dan solusi yang didukung oleh penelitian. Ini data yang sama dapat mendukung prioritas yang ditetapkan untuk program bimbingan dan konseling karena mereka termasuk hal-hal seperti kejelasan tentang apa yang siswa ketahui, belajar, dan perlu belajar. Sekolah sedang bertanggung jawab untuk tingkat retensi dan promosi mereka. Siswa kepatuhan untuk melakukan kode tercermin dalam laporan disiplin dan tingkat kehadiran dan ketidakhadiran. Tingkat partisipasi dalam kegiatan sekolah menunjukkan bagaimana berafiliasi atau bagaimana siswa terasing berasal dari sekolah.

Penataan Kurikulum telah disertai pengembangan implementasi dan standar. Cara untuk membantu siswa individu berhasil secara akademis sedang dicari. Fokus pada masing-masing siswa menunjukkan mereka juga perlu untuk menjadi lebih bertanggung jawab untuk pembelajaran mereka, yang pada gilirannya menekankan Program dan proses yang mendukung pengaturan siswa tujuan, evaluasi diri, dan self-tracking melalui strategi seperti Portofolio. Sebagai masyarakat terus menjadi lebih pluralistik, manajemen konflik, pengembangan karakter, dan tanggung jawab diri sedang ditekankan. Kecenderungan lain yang saat ini terlihat adalah keterlibatan berkerut dari orang tua dan urusan di sekolah-sekolah. Diharapkan bahwa keterlibatan mereka akan membantu siswa konten belajar yang mereka butuhkan untuk menjadi sukses dalam kehidupan dewasa mereka dan pada saat yang sama membawa lebih banyak dukungan untuk kegiatan belajar.

Data Konteks masyarakat

Komunitas berubah dari waktu ke waktu. Mereka tumbuh lebih besar atau lebih kecil. Usia rata-rata populasi bisa berubah. Atau jenis orang yang mungkin berubah. Orang bergerak masuk dan keluar. Industri dan bisnis mulai, tumbuh, dan menurun. Pasar tenaga kerja dapat berubah. Rumah memperoleh dan kehilangan nilai mereka. Semua perubahan ini mungkin berdampak pada distrik sekolah yang melayani masyarakat itu. Bimbingan dan program konseling melayani semua siswa di distrik sekolah dan memberikan layanan khusus bagi banyak siswa dengan pribadi, sosial, pendidikan dan kebutuhan karir.

Pada saat mendesain ulang bimbingan dan konseling program kabupaten, Anda perlu survei semua variabel masyarakat yang relevan untuk mengidentifikasi perubahan signifikan dalam Grafics demo, sosial ekonomi, tingkat mobilitas, rata-rata tingkat pendidikan orang tua, konfigurasi keluarga, pola imigrasi, dan sebagainya. Pertumbuhan dan penurunan populasi usia siswa mengubah kemampuan, pembukaan sekolah dan penutupan juga lingkungan yang implikasi untuk program bimbingan dan konseling. Seperti dengan sisa dari upaya ini, data penelitian yang, pada gilirannya, mendukung kesimpulan tentang apa perubahan ini berarti untuk program saat ini dan di masa depan (yaitu, selama 10 tahun, jika desain asli dapat tetap berlaku selama itu)

Tren Sekolah Konseling Profesioanl

Tren konseling sekolah profesional saat ini termasuk pemahaman yang lebih baik dari kelompok baru atau tambahan dari klien, konten yang berbeda dan tehnik menangani siswa dan kebutuhan sosial, cara untuk mengatur dan mengelola program bimbingan dan konseling untuk lebih melayani siswa dan metode untuk membantu pengembangan professinal kelompok baru sekolah konselor termasuk klien sub kelompok siswa. Semakin, itu sebagai akhirnya diakui bahwa anak-anak usia sekolah dasar manfaat dari bimbingan dan konseling. Dalam masyarakat yang semakin pluralistik kami, konselor sekolah bekerja lebih sering dengan remaja menghadapi keterbukaan mengenai preferensi seksual. Perluasan layanan pendidikan khusus telah membantu sekolah mengembangkan kepekaan terhadap keragaman cacat bahwa siswa mengelola dan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Upaya yang dilakukan untuk membuat orang tua menjadi patners baik dengan sekolah dan terlibat dalam pembelajaran mereka. Meskipun konselor sekolah selalu disediakan jembatan bagi orang tua untuk menjadi bagian dari sekolah, kebijakan hak orang tua baru-baru ini telah membuka pintu sekolah yang lebih luas.

Sebagai gambaran di Amerika Sekolah Counselor Association (ASCA, 2005) Model Nasional, bimbingan baru dan konten konseling meliputi membantu siswa mengembangkan dan mempertahankan harapan yang tinggi untuk prestasi akademik mereka. Ada minat baru dalam memfasilitasi pengembangan karir siswa. Masyarakat kita yang beragam telah membawa kita untuk memahami lebih lengkap apa yang memerlukan effectiveess lintas budaya. Membantu tujuan siswa mengatur, mengembangkan rencana untuk arhieving mereka, dan memantau kemajuan menuju pencapaian tujuan memerlukan pendekatan budaya responsif serta sistem untuk memberikan bantuan tersebut. Bimbingan dan konseling program yang diselenggarakan merupakan keberhasilan bagi profesi konseling sekolah, meskipun banyak sekolah masih berjuang pergi melaksanakan bimbingan dan konseling program yang komprehensif.

ASCA (2005) Model Nasional menawarkan konsensus profesional yang bimbingan dan konseling program yang komprehensif adalah cara yang paling efektif untuk mengatur pekerjaan konselor sekolah dan membantu siswa untuk mencapai membantu individu siswa mencapai keberhasilan membutuhkan lebih layanan individualis bimbingan dan konseling. Sistem sedang diatur di tempat bimbingan dan konseling pendekatan seluruh sekolah yang melibatkan guru dan anggota masyarakat relawan. Pembuatan decisin berbasis Web yang memungkinkan fleksibilitas musuh dalam bangunan dan untuk respon yang lebih besar untuk kebutuhan lokal.

Dalam bimbingan dan konseling lapangan, pengawasan profesional terus mengembangkan sebagai standar untuk profesionalisme menjadi lebih jelas. Kepemimpinan untuk konselor sekolah pengembangan profesional yang muncul sebagai spesialisasi tersendiri, seperti spesicialties dalam konseling sekolah (Henderson, 2009). Dana eksternal mendukung spesialis seperti konselor pencegahan penyalahgunaan zat. Konselor pendidikan khusus dan konselor bilingual. Penggunaan staf bimbingan paraprofessional dalam peran yang tepat, seperti koordinator pendidikan orangtua, spesialis program pengujian, panitera pengolahan data, pendaftar, dan teknisi pusat karir, membantu bimbingan dan program konseling pengiriman menjadi sistematis dan efisien. Profesional dari specialies terkait, seperti kerja sosial sekolah dan psikologi sekolah, semakin sering dipekerjakan di sekolah dan meningkatkan profesional konselor sekolah bekerja di layanan responsif (Fuston & Hargens, 2002).

Kemungkinan desain ulang juga disarankan oleh berbagai sumber eksternal. Sumber-sumber ini menggambarkan tren dalam dan di luar pendidikan yang mungkin berdampak pada proses desain ulang. Contoh sumber-sumber ini di tingkat nasional termasuk Asosiasi Nasional Kepala Sekolah Menengah (2004, 2006) dua laporan Melanggar Rank II: Strategi untuk Memimpin SMA Reformasi dan Breaking Peringkat menengah: Strategis untuk Memimpin Reformasi tingkat menengah. Laporan lain yang menggambarkan tren nasional adalah Perspektif perkembangan pada perguruan tinggi dan Kesiapan Tempat Kerja (Lippman, Atienza, River & Keith, 2008) dan Promosi dan Pencegahan Kesehatan Mental diterbitkan oleh penyalahgunaan substansi dan Pusat Administrasi Layanan Kesehatan untuk layanan Kesehatan Mental (2007 ). Banyak negara juga telah merevisi model mereka dari bimbingan dan konseling manual yang komprehensif dan sumber sangat baik dari isu-isu dan tren negara.

Pribadi, Program, dan Data Intervensi

Selain mengumpulkan data kebutuhan dan mengidentifikasi tren lokal, negara bagian dan nasional, juga penting untuk mengumpulkan personel, program dan data intervensi. Bersama dengan kebutuhan data dan tren informasi, jenis data menambahkan informasi penting tentang arah proses desain ulang program harus mengambil.

Data Personil

Kekuatan dan kekurangannya dari bimbingan sekolah dan staf konseling secara keseluruhan dapat dipelajari dari penggabungan kekuatan relatif dan kekurangannya dari konselor sekolah individu yang tercermin dalam evaluasi kinerja mereka. Semakin erat evaluasi kinerja konselor sekolah dari adalah dengan program, kesimpulan akan lebih relevan. Seperti dibahas dalam bab 10, analisis data evaluasi kinerja dari bentuk yang mencatat evaluasi sesuai dengan komponen program yang memberitahu Anda apakah konselor sekolah melakukan kompeten dalam kegiatan menyediakan dalam kurikulum bimbingan, perencanaan individu siswa, pelayanan responsif dan dukungan sistem. ia memberitahu Anda di mana komponen kinerja konselor sekolah adalah terkuat atau lemah. Misalnya, konselor sekolah mungkin yang paling kompeten dalam memberikan pelayanan yang responsif dan paling kompeten dalam memberikan kurikulum bimbingan.  memberitahu Anda dan Anda program pengambil keputusan bahwa kinerja terbaik ketika mereka memberikan konseling dan layanan konsultasi tapi tidak afektif ketika mereka memberikan instruksi bimbingan.

Jika bimbingan dan konseling sekolah staf besar, kinerja di tingkat sekolah mungkin akan sangat bervariasi. Konselor dasar dapat dievaluasi sebagai yang lebih baik di bimbingan kerja kurikulum dan konselor sekolah tinggi baik di masing-masing pekerjaan perencanaan siswa. Mungkin juga ada variasi dalam tingkat. Sebagai contoh, beberapa konselor sekolah menengah dapat dievaluasi sebagai yang lebih baik di konseling kelompok kecil dari konselor sekolah menengah lainnya.

Data Program

Seperti dibahas dalam bab 10, ada beberapa cara untuk mengevaluasi apa gelar bimbingan dan konseling program komprehensif dilaksanakan memenuhi standar yang ditetapkan dalam desain kualitatif untuk masing-masing komponen Program. Standar desain untuk masing-masing negara komponen prioritas untuk alamat konten bimbingan melalui intervensi program, peran yang dilakukan oleh konselor sekolah dalam intervensi komponen, dan bagaimana intervensi yang dilakukan. Konselor sekolah harus mengevaluasi seluruh program mereka terhadap set lengkap standar secara teratur. Agregasi data ini menginformasikan proses desain ulang.

Studi tahunan yang meminta konselor sekolah untuk membandingkan dan kontras rencana tahunan mereka untuk intervensi dengan intervensi sebenarnya dilakukan juga menjaga semua orang mengetahui dari kebutuhan yang muncul dan tren baru. Penilaian terhadap hasil tujuan perbaikan program menyediakan dua set informasi dianggap oleh komite pengarah dan kelompok lain membantu dalam proses desain ulang. Pertama, pilihan untuk perbaikan diri, ketika dikelompokkan, menunjukkan kebutuhan perbaikan di tingkat sekolah atau dalam gedung sekolah. Kedua, tingkat jumlah prestasi mereka dapat menunjukkan kelayakan menambahkan, menambah, perampingan, atau menggusur intervensi daerah. Misalnya, memperluas konseling kelompok kecil dalam layanan responsif sering prioritas tinggi dalam daerah mengadaptasi bimbingan dan konseling program yang komprehensif. Laporan tahunan yang memberitahu jumlah program kelompok kecil yang disediakan di setiap bangunan, topik yang mereka ditangani, jumlah siswa disajikan melalui mereka, dan kuantitas nyata dan tingkat pencapaian tujuan dan sasaran untuk kelompok adalah potongan-potongan berguna informasi -terutama ketika kelompok yang ditawarkan atas dasar penilaian siswa dan kebutuhan anggota staf saat ini.

Ketika kabupaten telah menetapkan prioritas konten untuk program ini, laporan dari intervensi selesai untuk mengatasi ini dapat (dan harus) diserahkan dan mencapai. Misalnya, di Northside Independent School District, strategis bimbingan dan program konseling prioritas konten terkait rencana districwide yang penetapan tujuan, manajemen konflik, dan pendidikan penyalahgunaan substansi dan pencegahan. Laporan tahunan oleh konselor sekolah dengan bangunan menginformasikan kabupaten tentang hal-hal seperti jumlah anggota staf sekolah yang berpartisipasi dalam penetapan tujuan pelatihan dan digunakan penetapan tujuan proses di guru dan membuat keputusan tentang kepatuhan terhadap standar mereka untuk partisipasi siswa di satu sisi dan tempat nilai prioritas ini di tingkat lokal di sisi lain. Salah satu cara untuk menilai apa yang sekolah tingkat konselor memenuhi peran mereka ditugaskan tepat, seperti yang dikandung oleh desainer program Anda, adalah untuk mempelajari proporsi waktu yang mereka habiskan intervensi konduksi dalam berbagai konfigurasi bertemu klien. 

Data Intervensi Program

Menjaga kualitas program memerlukan evaluasi berkelanjutan intervensi program dan hasil mereka. Setiap intervensi program bimbingan dan konseling berakhir dengan ukuran efektivitas dalam membantu siswa belajar atau menerapkan konten bimbingan dan konseling yang fokus intervensi. Selain itu, setelah setiap bimbingan dan konseling kurikulum pelajaran atau unit, setiap sesi bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu siswa perencanaan individual, dan setiap konseling atau sesi konsultasi yang diadakan dalam menanggapi kebutuhan siswa atau orang tua kekhawatiran, konselor sekolah perlu mengevaluasi dampak intervensi pada siswa dan orang tua dan kualitas dan efesiansi dari intervensi itu sendiri. Dengan kata lain, setiap intervensi dievaluasi seperti yang diterapkan, seperti yang dijelaskan dalam pasal 10.

Evaluasi terus menerus intervensi program yang memungkinkan untuk moonitoring berkelanjutan dan penyesuaian dari intervensi sebagai program yang sedang dilaksanakan. Jika bimbingan dan konseling intervensi tidak seefektif yang diharapkan, maka intervensi tambahan mungkin diperlukan untuk memastikan prestasi siswa dari hasil yang diinginkan. Jika, selama sesi bimbingan dan konseling, misalnya, siswa tidak dapat menyelesaikan rencana aksi terkait dengan tujuan pribadi mereka, waktu tambahan dan bantuan mungkin perlu diberikan (yaitu, intervensi lainnya dalam waktu dekat). Banyak intervensi program bimbingan dan konseling tahunan acara-dilakukan setahun sekali. Dengan demikian, jika pelaksanaan intervensi itu tidak efisien atau renyah seperti itu mungkin, determinin bagaimana hal itu bisa dilakukan lebih secara efisien tahun depan terbaik dilakukan segera setelah akhir tahun ini. (Banyak detail yang terlupakan selama setahun!)

Desain Kualitatif  data kebutuhan

Membutuhkan informasi yang berkaitan dengan bimbingan dan konseling program desain kualitatif muncul dari analisis data mengenai kualitas kinerja konselor sekolah, mengidentifikasi subset baru layanan klien yang membutuhkan, memeriksa standar untuk komponen program, dan mengidentifikasi pengetahuan dan keterampilan baru yang dibutuhkan oleh siswa.

Kinerja Konselor Sekolah

Bahkan dengan program yang sedang dilaksanakan dengan baik, kebutuhan-kebutuhan baru atau berbeda untuk aplikasi dari bakat konselor sekolah dapat diidentifikasi. Di banyak kabupaten, konseling sekolah merasa kewalahan dengan kualitas siswa yang membutuhkan bantuan, dan pada saat yang sama, mereka masih memiliki terlalu banyak tugas non bimbingan dan dokumen. Komite penasehat menunjukkan bahwa lebih banyak konselor yang dibutuhkan untuk melayani anak-anak lebih sedikit. Penggunaan lebih lengkap dari dukungan staf-pendidikan dan asisten administrasi, paraprofesional-dan lainnya perluasan penggunaan relawan untuk membantu siswa dalam peran didefinisikan dengan hati-hati (misalnya, sebagai mentor) tampaknya diinginkan.

Konselor sekolah sendiri mengidentifikasi kebutuhan peningkatan kinerja. Jika Anda telah mengikuti nasihat dalam bab 9 dan telah konselor sekolah menetapkan tujuan peningkatan kinerja tahunan, kebutuhan mereka dimonitor secara teratur dan, pada saat ini, dapat diringkas untuk mendesain program anda mengenai konselor sekolah perlu untuk staf pengembangan profesional:

  1. Daerah terkait dengan harapan yang sedang berlangsung untuk kinerja mereka, seperti yang ditunjukkan oleh evaluasi kinerja mereka.
  2. Area di mana anggota staf lain mungkin sama mahir atau lebih kompeten untuk   melaksanakan tanggung jawab;
  3. Dimensi baru dari desain bimbingan dan konseling program yang komprehensif.

Sebagai contoh, data evaluasi pelaksanaan konselor sekolah memberitahu Anda dan perencana program yang konselor sekolah kebutuhan saat ini untuk perbaikan terus dapat meliputi peningkatan kompetensi konseling kelompok, baik keterampilan proses kelompok dan informasi spesifik mengenai topik berulang diatasi melalui kelompok-kelompok kecil. Konselor yang lebih baru dapat terus membutuhkan informasi dan untuk mengasah keterampilan mereka dalam bekerja dengan sumber-sumber rujukan. Konselor sekolah tinggi mungkin perlu lebih banyak pelatihan dalam teknologi Intruksional modern, seperti penggunaan strategi pembelajaran kooperatif di intruksi. Meskipun banyak konselor sekolah melakukan dengan baik dalam konsultasi guru, beberapa tidak. Banyak konselor sekolah masih tidak nyaman dalam melakukan advokasi dengan dan untuk orang tua.

Anda dan Anda bimbingan dan program konseling komprehensif perlu mendesain ulang membahas apakah siswa yang terbaik disajikan ketika guru, yang kompeten  modern di metode struktional, memberikan banyak kurikulum bimbingan, dengan konselor membantu guru belajar konten bimbingan. Mempertimbangkan mengidentifikasi, sebagai bagian dari proses transisi dibahas pada akhir bab ini, dalam pelayanan kebutuhan pelatihan anggota staf yang bertugas akan berubah sebagai hasil dari desain ulang program tersebut. Selain itu, Anda dapat belajar bahwa kinerja proses evaluasi konselor sekolah itu sendiri perlu perbaikan untuk lebih membantu konselor sekolah upaya untuk meningkatkan kinerja mereka. Northside Independent School District, misalnya, menemukan standar lebih spesifik untuk kinerja konselor yang, definisi lebih jelas antara peran kinerja dasar dari konselor adalah, dan lebih jelas diperlukan mengenai setiap deskripsi pekerjaan individu (Henderson & Gysbers, 1998) . Kabupaten juga mengidentifikasi kekurangan dalam bentuk evaluasi kinerja. Tanpa bentuk yang mendukung kejelasan dan ketepatan dalam menarik kesimpulan evaluatif, menggabungkan data untuk keputusan perbaikan adalah sulit.

Melayani klien

Pendidik dan anggota masyarakat yang bersangkutan semakin mengenali kebutuhan khusus dari mayoritas siswa yang jatuh, pendidikan, di bagian tengah kurva lonceng. Siswa-siswa ini tidak memberikan bukti yang membutuhkan layanan pendidikan yang sangat khusus tidak intesif perawatan kesehatan mental, tetapi mereka tetap adalah mahasiswa yang mungkin tidak merasa nilai diri, terhubung ke sekolah, atau dirawat di sekolah, dan mereka tidak dapat mendapatkan bantuan dengan tantangan khas dari tumbuh dewasa. Mereka mungkin lalai dalam kelas atau memiliki masalah (karena mereka mendefinisikan mereka) yang membuat mereka tidak dapat berkonsentrasi pada belajar akademik. Banyak stres, dan beberapa (lebih dari yang kita akui) disalahgunakan. Siswa-siswa ini ingin dan harus memiliki kesempatan untuk mendiskusikan masalah mereka dan untuk diambil serius. Pada saat yang sama, sekolah secara resmi mengidentifikasi lebih banyak siswa kebutuhan khusus, termasuk mereka yang beresiko, prilaku salah, tunawisma, atau terlibat dalam geng.

Guru mencari bantuan lebih lanjut dengan masalah kelas tertentu. Mereka ingin lebih konsultasi mengenai masing-masing siswa yang mengalami masalah. Mereka ingin lebih konsultasi untuk diri mereka sendiri tentang siswa, sekolah, dan masalah pribadi. Mereka ingin pemahaman yang lebih lengkap dari bimbingan dan konseling Program-nya praktik, operasi, dan standar etika. Mereka ingin bantuan lebih lanjut dengan pemahaman standar pengujian dan penggunaan yang sesuai. Pada saat yang sama, orang tua tampaknya perlu dan ingin lebih banyak keterampilan orangtua, tapi cara-cara baru memberikan mereka keterampilan ini perlu dikembangkan. Kurangnya keterlibatan di sekolah mungkin menunjukkan mereka yang sibuk atau ketidaknyamanan mereka dengan sekolah. Yang terakhir mengatakan bahwa kita perlu menemukan cara yang lebih efektif untuk menjangkau mereka.

Standar Komponen Standar

Dengan bimbingan yang komprehensif dan program konseling di tempat, salah satu manfaat sisi adalah bahwa konselor sekolah tidak hanya mampu mendidik siswa, guru dan orang tua tentang bagaimana mereka menyampaikan program, tetapi mereka juga memiliki bahasa yang sama untuk menggambarkan program. Keempat komponen program yang cukup sedikit dan cukup berbeda dalam tujuan dan praktek yang akan mudah dipahami. Dengan demikian, meminta mereka komponen memberikan informasi berguna untuk menambah upaya rancangan ulang Anda.

Mengetahui nilai relatif ditugaskan untuk setiap kegiatan set oleh pelanggan anda membantu Anda menetapkan prioritas antara komponen. Jika, misalnya, pelanggan Program menghargai jasa bantuan responsif secara signifikan lebih dari mereka menghargai bimbingan kelas, yang dapat mendukung layanan yang signifikan atas kurikulum bimbingan, atau sebaliknya. Jika kegiatan perencanaan individu siswa yang dianggap lebih bernilai dari layanan responsif, yang dapat berkontribusi untuk pengaturan prioritas.

Jika Anda telah mengikuti model yang disajikan dalam buku ini untuk perbaikan program berkelanjutan, Anda akan telah mencatat bahwa bimbingan dan program konseling perbaikan, tujuan ditetapkan setiap tahun, berdasarkan program evaluasi tahunan, seluruh bangunan dan kabupaten. Agregasi tujuan spesifik-bangunan ini juga menyediakan data tren mengenai kemungkinan prioritas program baru. Tujuan perbaikan program tahunan, tentu saja, mencerminkan peningkatan rekomendasi dalam proses desain program awal, tetapi mereka juga mencerminkan prioritas baru di kabupaten (semua tingkat atau di tingkat tertentu) dan tingkat bangunan. Misalnya, di Sekolah Northside Independent Daerah prioritas daerah baru yang didirikan dalam rencana strategis: penetapan tujuan, mangement konflik, pengembangan karir, pengembangan karakter, dan efektivitas lintas budaya. Secara tradisional, diperlukan perbaikan yang sering muncul dari bangunan perlu mencakup konseling kelompok kecil, keterlibatan orang tua dan pendidikan, dan konsultasi staf. Topik baru yang muncul dari bangunan yang perlu dipertimbangkan dalam program desain ulang termasuk membantu guru untuk mengajar kurikulum bimbingan, manajemen perilaku, motivasi pendidikan, membuat yang terbaik dari pengujian standar, dan menanggapi kebutuhan siswa khusus.

Komite penasihat sekolah-masyarakat atau komite orang tua dan penasehat lainnya mengidentifikasi perubahan dalam program mereka mungkin ingin melihat. Input ini memberikan ide bagi komite pengarah untuk mempertimbangkan. Anggota komite penasihat sering ingin kurikulum bimbingan lebih, baik lebih banyak konten dan pelajaran lebih sering. Kadang-kadang mereka melihat kebutuhan untuk metodologi presentasi baik. Anggota komite penasihat juga sering ingin lebih individu siswa bantuan pendidikan dan rencana karir dari saat ini dilakukan. Karena sejumlah aktivis ini acara tahunan, hal ini sering sulit bagi siswa orang tua, dan orang-orang masyarakat untuk mengidentifikasi kegiatan apa yang disediakan dalam individul perencanaan mahasiswa komponen. Hal ini penting untuk membantu siswa dan orang tua membuat hubungan antara hari karir SD dan intruksi sekolah menengah mengenai keluarga pekerjaan dan kelompok dan kegiatan berbasis pusat karir sekolah tinggi, antara delapan dan 10 kelas assesment karir dan 11-dan-12-kelas masuk perguruan tinggi pemeriksaan, dan antara karir sekolah terkait penetapan menengah tujuan tujuan dan perencanaan sekolah tinggi 4-tahun dan karir sekolah tinggi dan perencanaan pendidikan.

Bimbingan dan program konseling pelanggan secara konsisten ingin konseling lebih tersedia untuk siswa, baik individu dan kelompok. Induk ingin peluang konsultasi lebih dan membantu dengan saat-saat yang sulit dengan atau untuk anak-anak mereka. Semakin, intervensi krisis disebut untuk di sekolah kami. Memikirkan kembali prioritas untuk komponen layanan responsif dan memperluas layanan responsif melalui arahan, hubungan kolaboratif antara penyedia layanan, dan lebih efesien dan strategi yang efektif untuk disebut konselor sekolah.

Sebagai itu sendiri pendidikan terus berupaya untuk reformasi, dan siswa semakin beragam datang ke sekolah, kebutuhan guru untuk pelatihan dan pergeseran dukungan. Pada gilirannya, konselor sekolah dituntut untuk menyegarkan kompetensinya terus menerus dalam topik-topik seperti gaya belajar dan motivasi, manajemen kelas dan organisasi, mengajar sulit untuk mengajar atau sulit dijangkau siswa, dan membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial. Karena pengujian standar adalah kendaraan yang populer untuk memegang sistem sekolah akuntabel, dan karena merupakan daerah tradisional terhubung dengan bimbingan dan konseling (meskipun sayangnya begitu), konselor sekolah terus ditantang untuk membantu pendidik rekan mempertahankan pendekatan keseimbangan mengenai administrasi dan penggunaan hasil tes. Saldo dalam administrasi tes berarti semua anggota staf harus memenuhi bagian mereka dari tanggung jawab untuk program besar ini. Keseimbangan dalam penggunaan hasil tes berarti membantu anggota staf tahu keterbatasan hasil tes individu dan nilai menggunakan beberapa sumber informasi untuk membuat pandangan tentang siswa.

Pengetahuan dan Keterampilan Baru

Siswa perlu data penilaian untuk memberikan informasi penting mengenai kebutuhan-kebutuhan baru atau yang berbeda bahwa siswa harus dipertimbangkan oleh komite pengarah karena pendekatan program desain ulang. Seperti desain program awal (Bab 6), mengidentifikasi apa yang siswa butuhkan adalah yang terbaik dicapai dengan meminta siswa sendiri serta konselor sekolah, guru, orang tua, dan lain-lain. Pengulangan menunjukkan prioritas. Kebutuhan pengembangan keterampilan siswa diidentifikasi di Northside Independent School District termasuk berikut;

  • keterampilan manajemen pribadi,
  • keterampilan karir,
  • keterampilan hidup,
  • keterampilan penetapan tujuan,
  • pengembangan kepercayaan diri,
  • belajar untuk memberikan diri sendiri,
  • keterampilan pemecahan masalah, dan
  • menilai pendidikan sebagai investasi di masa depan.

Selain itu, guru, orang tua, dan administrator di Northside mengakui bahwa sumber daya siswa di sekolah yang dibutuhkan membantu mereka menghadapi tantangan tumbuh dan berada di sekolah. Dikutip adalah kebutuhan untuk;

  • rasa koneksi,
  • rasa memiliki di komunitas sekolah,
  • seseorang untuk mendengarkan mereka,
  • sistem pendukung, dan
  • advokasi

Masing-masing memiliki implikasi untuk desain ulang program bimbingan dan konseling di Northside Independent School District.

Desain kuantitatif Kebutuhan Data

Kebutuhan data mengenai tiga dimensi keseimbangan masing-masing kuantitatif desain program, rasio konselor-siswa, dan jumlah siswa yang membutuhkan dan menerima jasa hasil dari pertimbangan anda dari kebutuhan kualitatif serta analisis alasan untuk kurangnya kepatuhan standar yang anda tetapkan sebelumnya. Misalnya, jika untuk sebagian besar tahun sejak desain awal, dan di banyak bangunan di mana program ini dilaksanakan, pengiriman program yang sebenarnya telah keluar dari keseimbangan, mungkin standar keseimbangan baru diperluhkan. Jika rasio konselor-siswa adalah seperti bahwa konselor dan klien mereka secara konsisten frustrasi karena waktu tidak cukup untuk menghubungkan, rasio ini mungkin tidak cukup untuk kebutuhan. Jika jumlah dan persentase siswa yang benar-benar mendapatkan keuntungan dari layanan bimbingan yang dapat diterima rendah dalam kaitannya dengan kebutuhan mereka, maka desain kuantitatif perlu diubah.

Tiga set data yang dibutuhkan untuk melengkapi koleksi data yang diperlukan untuk mendesain ulang program: keseimbangan yang sebenarnya dari program, rasio konselor-siswa yang sebenarnya, dan jumlah sebenarnya mahasiswa dan klien lainnya dilayani melalui program ini. Seberapa dekat program pembangunan yang selaras dengan desain awalnya didirikan dapat ditentukan secara terpisah. Jika keberpihakan yang cukup dekat, beberapa kesimpulan dapat ditarik tentang atas semua dampak keseimbangan intervensi dan rasio pada jumlah klien yang dilayani oleh interrelating data.

Program Seimbang

Data telah dikumpulkan setiap tahunnya dari konselor sekolah di setiap bangunan Sekolah Northside Independent District mengenai persentase waktu yang mereka habiskan dalam intervensi terkait dengan empat komponen program. Data ini digunakan untuk membandingkan dan kontras kualitas pelaksanaan program di berbagai bangunan kabupaten dan, jika ada konsistensi, untuk membandingkan dan kontras kabupaten data lebar dikumpulkan dengan desain asli dari tujuan bimbingan dan konseling program kabupaten yang komprehensif.

Jika sebagian besar di tingkat sekolah melaksanakan program yang seimbang tetapi beberapa tidak, beberapa yang tidak harus dipelajari lebih dekat untuk menentukan alasan mereka berada di luar keselarasan. Jika perbedaan adalah hasil dari kebutuhan siswa, beberapa pertimbangan penyebab ini adalah dalam rangka. Jika perbedaan adalah hasil dari kurangnya pemahaman atau kepatuhan terhadap program kabupaten, perhatian harus diberikan kepada pimpinan Program

Jika sebagian besar di tingkat sekolah tidak sejajar dengan desain awalnya didirikan, maka desain harus kembali diperiksa. Desain asli mungkin cacat. Jika desain tersebut tidak cacat, maka hambatan untuk melaksanakan kebutuhan desain untuk diidentifikasi dan dianggap sebagai masalah yang harus diselesaikan.

Misalnya, setelah menganalisis data dan menarik kesimpulan, komite pengarah di Northside membuat rekomendasi untuk apa anggota harus dipertimbangkan ketika mereka mendekati Program desain ulang. Rekomendasi ini adalah sebagai berikut.

  • Pertimbangan untuk sekolah dasar

Bimbingan kurikulum: rasio rendah ke memerlukan kelas lebih sedikit sehingga mengurangi persentase.

Perencanaan individu siswa: Turunkan persentase yang diinginkan.

Layanan Responsif: Meningkatkan persentase yang diinginkan.

Dukungan sistem: Menetapkan personil lainnya beberapa kegiatan utama yang secara tidak langsung melayani mahasiswa

  • Pertimbangan untuk sekolah menengah

Kurikulum Bimbingan: Turunkan persentase yang diinginkan (dua pelajaran per periode gradasi adalah 16%).

Perencanaan individu siswa: [None]

Layanan Responsif: meningkatkan persentase yang diinginkan.

Dukungan sistem: Menyetel kembali penugasan layanan langsung ke departemen lain.

  • Pertimbangan untuk sekolah tinggi

Kurikulum Bimbingan: Turunkan persentase yang diinginkan.

Perencanaan individu siswa: [None]

Layanan Responsif: Meningkatkan persentase yang diinginkan.

Dukungan sistem: Menyetel kembali tugas-tugas administratif untuk administrasi atau departemen lain.

  • Pertimbangan Umum: Sarankan berbagai persentase untuk bangunan bekerja di dalam.

Rasio Konselor-Siswa

Untuk mengevaluasi kecukupan rasio konselor-siswa yang berlaku pada saat ulang program Anda, Anda mungkin ingin melakukan studi perbandingan hasil dan tingkat layanan di gedung-gedung dengan rasio yang berbeda secara signifikan. Menggunakan model matematika yang dijelaskan dalam Bab 8 (lihat Mengenali Potensi bagian) dan menerapkan informasi rasio aktual dalam keseimbangan program yang benar-benar ¡dilaksanakan, Anda dapat memperkirakan perbedaan layanan yang dihasilkan dari beban kasus mahasiswa yang berbeda ukuran.

Jumlah Siswa Dilayani

Keputusan dasar bergulat dengan dalam proses desain ulang adalah pilihan antara bimbingan perkembangan dan program konseling dan program yang responsif terhadap masalah dan kekhawatiran siswa. Membuat pilihan ini memerlukan memiliki rasa apa yang siswa perlu membuat yang terbaik dari kesempatan pendidikan mereka dan mengetahui bagaimana konselor sekolah terbaik dapat digunakan untuk membantu mereka. Dalam asli rancangan program bimbingan yang komprehensif Northside Independent School District, para komponen program bimbingan perkembangan ditugaskan prioritas utama pada ketiga tingkat (kurikulum bimbingan di tingkat SD dan perencanaan individu siswa di tingkat sekolah menengah dan tinggi).

Membuat Keputusan Redesign Berdasarkan Kebutuhan dan Evaluasi Data

Pada titik ini dalam proses desain ulang (enhancement Program), data evaluasi telah dikumpulkan dan kebutuhan diperbarui Data arc juga tersedia. Tugas kami sekarang adalah untuk membuat keputusan desain ulang yang diperlukan yang akan menyebabkan program didesain ulang dan ditingkatkan. Seperti yang kita dinyatakan dalam Pendahuluan, proses peningkatan Program berikut evaluasi dan menghubungkan kembali ke awal sebagai program yang ulang terungkap, tetapi pada tingkat yang lebih tinggi. Dengan demikian, proses ini spiral, bukan melingkar. Setiap kali proses desain terungkap, program bimbingan dan konseling yang baru dan lebih efektif muncul.

Untuk proses desain ulang program yang bergerak maju, Anda akan perlu mempertimbangkan kesimpulan yang diambil dari data evaluasi tentang apa dan seberapa baik program ini melakukan dan menggabungkan mereka dengan informasi tentang kebutuhan-kebutuhan baru dan tren. Dengan menggabungkan dua, Anda dapat membuat keputusan tentang rancangan program saat ini (dibandingkan dengan yang dijelaskan dalam Bab 5). Anda dapat memutuskan apakah program ini bekerja seperti sebelumnya dirancang, apakah itu masih penting, dan apakah itu harus dipertahankan. Anda juga dapat memutuskan mana desain tidak bekerja; apakah prioritas masih sama dan ada kedepan, harus ditargetkan untuk perbaikan; atau apakah prioritas harus diganti dengan sesuatu yang lebih dibutuhkan atau layak. Keputusan ini menyebabkan standar baru untuk bimbingan dan konseling program didesain ulang.

Setiap bimbingan dan program konseling elemen yang komprehensif (seperti diuraikan dalam Bab 3) dianggap dalam tugas ini. Keputusan baru yang dibuat atau keputusan sebelumnya menegaskan kembali mengenai standar kompetensi siswa dan dikembangkan melalui gram pro, komponen struktural (pemikiran, asumsi, definisi, kebijakan), komponen pelaksanaan program (desain kualitatif), dan alokasi sumber daya (desain kuantitatif ).

Standar Kompetensi dan Keputusan Redesign Siswa

Cara baru untuk mendefinisikan isi dasar bimbingan dan konseling program yang komprehensif mungkin telah muncul sejak penerapan program awal. Dengan demikian, set pertama rekomendasi untuk program didesain ulang harus pengesahan kembali atau penyesuaian dari siswa dasar standar untuk program belajar. Perubahan dapat dilakukan di tingkat domain dan kompetensi.

Komponen Struktural Keputusan Redesign

Setelah mendesain ulang isi dasar (standar belajar siswa) program, langkah berikutnya melibatkan revisi komponen struktural program: laporan pemikiran untuk program ini, asumsi yang mendasari program, dan definisi program serta sebagai kebijakan distrik sekolah untuk bimbingan dan konseling.

Alasan

Data dari evaluasi dan dari informasi kebutuhan diperbarui memberi anda ide tentang bagaimana untuk merevisi pemikiran untuk program anda. Informasi baru dapat, di satu sisi, mengungkapkan jumlah yang tampaknya lebih besar dari siswa yang aliened dari sekolah: peningkatan kekerasan siswa dan terus penyalahgunaan zat luas, keragaman konfigurasi keluarga, dan ekonomi yang tidak stabil mengakibatkan siswa yang datang ke sekolah dari situasi yang membuat sulit bagi mereka untuk menghadiri sekolah mereka. Informasi baru dapat, di sisi lain, juga membuat jelas bahwa pada abad ke-21, sekolah akan terus ditantang untuk mengadakan standart akademik yang semakin tinggi untuk dan harapan siswa. Sekolah berubah untuk membantu setiap siswa, terlepas dari keadaan, untuk berhasil di sekolah. Ini bertujuan agak bertentangan untuk sekolah menggarisbawahi valaue bimbingan dan konseling untuk membantu siswa mengelola nasib mereka sendiri dan memecahkan masalah mereka.

Informasi baru dapat menunjukkan bahwa guru, menghadapi populasi mahasiswa semakin beragam, perlu konsultasi yang bermakna untuk meningkatkan pekerjaan mereka dengan orang tua. Gerakan hak orang tua telah membawa peningkatan jumlah orang tua ke sekolah dalam upaya untuk membantu atau campur tangan dalam pendidikan anak-anak mereka. Berlanjutnya pergeseran keputusan pendidikan membuat ke tingkat bangunan membutuhkan konselor sekolah untuk memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai profesional untuk mengelola secara lokal program yang tepat, dengan kepemimpinan yang cukup untuk memelihara pertumbuhan profesional. Menyadari masyarakat seperti, sekolah, dan kebutuhan siswa sangat penting dalam mendesain ulang program yang pada umumnya dan dalam meninjau dan merevisi pemikiran untuk program khususnya.

Asumsi

Anda mungkin akan menemukan bahwa Anda lebih menyadari assumtions yang mendasari operasi program Anda dari Yaou ware di dalam perancangan asli dari program yoaur. Seperti disebutkan sebelumnya, karena sifatnya, asumsi agak sulit untuk mengenali sampai mereka ditantang. Mereka juga membantu anggota staf ingat nilai-nilai dasar dari program ini. Misalnya, kerja ulang Nortside Independent School District sudah termasuk menegaskan asumsi sebagai berikut.

  • Siswa klien utama dari program ini
  • Semua konselor diadakan untuk standart etika profesi
  • Tidak peduli apa masalah yang diajukan atau masalah, masing-masing manfaat siswa penerimaan menghakimi non sama dan bantuan
  • Program terbaik adalah salah satu di mana sumber daya secara sadar dialokasikan untuk prioritas yang ditetapkan program.
  • Anggota staf Berbeda credentialed digunakan dalam tugas pekerjaan yang tepat menerapkan taining dan kompetensi mereka
  • Sebisa mungkin, konselor sekolah meminta orang tua sebagai mitra dalam membantu siswa personal, sosial, pendidikan, dan pengembangan karir

Definisi

Karena sekarang Anda telah memiliki pengalaman yang luas dengan bimbingan dan konseling Program diimplementasikan, mungkin lebih bersedia untuk berdebat dan memutuskan misi penting dari program dari yang Anda ware di ehen segala sesuatu yang baru. Anggota penasehat sekolah-masyarakat dan steering komite memiliki pendapat berdasarkan experinces mereka siapa yang memenuhi peran terstruktur dalam program ini, yang selain siswa klien program sah yang, dan arti sebenarnya dari bimbingan dan konseling komprehensif program organisasi struktur. Selain itu, karena sifat jawab bimbingan dan konseling program yang komprehensif, Anda mungkin akan cukup jelas seperti apa sumber dari program ini akan mendukung. Jika semua inschools siswa untuk menerima lebih bimbingan mendalam dan bantuan konseling, anggota staf lebih harus terlibat. Jika bantuan individual tambahan yang diinginkan, maka penasihat lebih individual harus disediakan. Jika lebih luas siswa bermasalah yang memiliki kebutuhan khusus mereka belajar, penyedia layanan tambahan harus diidentifikasi. Dengan perubahan seperti ini dibayangkan, staf pelaksana program mungkin diperluas untuk mencakup semua tcachers menyediakan kurikulum bimbingan, semua staf profesional yang menyediakan bantuan perencanaan individu siswa sistem, dan profesional kesehatan mental berbasis comnuinity dan di sekolah profesional terkait menyediakan layanan responsif. Akibatnya, definisi program perlu direvisi dia.

Kebijakan School District Bimbingan dan Konseling

Jika Anda mengikuti rekomendasi kami dalam pengembangan program awal, distrik sekolah Anda mengembangkan kebijakan yang mendukung program bimbingan dan konseling. Pernyataan kebijakan awal didasarkan pada identifikasi sebelumnya Anda isi program dan dasar pemikirannya, asumsi, dan definisi. Ketika komite pengarah mencapai con sensus mengenai pernyataan dasar ini (ingat bahwa suara bulat seringkali sulit untuk mencapai jika panitia Anda adalah benar-benar mencerminkan keragaman Komunitas sekolah Anda), domain konten baru atau baru menegaskan, alasan, asumsi, dan definisi dari Program harus diratifikasi oleh pemerintah dan sekolah tingkat atas papan distrik sekolah Anda.

Ketika itu lias persetujuan telah dicapai, yang pernyataan kebijakan baru didistribusikan ke kepala sekolah kabupaten dan konselor sekolah dan kepada orang lain yang tertarik pada tahap ini permainan. Ini adalah kesempatan yang sempurna untuk membantu orang lain mulai menginternalisasi perubahan yang ma ikuti setelah redesign berhenti -Program berikutnya. Hal ini juga menyediakan kendaraan untuk memunculkan masukan lebih banyak orang ke dalam pengaturan prioritas yang sangat penting yang terjadi kemudian.

Keputusan Redesign Kualitatif

Keputusan desain ulang kualitatif adalah mereka mengenai prioritas penggunaan kompetensi penasihat sekolah ORS ‘, untuk klien untuk dilayani, untuk intervensi program yang akan disampaikan, dan untuk hasil mahasiswa yang ingin dicapai. Kami sarankan Anda mengajukan pertanyaan desain kualitatif pertama. Hal ini penting bagi Anda untuk mengetahui apa yang Anda inginkan sebelum Anda berurusan dengan realitas berapa banyak Anda dapat memiliki, mengingat sumber daya yang tersedia. Rekomendasi akhir hampir selalu menyertakan stions Sugge untuk sumber daya tambahan.

Kompetensi Konselor Sekolah

Atas dasar pengalaman bekerja di sebuah program untuk beberapa tahun. penasihat sekolah-masyarakat dan steering komite harus menetapkan setidaknya dua jenis prioritas mengenai keterampilan sekolah konselor ‘. Prioritas ini adalah untuk keterampilan yang akan digunakan dalam program dan untuk keterampilan yang perlu penguatan melalui pengembangan profesional. Dalam Northside Independent School District, jelas bahwa anggota komite pengarah ingin konselor sekolah untuk mengelola program mereka sendiri. Mereka juga dinilai baik individu dan keahlian konseling kelompok kecil bahwa konselor sekolah dibawa ke gedung mereka. Berkonsultasi dengan orang dewasa lainnya atas nama siswa mereka adalah prioritas keempat. Prioritas ini sesuai dengan apa yang konselor sekolah telah dibayangkan sebagai peran yang sesuai mereka.

Kebutuhan pengembangan profesional diidentifikasi melalui analisis perbedaan prioritas dan data evaluasi. Wilayah sasaran busur yang compctencics prioritas tinggi atau komitmen yang konselor sekolah tidak berkinerja baik. Beberapa konselor sekolah mungkin perlu penyempurnaan lebih lanjut dari program mereka (termasuk waktu) keterampilan manajemen. Beberapa mungkin perlu untuk menghadiri keterampilan konseling kelompok kecil mereka, dan sebagainya.

Dengan diskusi terfokus pada aplications kompetensi sekolah konselor ‘, ide-ide baru atau halus tentang cara-cara untuk membantu konselor sekolah meningkatkan kinerja mereka juga datang. Misalnya, alat untuk mengevaluasi kualitas kinerja sekolah konselor ‘(bentuk evaluasi kinerja) mungkin perlu fine-tuning untuk memberikan umpan balik yang lebih baik untuk individu. Kegiatan yang addres fokus pekerjaan dan perbaikan (deskripsi pekerjaan, professional supervision) mungkin perlu klarifikasi, memperkuat, atau lebih banyak sumber daya. Dalam banyak kabupaten, kepemimpinan profesional untuk konselor sekolah tidak jelas atau disediakan oleh individu tanpa keahlian konseling sekolah, seperti kepala sekolah. Karena itu, sistem kepemimpinan sekolah konselor ‘perlu bangsa peningkatan substansial lebar (Hendarson & Gysbers, 1998).

Klien Dilayani

Data evaluasi memberikan wawasan yang sebenarnya sedang bertugas di bimbingan dan konseling program saat oleh revaling keseimbangan antara layanan berikan kepada siswa, layanan yang diberikan kepada orang dewasa, dan dukungan sistem tugas. Persentase siswa yang disajikan pada setiap tingkat kelas dan persentase stutends dilayani melalui perkembangan, preventif, atau perbaikan intervensi serta data mengenai layanan yang diberikan kepada berbagai sub kelompok siswa, seperti mereka yang mengalami perceraian atau kesedihan, juga tersedia. Informasi baru mengenai kebutuhan siswa dan kebutuhan yang disarankan oleh isu-isu yang jelas dalam komunitas sekolah mungkin menyarankan prioritas yang berbeda untuk klien untuk dilayani. Tujuan sekolah dan kabupaten berubah atau memfokuskan kembali my menyarankan prioritas yang berbeda.

Dalam desain ulang Northside Independent School District, para keseimbangan yang diinginkan antara melayani siswa SD dan melayani orang dewasa tetap sama: 65% dari waktu konselor ‘dihabiskan dengan siswa, 35% dengan orang dewasa. Perbedaan yang terlihat, namun, dalam rekomendasi untuk pemecahan kali dalam kategori ini besar. Waktu yang disarankan untuk menghabiskan menyediakan siswa dengan bantuan pembangunan berkurang sekitar 10%, dengan waktu yang dialokasikan untuk siswa dengan kebutuhan untuk pencegahan atau perbaikan. Rekomendasi ini adalah salah satu dari beberapa yang menunjukkan peningkatan pemahaman dan penghormatan terhadap keterampilan khusus sekolah konselor ‘dalam bekerja dengan siswa menghadapi masalah dan masalah .

Program Intervensi Akan Disampaikan

Centerpieces dari desain ulang kualitatif adalah standar minimum dan definisi operasional untuk setiap komponen Program. Bahasa sed dalam menentukan komponen program tidak berubah. Apa yang berubah adalah intervensi dan prioritas intervensi ini dalam setiap komponen. Misalnya, Anda mungkin perlu untuk mengatur ulang prioritas untuk masing-masing helai kurikulum karena kenaikan belajar tentang apa yang paling dibutuhkan dan sesuai pada setiap tingkat kelas atau karena perubahan kebutuhan penduduk yang dilayani oleh sekolah. Semakin, penekanan pada pengembangan karir sebagai tujuan perencanaan pendidikan dapat menyebabkan perbaikan intervensi ini dalam sistem perencanaan individu siswa. Kebutuhan baru diidentifikasi untuk layanan konseling harus merespon. Spesifikasi dari konselor sekolah ‘peran dalam kaitannya dengan standar akademik mungkin diperlukan untuk meningkatkan sekolah konselor’ dukungan untuk sistem pendidikan keseluruhan.

Selain banyak bimbingan dan program konseling dibutuhkan sebuah deskripsi adalah klarifikasi peran orang tua dalam setiap komponen Program (lihat bab 3). Alasan untuk ini adalah pengakuan meningkatnya hak orang tua yang berkaitan dengan pendidikan anak-anak mereka dan kebutuhan untuk keterlibatan mereka untuk memungkinkan keberhasilan anak-anak mereka di sekolah. Mengeja tanggung jawab dan kesempatan orang tua ‘dalam kurikulum bimbingan dan individu intervensi perencanaan siswa menyebabkan konselor sekolah untuk lebih memastikan bahwa orang tua memiliki informasi yang mereka butuhkan untuk menjadi peserta aktif dalam bimbingan perkembangan disediakan anak-anak mereka. Mengklarifikasi bagaimana izin orang tua untuk konseling terjadi pada layanan responsif dan bagaimana orang tua dapat acces layanan atas nama siswa mereka adalah penting, terutama mengingat orang tua yang tidak ingin anak-anak mereka untuk mendapatkan keuntungan dari layanan ini di sekolah. Memperluas keterlibatan orang tua dalam komponen dukungan sistem, seperti dalam kegiatan advokasi dan peran penasehat orangtua. Memberikan orang tua dengan kendaraan untuk masukan ke dalam pengembangan program dan pengiriman.

Perubahan yang memiliki dampak luas dalam program Northside Independent School District dunia itu definisi peran guru diperluas dalam penyampaian perkembangan intervensi bimbingan dan konseling. Definisi diperluas didasarkan pada pengakuan bahwa jika kita benar-benar akan membantu semua siswa memperoleh semua kompetensi dasar dalam keterampilan hidup utama diwakili oleh kurikulum bimbingan, setiap pendidik harus berkontribusi untuk tujuan ini. Jika kita benar-benar akan membantu setiap siswa menetapkan tujuan pendidikan dan karir dan rencana, serta menyediakan sarana untuk memantau kemajuan mereka, setiap pendidik harus membantu dalam memberikan informasi yang akurat dan objektif dan saran berarti bagi siswa dalam komponen perencanaan individu siswa

Hasil Siswa

Dalam assecing kebutuhan siswa, prioritas baru mungkin muncul untuk konten (standart mahasiswa) program bimbingan dan konseling. Data evaluasi dapat menjelaskan apa siswa dan orang lain pikirkan adalah benefical untuk program bimbingan dan konseling untuk mengatasi. Oleh karena itu, helai baru, seperti efektivitas lintas budaya, mungkin efektivitas data konten di tempat juga menaikkan atau menurunkan pentingnya untai itu. Misalnya, pengembangan diri pada anak-anak di creasingly rcognized tidak cukup sebagai tujuan itu sendiri dan intstead dilihat sebagai terpisah dari perasaan siswa kompetensi di dimensi lain, seperti membuat teman-teman, bertindak secara bertanggung jawab, dan mampu mengekspresikan sendiri sehingga orang lain mengerti pikiran dan fellings mereka.

Keputusan Redesign kuantitatif

Di dasar keputusan desain kualitatif pada alokasi sumber daya program perlu disesuaikan untuk mencocokkan mereka revisi. Desain kuantitatif yang paling dipengaruhi oleh rekomendasi mengenai keseimbangan alokasi sumber daya di antara empat komponen program, yaitu, dengan pedoman tentang bagaimana konselor sekolah menghabiskan waktu mereka. Seperti dijelaskan dalam Bab 8, rasio konselor-siswa mempengaruhi berapa banyak siswa dapat dilayani melalui keseimbangan program yang sebenarnya.

Keseimbangan Program

Data evaluasi tentang pelaksanaan program awal memberikan cek realitas untuk Anda. Prioritas baru dalam desain kualitatif juga berkontribusi terhadap pembahasan mengenai keseimbangan program baru. Dalam proses desain ulang Northside Independent School District, para keterampilan specialixed sekolah konselor yang lebih dihargai daripada mereka selama upaya desain program awal. Oleh karena itu, memastikan penggunaan efektif keterampilan ini untuk sebanyak mungkin siswa menjadi prioritas utama bagi para pengambil keputusan desain ulang.

Misalnya, dalam membandingkan desain ulang wilayah desain asli Northside Independent School District an, menggeser prioritas mudah dapat dilihat. Jumlah waktu yang diproyeksikan untuk konselor sekolah untuk menghabiskan dalam kurikulum bimbingan menurun pada ketiga tingkat, yang paling signifikan di tingkat sekolah tinggi (15% – 20%) dan dipotong setengahnya (dari 30% menjadi 15% -20% ) untuk tingkat sekolah midlle. Jumlah waktu yang dialokasikan untuk masing-masing siswa kegiatan perencanaan menurun secara signifikan di tingkat SD (dari 25% menjadi 5% -10%), penurunan agak di tingkat sekolah menengah, dan tinggal hampir sama di tingkat sekolah tinggi. Waktu layanan responsif meningkat pada ketiga tingkat (dari 25% menjadi 40% -45%). Waktu dukungan sistem tinggal cukup konsisten. Selain itu, dalam program didesain ulang, panitia pengarah memilih untuk mahal mengungkapkan pendapatnya bahwa waktu sekolah Konselor ‘tidak harus dihabiskan dalam kegiatan nonguidance. Mereka melakukan ini dengan mengambil alih nol waktu untuk manajemen sekolah ini dan tugas administrasi.

Rasio Konselor-Siswa

Karena desain awal dari bimbingan dan konseling program yang komprehensif, rasio konselor-siswa di Northside Independent School District telah berkurang secara signifikan, dari 1: 550 dengan rata-rata 1: 400. Hasil positif dari studi evaluasi diperkuat nilai rasio yang lebih rendah, dan rasio yang lebih rendah membuat beberapa perubahan dalam keseimbangan Program mungkin. Kabupaten masih ingin (dan memiliki) sebuah bimbingan dan konseling program berbasis perkembangan, tetapi dengan masing-masing konselor sekolah bertanggung jawab untuk siswa yang lebih sedikit, semua beban kasus konselor sekolah dapat dilayani dalam waktu kurang.

Pada Northside, komite pengarah mengadopsi tujuan satu konselor untuk setiap 350 siswa (1: 350). Rasio direkomendasikan yang diubah untuk spesialis konselor sekolah sebagai berikut;

  • departemen bimbingan kepala: 1: 250 di tengah dan magnet sekolah tinggi
  • SMA kepala konselor: tidak ditugaskan beban kasus siswa, mengingat harapan diperluas untuk peran kepemimpinan mereka (Henderson & Gysbers, 1998)
  • penyalahgunaan konselor: 1: 100 di beban kasus aktif
  • konselor pendidikan khusus: 1: 250

Jumlah Siswa Dilayani

Dengan keseimbangan program baru dan dengan beban kasus diturunkan, ditambah dengan lebih baik di bawah berdiri dari apa yang termasuk setiap komponen, jumlah potensi siswa disajikan di Northside Independent School District di berbagai kegiatan komponen diproyeksikan. Proyeksi ini memungkinkan komite pengarah untuk menetapkan standar minimum untuk penyediaan kegiatan bagi siswa. Misalnya, komite pengarah di Northside menentukan bahwa itu layak, dalam keseimbangan dan dengan beban kasus tersebut, untuk siswa sekolah dasar untuk mendapatkan keuntungan dari 1 2 konselor yang dipimpin bimbingan pelajaran per semester, untuk siswa sekolah menengah untuk mendapatkan keuntungan dari delapan konselor yang dipimpin pelajaran bimbingan per mobil, dan untuk siswa SMA untuk mendapatkan keuntungan dari enam konselor yang dipimpin bimbingan pelajaran per tahun. Sebuah harapan yang sah adalah bahwa pada waktu tertentu, approxunately 25% dari siswa dalam beban kasus konselor sekolah wouId manfaat dari layanan responsif.

Melaksanakan Desain Baru

Melaksanakan program didesain ulang memerlukan menentukan arah baru untuk program didesain ulang dan berencana untuk membuat dan meningkatkan luents yang diminta. Langkah-langkah ini identik dengan yang dijelaskan di Bab 6 dan 7 untuk melaksanakan bimbingan komprehensif awal dan Program konseling. Program baru didesain ulang harus disetujui oleh para pembuat kebijakan kabupaten Anda, administrator senior, dan dewan sekolah. Sebuah program buku pegangan baru harus ia ditulis dan didistribusikan ke konselor sekolah, kepala sekolah bangunan, dan administrator program lain. Dalam layanan pendidikan bagi para pemain kunci harus ia tersedia mengenai program didesain ulang dan implikasinya.

Sekarang bahwa Anda telah mengidentifikasi perbedaan antara desain asli dari program dan program didesain ulang, Anda perlu menentukan perubahan yang diperlukan untuk menerapkan desain baru dan untuk mengembangkan rencana untuk mencapai perbaikan Program. Anda kemungkinan besar akan membutuhkan sumber daya baru. Konselor sekolah tambahan mungkin diperlukan. Tujuan baru perbaikan program harus ditetapkan pada kabupaten dan tingkat bangunan. Menggunakan anggota kios baru, seperti guru, dalam program membutuhkan pendidikan dan pelatihan untuk peran didefinisikan dengan hati-hati. Pelatihan yang ditargetkan dan kegiatan pengembangan profesional lainnya yang dibutuhkan oleh konselor sekolah untuk membantu mereka untuk membuat perubahan yang diperlukan dalam deskripsi pekerjaan mereka serta untuk memastikan kompetensi mereka dalam peran mereka berubah. Jika daerah konten baru ditambahkan, bahan baru harus dikembangkan atau diperoleh. Upaya advokasi baru harus dilakukan untuk menginformasikan anggota staf, orang tua, dan anggota masyarakat lainnya dari prioritas baru dan menghasilkan perubahan-perubahan yang terutama akan mempengaruhi mereka. Selama proses desain ulang, kemudi dan sekolah-masyarakat komite penasehat distrik sekolah Anda mungkin juga merekomendasikan beberapa perubahan pada proses yang sedang berjalan digunakan untuk merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi program, staf, dan hasil-hasilnya. Perubahan ini perlu diperhatikan.

Memahami Revitalisasi Mengikuti Redesign

Berbekal data dari tiga jenis evaluasi yang dijelaskan dalam Bab 10 dan dengan informasi baru Anda dikumpulkan mengenai perubahan siswa dan di sekolah dan masyarakat, Anda memiliki bahan bakar untuk memicu desain ulang program anda. Mendesain ulang hasil dalam standar baru untuk program, prioritas baru, dan parameter baru. Memo meringkas perubahan yang dibuat dalam program Northside Independent School District dunia disediakan dalam Lampiran P. Seperti dapat dilihat, perubahan yang dilakukan di setiap elemen program: isi, penggunaan keterampilan konselor ‘, definisi penyedia program, program bentuk dan kegiatan, dan standar untuk akuntabilitas. Selain itu, seluruh sistem untuk membantu konselor sekolah melakukan yang terbaik mereka berubah dan dijelaskan secara rinci dalam Memimpin dan Mengelola Sekolah Bimbingan Staf Program Anda (Henderson & Gysbers, 1998).

Manfaat langsung tambahan di Northside independen School District adalah bahwa evaluasi dan desain ulang memicu revitalisasi program. The pemikiran ulang, replanfling, dan repreparing untuk implementasi disebabkan konselor sekolah individu untuk bertekad kembali diri mereka sebagai mengejar pertumbuhan membutuhkan mereka. Setiap bangunan di kabupaten mengambil kesempatan untuk mengatasi implikasi dari desain baru untuk program mereka. Di tingkat kabupaten, beberapa inisiatif yang diletakkan di tempat untuk memperluas tanggung jawab program pembinaan di anggota staf lebih untuk memberikan bantuan lebih untuk pengembangan siswa. Komponen kurikulum bimbingan diperpanjang dengan penambahan program pengembangan karakter seluruh sekolah. Individu komponen perencanaan siswa diperpanjang dengan menerapkan program penasehat mahasiswa yang berfokus pada membantu siswa menetapkan dan mencapai tujuan pendidikan dan karir. Layanan responsif komponen diperpanjang lebih sistematis mengkoordinasikan sumber daya yang digunakan untuk membuat sekolah aman dan bebas narkoba dengan program bimbingan dan dengan membentuk protokol untuk memperjelas peran dan staf dalam mengelola krisis seluruh sekolah.

Dalam mendesain ulang program mereka setelah menerapkan mereka untuk beberapa waktu, sekolah lainnya telah meningkatkan program mereka di lain adalah. Di Distrik Sekolah St. Joseph di St. Joseph, Missouri, mereka menemukan sejumlah “cara untuk meregangkan hari sekolah melalui strategi kolaboratif” (Fuston & Hargens, 2002, hal. 211) yang memungkinkan konselor sekolah untuk melakukan pekerjaan mereka . Mereka menggunakan konselor pensiunan untuk menggantikan konselor absen sehingga pekerjaan tidak bisa dihilangkan atau backlogged. Mereka telah meningkatkan cara bahwa komputer membantu dalam pelaksanaan program bimbingan. Pendidikan karir yang dilakukan bekerja sama dengan para guru dan anggota masyarakat. Kabupaten mempekerjakan pekerja sosial untuk merespon kebutuhan sosial karya-jenis mahasiswa dan keluarga dan berkolaborasi dengan lembaga masyarakat yang memberikan konseling kelompok. Dalam Davis School District di Farmiiigton, Utah, hubungan antara misi program pembinaan dan distrik sekolah itu menguat. Pelaksanaan bimbingan dan konseling program yang komprehensif sukses di tingkat sekunder menyebabkan inisiasi satu di tingkat SD dan mempekerjakan Konselor SD (Davis, 2002).

Singkatnya, mendesain ulang bimbingan komprehensif dan program konseling setelah bertahun-tahun pelaksanaan mengarah ke peningkatan lanjutan Program dan revitalisasi program, staf konseling sekolah, dan staf sekolah secara keseluruhan. Hasil komitmen direvitalisasi memperluas layanan kepada siswa.

Periksa Kemajuan Anda

Program peningkatan proses atau mendesain ulang program Anda mengikuti proses yang sama yang digunakan untuk mengembangkan dan menerapkan program awalnya. Sebagai hasil dari membaca bab ini, Anda tahu;

. seberapa sering program harus dirancang ulang;

. yang harus terlibat; dan

. langkah-langkah apa yang harus diambil.

Anda tahu bagaimana memulai proses desain ulang dengan mengumpulkan kebutuhan dan data evaluasi.

Anda dapat membuat keputusan desain ulang atas dasar kebutuhan dan data evaluasi.

Anda tahu bagaimana menerapkan program peningkatan atau didesain ulang.

Anda memahami bahwa revitalisasi berikut desain ulang.

 

References

American School Counselor Association. (2005). The ASCA National Model: A frame work For school counseling programs(2nd ed.). Alexandria, VA: Author.

Davis, D. (2002). Revising and enhancing Davis School District’s comprehensive guidance program: Working together works. In P. Henderson & N. Gysbers (Eds.). Implementing comprehensive school guidance programs: Critical Leadership issues and successful responses(pp. 219—228). Greensboro, NC: CAPS.

Fuston, J., & Hargens, M. (2002). Extending the program’s resources. In P. Henderson & N. Gvsbcrs (Eds.), implementing comprehensive school guidance programs: Critical leaderhip issues and successful response. (pp. 2 1 1—2 17). Greensboro, NC: CAPS.

Henderson, P. G. (2009). The new handbook of administrative supervision in counseling. New York, NY: Routledgc.

Henderson, P., & Gysbers, N. C. (1998). leading and managing your school guidance program staff Alexandria, VA: American Counseling Association.

Lippman, L., Atienza, A., Rivers, A., & Keith, J. (2008). A developmental perspective on college and workplace readiness. Washington, DC Child Trends.

National Association of Secondary School Principals. (2004). Breaking ranks II: Strategies for leadinq hiqh school reform. Reston, VA: Author.

National Association of Secondary School Principals. (2006). Breaking ranks in the middle: Strategics for leading middle level reform. Reston, VA: Author.

Substance Abuse and Mental Health Services Administration, Center for Mental Health Services. (2007). Promotion and  in mental health: .Strenghening, parenting and enhancing child resilience (DHHS Publication No. CM HS-SVP-() 1 75). Rockville, MD: Author.

 

Tinggalkan komentar

Filed under Dunia Konseling

Konseling orang tua/Lansia

Konseling Klien Dewasa Tua

“Apakah kita siap untuk mandi?” “Kamu ingin mengambil obat sekarang, anda tidak? “(Williams, Kemper, & Hummert, 2005, hal. 15). Elderspeak seperti ini mengacu pada penggunaan pidato menggurui mirip dengan bayi bicara dengan  intonasi yang berlebihan, nada tinggi, dan penggunaan nama kekanak-kanakan seperti “manis” dan “gadis yang baik.” Banyak orang dewasa yang lebih tua menganggap elderspeak merendahkan dan menyepelekan. Hal ini penting untuk menghindari penggunaan komunikasi seperti; penyederhanaan pembicaraan atau pengulangan harus digunakan hanya dalam kasus-kasus ditunjukkan oleh tingkat komunikasi seseorang.

 Untuk Ibu B., hal memburuk sebelum mereka menjadi lebih baik…Untuk sementara waktu, dia mengambil beberapa obat psikoaktif dan fungsi kognitif memburuk dengan dosis tinggi. Obat washout dilembagakan, dan orientasi nya dan memori rebound. Setahun kemudian, setelah intervensi kecil stroke, fungsi memorinya sedikit lebih buruk, tapi suasana hatinya lebih cerah, dia berkomunikasi dengan baik. (La Rue & Watson, 1998)

 

Populasi orang yang lebih tua di Amerika Serikat berkembang. Peningkatan jumlah mereka yang berusia 65 dan lebih telah melampaui laju pertumbuhan penduduk secara keseluruhan. Selama masa lalu dekade kelompok 85 tahun dan lebih tua telah meningkat sebesar 38 persen, sementara mereka antara usia 75 dan 84 meningkat sebesar 23 persen. Di sana sekitar 35 juta orang yang tinggal di Amerika Serikat yang lebih dari 65, dan penduduk diperkirakan berjumlah 70 juta pada tahun 2030 dan merupakan 20 persen dari populasi (US Biro Sensus, 2006b). Those 85 tahun dan di atas segmen dengan perkembangan tercepat dari populasi yang lebih tua, dan tren ini diperkirakan akan terus berlanjut selama bertahun-tahun. Karena wanita hidup lebih lama daripada laki-laki, pada usia 65 hanya ada 39 orang untuk setiap 100 perempuan.

Orang yang lebih tua tunduk pada stereotip negatif dan diskriminasi. Ageism telah didefinisikan sebagai sikap negatif terhadap proses penuaan atau ke arah orang yang lebih tua. Wanita yang lebih tua bahkan lebih mungkin untuk dilihat negatif oleh masyarakat secara keseluruhan dan banyak internalisasi norma ageist (Hatch, 2005). Hiburan visual, berita, dan iklan media didominasi oleh kaum muda, dengan beberapa pengecualian. Informasi tentang orang tua sering datang dari pewawancara muda yang tidak memiliki perspektif yang tepat untuk pengalaman dari generasi tua. Satu pengecualian adalah Donald M. Murray, pada usia 81, adalah Boston kolumnis yang mencakup isu-isu usia dan menekankan beberapa aspek positif penuaan. Dalam kolom yang ditulis pada tahun 1998, ia memuji kebajikan usia tua:

Saya tidak tua, aku sudah tua dan bangga akan hal itu. Saya berusia, seperti keju yang baik. Saya adalah seorang berjalan buku sejarah, sesepuh suku, diuji, marah, bijaksana….Aku bisa meninggalkan pihak awal…Saya menikmati melankolis, bahkan bersenang-senang di dalamnya. (Dikutip dalam Frankel, tahun 1998, p. 16)

Implikasi. Pengaruh ageism bagaimana kedua masyarakat umum dan mental profesional kesehatan memandang orang tua. Dalam review sikap terhadap orang yang lebih tua, Palmore (2005) menemukan bahwa orang dewasa yang lebih tua dianggap kaku dan tidak menyesuaikan diri dalam proses pemikiran mereka, kurang dalam kesehatan, kecerdasan, dan kewaspadaan, dan sebagai memiliki baik tidak tertarik seksual atau, jika mereka aktif secara seksual, seperti terlibat dalam kegiatan yang tidak pantas untuk usia mereka. Lelucon tentang usia tua berlimpah dan terutama negatif di alam. Negatif ini stereotip menyebabkan perasaan menjadi anggota kurang dihargai masyarakat. Sebagai akibat dari usia, orang yang lebih tua mungkin datang untuk menerima pandangan-pandangan ini dan menderita hilangnya harga diri. Bahkan, mereka juga percaya bahwa mereka akan menderita penurunan mental. Ketika sekelompok orang yang lebih tua ditanya apakah mereka merasa ada kemungkinan kuat bahwa mereka akan menjadi pikun, 90 persen menjawab dengan tegas (Grant, 1996).

Sayangnya, penelitian telah menemukan bahwa para profesional kesehatan mental juga memperlihatkan bias usia (Weiss, 2005). Sebagai kelompok menyatakan keengganan untuk bekerja dengan orang dewasa yang lebih tua, yang dirasakan sebagai kalah menarik, memiliki prognosis yang lebih buruk, lebih diatur dalam cara mereka, dan kurang mungkin memperoleh manfaat dari jasa kesehatan mental. Masalah kesehatan mental pada orang dewasa yang lebih tua dikaitkan dengan penuaan. Lihat tampaknya bahwa penyakit mental adalah normal untuk klien yang lebih tua tapi tidak normal untuk yang lebih muda (Danzinger & Welfel, 2000). Stereotip dan ageism telah membatasi akses orang dewasa yang lebih tua untuk layanan yang dibutuhkan. Penuaan masyarakat, namun kita kurang siap untuk menangani populasi saat ini berusia kami dan tentu tidak dilengkapi untuk datang generasi baby boomer (Palmore, 2005). Populasi lansia adalah terlayani dan sedikit dipahami. A. U. Kim dan Atkinson (1998) mencatat bahwa beberapa program pelatihan dalam konseling berurusan dengan populasi yang lebih tua. Informasi yang kurang pada terapi dan obat-obatan untuk orang yang lebih tua. Sebagai kelompok, mereka cenderung untuk menerima pengobatan baru untuk serangan jantung atau penyakit lainnya, dan wanita yang lebih tua cenderung untuk menerima radiasi dan kemoterapi setelah operasi kanker payudara. Ini mengejutkan, karena individu yang sehat 70 tahun dapat diharapkan untuk hidup setidaknya 10 tahun lagi (Rakyat Medical Society Newsletter, 1998).

Ada kebutuhan yang meningkat bagi para profesional kesehatan mental untuk bekerja dengan orang Amerika yang lebih tua. Hal ini penting bahwa pendidikan dan pengembangan keterampilan yang diperlukan diperoleh dari sumber daya seperti program sarjana, dipandu studi studi, atau melanjutkan pendidikan. Hal ini penting untuk menyadari perubahan (biologi, psikologis, dan sosial) yang umumnya menyertai penuaan, serta jenis psikopatologi yang dialami oleh orang dewasa yang lebih tua (Qualls, 1998a).

Masalah Dewasa Tua

Kesehatan Fisik dan Ekonomi

Orang dewasa lebih tua mungkin dibandingkan populasi muda yang menderita fisik gangguan seperti beberapa derajat pendengaran atau kehilangan penglihatan dan penyakit jantung. Sekitar seperempat dari orang dewasa antara usia 65 dan 74 menderita dari beberapa gangguan pendengaran, dan ini meningkat menjadi sekitar dua dari lima untuk mereka yang berusia lebih dari 75 (Desselle & Proctor, 2000). Setengah dari orang dewasa yang lebih tua mengalami kesulitan untuk tidur atau insomnia (APA, 2001c). Mayoritas orang tua, bagaimanapun, cukup sehat dan mampu hidup mandiri hanya membutuhkan bantuan minimal. Hanya 5 persen orang 65 dan lebih tinggal di rumah jompo; dan total ini meningkat]a 22 persen pada usia 85 (Heller, 1998). Sekitar 9 persen dari mereka yang berusia antara 65 dan 69 memerlukan bantuan pribadi untuk kegiatan sehari-hari; pada usia 85 dan lebih, sekitar 50 persen memerlukan bantuan. Di semua kategori usia, perempuan lebih mungkin memerlukan bantuan daripada laki-laki (US Census Bureau, 2005a).

Implikasi. Saat memberikan layanan kesehatan mental untuk orang dewasa tua, kemungkinan keterbatasan fisik eksis harus dipertimbangkan. Pastikan lingkungan reseptif untuk klien yang lebih tua. Ruangan harus memadai menyala dan kondisi fisik identifikasi dibatasi. Tentukan cara komunikasi yang paling nyaman bagi individu. Jika klien tua memiliki atau telah menggunakan kacamata atau alat bantu dengar, pastikan mereka hadir dalam sesi. Karena kondisi fisik yang kurang sehat sering ada seperti penyakit jantung dan hipertensi, mengesampingkan kemungkinan masalah kesehatan mental mungkin akibat dari beberapa obat atau interaksi. Efek samping yang sangat mengganggu untuk orang dewasa tua, terutama karena telah menurunnya massa otot dan jumlah air tubuh, bersama dengan penurunan massa hati. Karena perubahan ini, pasien harus berada di obat dosis rendah tertentu seperti fenotiazin dan bezodiazepines (Masand, 2000). Seorang dokter atau psikiater harus mengevaluasi individu untuk menentukan apakah gejala mental yang mungkin menjadi penyebab fisik. Juga, banyak masalah kesehatan mental masyarakat miskin yang lebih tua dan dewasa minoritas karena kemiskinan, pengangguran, kondisi hidup diskriminasi yang buruk, dan kurangnya penerimaan dari penyedia layanan kesehatan. Manajemen kasus atau keterampilan advokasi mungkin diperlukan untuk mengatasi masalah ini.

Kesehatan Mental

Ada persepsi bahwa tingkat penyakit mental yang tinggi di antara orang-orang yang lebih tua. Hal ini mungkin karena pengamatan orang dewasa sakit jiwa yang tinggal rumah perawatan. Pada kenyataannya, orang yang lebih tua memiliki tingkat gangguan afektif yang lebih rendah dibandingkan dengan orang dewasa muda, meskipun ukuran gangguan kecemasan perkiraan bahwa dari populasi umum (Kelompok Kerja APA, 1999). Meskipun tingkat penyakit mental tampaknya lebih rendah di antara orang dewasa yang lebih tua, tingkat lebih tinggi di antara mereka di panti jompo dan asrama lainya.  Hanya sekitar 6 persen dari orang dewasa yang lebih tua dalam sistem kesehatan mental masyarakat, yang jauh di bawah proporsi diprediksi sesuai dengan persentase pada populasi (Heller, 1998). Sebagian dari masalah baik penyedia layanan kesehatan dan orang yang lebih tua konsep masalah kesehatan mental atau gejala sebagai akibat kesehatan fisik atau penuaan, daripada faktor psikologis (Heller, 1998). Konsekuensinya bahwa orang dewasa yang lebih tua tidak sangat mungkin harus dirujuk pada pengobatan oleh dokter untuk profesional kesehatan mental.

Kerusakan mental atau kebodohan

Setelah 49 tahun mengajar di Whatcom COUNTY SCHOOLS, termasuk yang terakhir 26 sebagai pengganti, Mitch Evich telah menemukan semua jenis siswa. “Baru saja saya sudah bekerja di kelas yang indah, Anda tidak bisa mengalahkan mereka, “kata Evich. “Tentu saja, kelas-kelas lain, aku berharap aku bisa, “katanya sambil tertawa. Evich, sekarang 81, tidak memiliki langsung berencana mengakhiri karir mengajar pengganti. (Lane, 1998, hal. A1)

Pandangan umum dari orang tua adalah bahwa mereka tidak kompeten secara mental. Kata-kata seperti “pikun” mencerminkan perspektif ini. Namun, hanya sebagian kecil orang tua memiliki demensia. Kebanyakan masih mental tajam dan manfaat dari toko pengetahuan yang telah mereka peroleh selama seumur hidup. Beberapa 5 sampai 10 persen dari individu di atas usia 65 memiliki demensia ringan sampai sedang; meningkat menjadi L5 sampai 20 persen bagi mereka lebih dari 75 tahun, dan 25 sampai 50 persen dari mereka lebih dari 85 (American Psychiatric Association, 1997; Saunders, 1998). Pada tahun 2040, diperkirakan bahwa 7 juta orang di Inggris Negara akan memiliki penyakit Alzheimer (Freeborne, 2000). Bahkan dengan kognitif masalah, Saunders menemukan bahwa pasien dengan demensia upaya untuk mempertahankan rasa kompetensi dan martabat. Mereka akan menyalahkan kebingungan mereka pada eksternal peristiwa, seperti ditekan terlalu banyak. Orang tua dengan demensia masih bisa menunjukkan aspek bervariasi dari diri mereka sendiri. Seorang wanita merespon sebuah ketidakmampuan untuk mengingat nama panggilan suaminya, dengan menggunakan metafora, yang menyatakan bahwa otaknya adalah “terkunci.” Lain menanggapi masalah memori dengan bercanda bahwa “otak saya hilang mogok, saya pikir” (Saunders, 1998, hal. 67). Meskipun gangguan memori, orang yang lebih tua sering menggunakan humor dan menunjukkan kompetensi mereka dan kecanggihan lisan melalui penggunaan mereka metafora.

Implikasi. Kebanyakan orang dewasa yang lebih tua akan menunjukkan beberapa penurunan kemampuan kognitif tertentu, yang dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Sebuah minoritas besar sangat tua akan menunjukkan penurunan yang lebih besar dari diharapkan, ke titik menghilangkan kemampuan mereka untuk berkomunikasi atau bahkan untuk mengenali orang-orang terkasih. Penyakit Alzheimer adalah penyebab utama progresif demensia. Beberapa orang dewasa yang lebih tua menunjukkan penurunan kognitif menengah di luar yang biasanya terkait dengan penuaan normal dan demensia. Penurunan ini mungkin atau mungkin tidak progresif (APA, Presiden Task Force, 1998). Ujian status mental dapat memberikan beberapa indikasi masalah daerah, tapi yang paling yang penilaian sering digunakan adalah Mini-Mental State Examination (MMSE).

Tes ini memakan waktu sekitar 5 sampai 10 menit untuk mengelola dan memiliki normatif dan validitas Data. Hal ini terdiri dari sebelas item dan menilai orientasi, pendaftaran, perhatian dan perhitungan, memori, bahasa, dan integritas motorik visual. Deteksi awal memungkinkan untuk pengobatan dan perencanaan sebelumnya (surat wasiat, perkebunan dan lainnya masalah hukum, dan menangani masalah-masalah potensial seperti mengemudi). Langkah-langkah dalam mengevaluasi demensia dan perubahan kognitif lainnya (APA, Presiden Task Force, 1998) meliputi:

  • Mendapatkan laporan diri dari klien mengenai kemungkinan perubahan dalam memori atau fungsi kognitif.
  • Sadarilah bahwa melaporkan masalah memori, atau kekurangan, mungkin karena kurangnya kesadaran atau penolakan.
  • Mendapatkan laporan dari anggota keluarga dan teman-teman di estimasi kognitif kinerja. Jadilah terutama waspada terhadap perbedaan.
  • Mengambil sejarah yang cermat dari onset dan perkembangan kognitif perubahan.
  • Ingatlah untuk menilai kemungkinan efek samping dari obat atau fisik lainnya kondisi yang mungkin terkait dengan penurunan kognitif.
  • Menilai untuk depresi karena juga dapat mengakibatkan kinerja demensia seperti atau over-pelaporan masalah kognitif. Ingat bahwa depresi dan demensia juga dapat terjadi bersama-sama.

Intervensi Keluarga

Meskipun demensia memiliki perkembangan bertahap, efek dari dampak gangguan ini baik individu menderita dan anggota keluarga. Anggota keluarga sering tidak mengerti bahwa pasien dengan demensia mungkin tidak mempertahankan apa yang mereka katakan. Mereka mencoba untuk menawarkan laporan dikoreksi dan menjadi frustrasi ketika individu dengan gangguan kelupaan. Beberapa mungkin percaya perilaku yang disengaja atau mencoba untuk bertanggung jawab atas semua perilaku, bahkan ketika orang tua bekerja efektif di beberapa daerah. Rasa bersalah sering diungkapkan melalui pernyataan seperti, “Apakah hak saya melakukan hal? “(LaRue & Watson, 1998).

Masalah lain yang sering adalah orang dewasa yang anak-anak mungkin infantilize atau mendominasi orang tua dengan penurunan kognitif. Mereka menganggap bahwa tindakan mereka dalam kepentingan terbaik dari orang tua mereka, tetapi gagal untuk mengambil preferensi orang tua sendiri atau nilai-nilai menjadi pertimbangan. Anak-anak dewasa cenderung terlalu menekankan nilai-nilai yang berkaitan dengan kesehatan fisik atau mental, sedangkan orang tua mengungkapkan preferensi untuk nilai yang berkaitan dengan identitas diri dan otonomi. Secara umum, fokusnya adalah pada titik keluarga memandang kecacatan, bukan dari orang tua (Orel, 1998).

Tanggung jawab pengasuhan berbeda antara kelompok etnis yang berbeda. Empat puluh dua persen dari Asia Amerika menyediakan perawatan untuk orang tua mereka penuaan atau kerabat yang lebih tua lainnya dibandingkan 34 persen Hispanik Amerika, 28 persen Afrika Amerika, dan 19 persen Putih Amerika. Rasa bersalah dari tidak melakukan cukup untuk keluarga ini dilaporkan oleh 72 persen orang Amerika Asia, 65 persen Hispanik Amerika, 54 persen dari Afrika Amerika, dan 44 persen Putih Amerika. Tuntutan pengasuhan yang sangat tinggi untuk perempuan. Pengasuhan mungkin stres dan meningkatkan konflik antara keluarga anggota. Ketika bekerja dengan anggota keluarga yang merawat kerabat dengan demensia, seorang profesional kesehatan mental harus membahas isu-isu berikut (American Psychiatric Association, 1997):

  1. Kebutuhan kesabaran dan pengertian ketika bekerja dengan individu dengan demensia.
  2. Tekanan potensial pada anggota keluarga dan kebutuhan untuk mengembangkan lebih mengatasi strategi.
  3. Pendidikan anggota keluarga mengenai masalah neurologis, bagaimana mereka dimanifestasikan dalam perilaku, dan perawatan yang tersedia. Dalam tahap awal,   masalah memori adalah gejala utama. Bahasa dan disfungsi spasial cenderung  terjadi kemudian. Delusi dan halusinasi juga dapat terjadi pada tahap akhir.
  4. Solusi praktis untuk masalah seperti bagaimana menghadapi agitasi, berkeliaran, dan masalah keamanan lainnya. Latihan membantu tetapi harus diawasi. Identifikasi pada pakaian dan gelang tanda medis sangat membantu jika keberangkatan tanpa pengawasan terjadi. Pada tahap awal demensia, individu        harus disarankan untuk tidak mengemudi.
  5. Dinamika keluarga yang berkaitan dengan situasi pengasuhan dan bagaimana tanggung jawab harus dialokasikan.
  6. Meningkatkan komunikasi anggota keluarga.
  7. Faktor budaya yang melibatkan tanggung jawab pengasuhan dan rasa bersalah harus diatasi.
  8. Sumber daya masyarakat seperti Asosiasi Alzheimer dan kelompok pendukung lainnya.
  9. Masalah keuangan dan hukum yang melibatkan pasien, seperti surat kuasa.
  10. Keputusan yang mungkin perlu dibuat, seperti di bawah apa keadaan orang yang menderita akan perlu dirawat di sebuah panti jompo atau lembaga luar lainnya.

Penyalahgunaan orang tua dan Penelantaran

Agnes, berusia 85 tahun, kehilangan suaminya tahun lalu. Karena masalah sendiri dengan radang sendi dan gagal jantung kongestif, Agnes pindah 55 tahun dengan putrinya, Emily. Situasi ini sulit bagi mereka. Terkadang Emily merasa seolah-olah dia di ujung tali, merawat ibunya, khawatir tentang anak usia kuliah dan suaminya, yang akan segera dipaksa pensiun dini. Emily telah menangkap dirinya memanggil nama ibunya dan menuduh ibunya dari merusak hidupnya. (APA, 2001b, hal. 1)

lebih dari dua juta lebih orang tua Amerika korban psikologis atau kekerasan fisik dan penelantaran. Statistik ini mungkin hanya sekitar 20 persen dari kasus yang sebenarnya karena tidak dilaporkan penyalahgunaan atau penelantaran umumnya terjadi di rumah keluarga, meskipun minoritas dilaporkan di panti jompo. Keadaan kelauarga yang berhubungan dengan kekerasan dan penelantaran (1) pola dan sejarah kekerasan dalam keluarga, (2) stres dan kehidupan penyesuaian akomodatif orang tua atau kerabat, (3) beban keuangan, (4) kuartal penuh sesak, dan (5) stres perkawinan karena perubahan pengaturan hidup (US Department Kesehatan dan Layanan Manusia, 1998). Selain itu, stres pengasuh memiliki secara langsung berhubungan dengan waktu yang dihabiskan memberikan bantuan (Bookwala & Schulz, 2000).

Implikasi. Untuk mengurangi prevalensi penyalahgunaan tua dan penelantaran, beberapa langkah yang dapat diambil dengan masyarakat umum dan peduli untuk orang dewasa tua (APA, 2001b). Pertama, pendidikan publik dapat membawa masalah dalam kesadaran terbuka dan peningkatan faktor risiko yang terlibat dalam penyalahgunaan. Kedua, perawatan yang cukup atau memiliki orang lain seperti anggota keluarga, teman, atau pekerja yang dipekerjakan mengambil alih bisa sangat membantu. Bahkan beberapa jam per minggu pergi atau liburan dari tanggung jawab dapat mengurangi stres. Ketiga, meningkatkan hubungan sosial dan dukungan juga akan membantu menjaga stres dikelola. Bantuan juga dimungkinkan dari organisasi keagamaan atau masyarakat. Organisasi penyakit dan dukungan kelompok-kelompok tertentu dapat memberikan kedua informasi yang dibutuhkan dan dukungan.

Penyalahgunaan Zat

“Saya tidak akan bangun di pagi hari,” katanya. “Saya menyadari menggunakan alkohol untuk meningkatkan semangat saya. Ini menimbulkan semangat untuk sementara, dan kemudian menjadi depresi…Dengan orang-orang sekarat  di sekitar Anda, Anda merasa lebih kesepian dan terisolasi. ” (Wren, 1998, hal. 12)

Penyalahgunaan alkohol dapat dimulai setelah kerugian. Genevieve Mei, seorang psikiater, mulai menyalahgunakan alkohol setelah kematian suaminya. Menemukan bahwa ini a bukan solusi, Dr. Mei menemui Betty Ford Center dan berhasil dirawat di usia 83 tahun. Diperkirakan bahwa 17 persen dari orang dewasa berusia 60 tahun dan lebih tua penyalahgunaan alkohol atau resep obat; beberapa penyalahgunaan resep obat  mungkin melibatkan kebingungan atau kesalahpahaman dari arah. Karena orang dewasa yang lebih tua mengambil rata-rata dari lima resep obat  yang berbeda sehari, kesempatan interaksi obat negatif atau reaksi dengan alkohol meningkat secara dramatis (Guerra, 1998). Seringkali reaksi ini menyerupai psikologis atau organik kondisi. Peminum masalah yang lebih tua lebih mungkin untuk tidak menikah, melaporkan lebih banyak stres, memiliki masalah keuangan yang lebih, melaporkan gigih antarpribadi konflik dengan orang lain, dan memiliki sumber daya yang lebih sedikit sosial (Brennan & Moos, 1996). Sekitar 30 persen mulai minum setelah usia 60 karena depresi dan kehidupan negatif perubahan (Guerra, 1998).

Implikasi. Orang dewasa yang lebih tua jarang mencari pengobatan untuk masalah penyalahgunaan zat karena malu dan mungkin karena mereka merasa tidak nyaman dalam program yang juga menangani obat-obatan seperti heroin atau kokain. Satu 74 tahun Wanita yang berada di terapi kelompok dengan pelaku narkoba muda bertanya, “Apa adalah retak? “Dia berhasil diobati hanya setelah memasuki program untuk lebih tua orang dewasa (Wren, 1998). Dibandingkan dengan penyalahguna zat muda, pasien yang lebih tua menanggapi lebih baik untuk kebijakan program lebih terstruktur, lebih fleksibel aturan mengenai debit, penilaian yang lebih komprehensif, dan lebih rawat jalan kemudian perawatan kesehatan mental (Moos, Mertens, & Brennan, 1995). Serangan awal alkohol dan penyalahgunaan narkoba masalahnya tampak berkaitan dengan stres seperti kematian anggota keluarga, pasangan, atau teman; masalah pensiun; keluarga konflik; masalah kesehatan fisik; atau masalah keuangan. Beberapa di antaranya stres adalah masalah perkembangan kehidupan kemudian dan perlu diidentifikasi dan diperlakukan (Kelompok Kerja APA pada Lama Dewasa Brosur, 1998).

Depresi dan Bunuh Diri

Tingkat depresi meningkat untuk laki-laki dengan usia, sementara tingkat yang lebih tinggi dari depresi pada wanita menurun setelah usia 60. Pada pria, depresi adalah sebagai sociated dengan penyakit pembuluh darah, disfungsi ereksi, dan penurunan testosteron. Depresi perlu diidentifikasi dan diobati karena juga dilihat sebagai merupakan faktor risiko independen untuk penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular. Tingkat bunuh diri juga tinggi di antara orang dewasa yang lebih tua (Miller, 2005). Terutama pada Risiko adalah laki-laki kulit putih 85 dan lebih tua, demografis yang bunuh diri tingkat sekitar enam kali angka nasional. Bunuh diri pada individu 65 dan lebih tua menyumbang 19 persen dari semua kasus bunuh diri pada tahun 1997. Di antara orang dewasa yang lebih tua, laki-laki adalah tujuh kali lebih mungkin untuk melakukan bunuh diri dibandingkan wanita (Roose, 2001).

Faktor yang terkait dengan bunuh diri termasuk dipisahkan, bercerai, atau sendirian; penderitaan depresi; memiliki gangguan kecemasan; mengalami masalah fisik atau medis; dan menangani konflik keluarga atau kehilangan hubungan. Kaukasia laki-laki berada pada risiko lebih besar untuk bunuh diri dibandingkan laki-laki non-Kaukasia atau perempuan (Florio, Hendryx, Jensen, & Rockwood, 1997). Meskipun tingkat depresi lebih rendah antara individu-individu yang lebih tua daripada populasi sebagai utuh, depresi masih memainkan peran dalam banyak kasus bunuh diri. Pada wanita, depresi terkait dengan kerugian keuangan; untuk pria, hilangnya kesehatan adalah stressor terbesar (Ponzo, 1992). Sehat, berfungsi normal orang dewasa yang lebih tua tidak muncul untuk berada pada risiko yang lebih besar untuk depresi daripada orang dewasa muda. Apa yang tampaknya agerelated depresi sering depresi atas masalah kesehatan fisik dan cacat terkait. Penuaan, independen dari penurunan masalah kesehatan, tidak meningkatkan risiko depresi (Roberts, Kaplan, Sema, & Strawbridge, 1997).

Implikasi. Hal ini sangat penting untuk menilai depresi dan bunuh diri di orang dewasa yang lebih tua. Instrumen terbaik untuk depresi adalah Depresi Geriatri Skala, yang secara khusus dikembangkan untuk orang dewasa yang lebih tua. Memiliki usia terkait norma dan menghilangkan gejala somatik yang mungkin terkait dengan fisik masalah dan tidak depresi. Depresi berat cenderung tidak diakui di orang dewasa yang lebih tua dan merupakan prediktor signifikan bunuh diri. Karena depresi sering terjadi dengan penyakit fisik seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, dan kanker, penyedia layanan kesehatan dan pasien sering percaya bahwa mood perasaan gangguan merupakan konsekuensi masalah normal, sehingga berjalan tidak diobati. Banyak yang bunuh diri mengunjungi dokter perawatan primer sangat dekat dengan waktu bunuh diri (20 persen pada hari yang sama, 40 persen dalam waktu 1 minggu, dan 70 persen dalam 1 bulan; Institut Nasional Kesehatan Mental, 2000). Ada kebutuhan mendesak untuk mendeteksi dan mengobati depresi memadai untuk mengurangi bunuh diri antara orang yang lebih tua.

Sejumlah pengobatan biologis dan psikologis telah efektif dalam mengobati depresi pada orang dewasa yang lebih tua. Antidepresan yang lebih baru seperti selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) memiliki efek samping yang lebih sedikit, membuat mereka lebih mungkin untuk ditaati oleh orang dewasa yang lebih tua (Penting karena tingkat noncomplicance dengan obat yang tinggi di antara orang dewasa yang lebih tua; Cooper et al., 2005). Terapi kognitif-perilaku dan interpersonal Terapi juga berguna dalam mengurangi depresi dengan populasi (Gorenstein et al., 2005). Sekitar 80 persen orang dewasa yang lebih tua dengan depression mengatasinya jika mereka diberikan pengobatan yang tepat. Terutama efektif adalah kombinasi obat dan psikoterapi.

Seksualitas di Umur Tua

Topik seksualitas dan proses penuaan tampaknya diberikan pertimbangan bahkan kurang sekarang daripada 10 tahun yang lalu. Mendasari mengabaikan keyakinan seksualitas yang tidak dipertimbangkan dalam usia. Satu catatan dokter,

Saya baru-baru bekerja di klinik penyakit menular di mana saya bertemu pasien pada akhir nya 60-an yang terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV). Saya terkejut saat melihat seorang wanita tua dengan infeksi yang terkait dengan hubungan seks tanpa kondom atau penggunaan narkoba suntikan, membuat saya menyadari bahwa saya memiliki prasangka tentang penuaan dan lansia…Sikap saya dapat ditafsirkan sebagai seksis di alam. (McCray, tahun 1998, pp. 1035-1036)

Lebih dari 10 persen dari semua kasus baru AIDS terjadi pada individu yang lebih tua dari 50 (Pusat Studi Pencegahan AIDS, UCSF, 2006). Dalam kami pemuda-berorientasi masyarakat, aktivitas seksual antara orang tua dianggap langka dan bahkan dianggap menjadi tidak pantas. Orang dewasa yang lebih tua tidak diharapkan untuk tertarik pada seks. Namun, minat seksual dan aktivitas terus berlanjut ke tahun 80-an dan 90-an untuk banyak individu (Diokno, Brown, & Herzog, 1990; Kun & Schwartz, 1998). Dalam sebuah studi dari 1.216 orang tua dengan usia rata-rata 77, 3, hampir 30 persen telah berpartisipasi dalam aktivitas seksual selama satu bulan terakhir, dan 67 persen puas dengan aktivitas seksual. Pria lebih seksual aktif daripada wanita, tapi kurang puas dengan tingkat aktivitas seksual. Umur tampaknya tidak berkaitan dengan kepuasan seksual (Matthias, Lubben, Atchison, & Schweitzer, 1997).

Sebagian besar responden menyuarakan reaksi positif pengalaman seksual mereka seperti, “kepuasan fisik bukan satu-satunya tujuan seks…Ini adalah kedekatan seseorang sepanjang malam kesepian orang di tahun 70-an dan 80-an “dan” Saya percaya seks diluar indah untuk bercinta dan kesehatan fisik dan layak mencoba untuk tetap hidup dalam memajukan usia…Itu membuat orang merasa muda dan dekat dengan satu pasangan dan senang ‘masih bekerja’ “(B. Johnson, 1995, hal. A23). Dari lebih dari 600 wanita yang lebih tua yang disurvei, 35 persen mengatakan bahwa tingkat mereka saat ini minat seksual yang menurun. Namun, Johnson menemukan bahwa dua pertiga mengatakan bahwa mereka sangat tertarik dalam hubungan seksual dan yang paling percaya bahwa mereka memiliki sikap seksual yang liberal. Perubahan yang terjadi pada fungsi seksual pada pria yang lebih tua dan wanita. Pada pria, ereksi terjadi lebih lambat dan perlu lebih banyak stimulasi terus menerus, tetapi mereka dapat dipertahankan untuk waktu yang cukup lama tanpa perlu ejakulasi.

Kenaikan periode refraktori sehingga dapat mengambil satu atau dua hari bagi manusia untuk menjadi responsif secara seksual lagi. Obat antihipertensi, penyakit vaskular arteri penis, dan diabetes adalah penyebab umum dari impotensi pada pria. Bagi wanita, penuaan dikaitkan dengan penurunan estrogens, dan penurunan lubrikasi vagina. Namun, respon seksual klitoris mirip dengan perempuan yang lebih muda. Kegiatan seksual tetap penting untuk pria yang lebih tua dan wanita. Metode medis dan psikologis memiliki berhasil dalam mengobati disfungsi seksual pada orang dewasa yang lebih tua.

Implikasi. Seperti dengan orang dewasa muda, kekhawatiran seksual dan fungsi harus dinilai pada orang dewasa yang lebih tua karena dianggap suatu kegiatan penting. Satu psikologi magang berkomentar, “Anda hanya tidak pernah berpikir hal yang sama tentang Anda lebih tua klien [atau kakek-nenek Anda] setelah Anda memiliki seorang wanita menceritakan 80 tahun Anda berapa banyak ia menikmati oral seks “(Zeiss, 2001, hal. 1). Perawatan dan obat-obatan seperti Viagra sekarang tersedia untuk meningkatkan fungsi seksual pada orang dewasa yang lebih tua. Pengetahuan tentang kemajuan ini penting ketika konseling orang dewasa yang lebih tua. Stres emosional (pensiun, perubahan pengasuhan, dan gaya hidup) serta perubahan fisik dapat menghasilkan masalah dalam fungsi seksual dan juga harus dinilai.

Profesional kesehatan mental harus menentukan Alasan kesulitan dan mempekerjakan atau menyarankan intervensi yang tepat. Profesional kesehatan mental dapat memperoleh sejumlah artikel jurnal berurusan dengan seksualitas pada orang dewasa yang lebih tua dan bentuk keberhasilan pengobatan dari APA Penuaan dan Seksualitas Manusia Resource Guide (APA, 2001a). Informasi klien tentang seksualitas juga dapat diperoleh dari National Institute on Aging dan Cinta dan Kehidupan: Sebuah Pendekatan Sehat untuk Seks untuk Dewasa Lama (kit yang berisi brosur, materi pelatihan, dan video untuk digunakan oleh organisasi dewasa yang lebih tua) dari Dewan Nasional on Aging.

Beberapa Diskriminasi

Status minoritas dalam kombinasi dengan usia yang lebih tua dapat menghasilkan beban ganda. Misalnya, wanita lesbian yang lebih tua mungkin masih mengalami diskriminasi berdasarkan orientasi seksual mereka. Beberapa tetap tertekan lebih kurangnya penerimaan dari masyarakat heteroseksual dan bahkan anggota keluarga. Mereka mengamati bahwa tetangga berinteraksi dengan mereka tapi tidak mengundang mereka. Tambahan lagi, mereka mungkin merasa terisolasi dari komunitas lesbian: Saya sangat terkejut dan terluka ketika salah satu dari mereka [lesbian muda] yang menganggap dirinya cukup dibebaskan tidak ingin berdansa dengan saya di sebuah bar lesbian lokal, tapi dia tidak menari dengan orang lain. (Jacobson & Samdahl, 1998, hal. 242) Wanita itu disebabkan penolakan ini dia menjadi lebih tua dari yang lain perempuan. Dia menunjukkan bahwa dalam newsletter atau kegiatan lesbian, ada jarang apa-apa tentang wanita yang lebih tua. Sayangnya, bahkan anggota minoritas yang telah mengalami diskriminasi sendiri dapat menampilkan ageism.

Implikasi. Terapis harus menilai untuk potensi masalah dari beberapa diskriminasi ketika bekerja dengan orang dewasa yang lebih tua yang memiliki cacat atau dari kelompok yang berbeda budaya, kelas sosial, atau minoritas seksual. Seorang individu bisa datang untuk berdamai dengan faktor yang terkait dengan usia dan menemukan yang berbeda sumber dukungan sosial, atau secara aktif bekerja untuk mengubah masyarakat negatif sikap.

Implikasi untuk Praktik Klinis

Orang dewasa yang lebih tua harus berurusan dengan isu-isu seperti hilangnya teman dan lainnya yang signifikan individu, devaluasi budaya dari kelompok mereka, kesehatan dan fisik masalah, isolasi paksa, dan memiliki sumber daya keuangan yang lebih terbatas (Myers & Harper, 2004). Namun, banyak mengembangkan sistem dukungan alternatif di masyarakat dan memiliki kontak dengan anggota keluarga. Sosial kontak penting, dan terlibat dalam baik dibayar atau meningkatkan kerja relawan harga diri dan kepuasan hidup dari orang yang lebih tua (Acquino, Russell, Cutrona, & Altmaier, 1996). Isu bahwa orang dewasa yang lebih tua menghadapi mungkin termasuk penyakit kronis dan cacat, kehilangan orang yang dicintai, pengasuhan untuk dicintai, dan perubahan peran (Knight & McCallum, 1998). Berikut ini adalah saran-saran dalam menawarkan layanan kesehatan mental untuk lebih tua orang dewasa (APA, 2004; Knight & McCallum, 1998; Qualls, 1998a):

  1. Mendapatkan pengetahuan dan keterampilan khusus dalam konseling dewasa yang lebih tua. Kritis mengevaluasi sikap Anda sendiri tentang penuaan dan         kualitas hidup.
  2. Jadilah pengetahuan tentang masalah hukum dan etika yang timbul saat bekerja dengan orang dewasa yang lebih tua (misalnya, masalah kompetensi).
  3. Tentukan alasan untuk evaluasi dan aspek-aspek sosial yang terkait dengan masalah, seperti kerugian baru-baru, stres keuangan, dan masalah keluarga.
  4. Tampilkan dewasa yang lebih tua menghormati dan memberi mereka sebanyak otonomi mungkin, terlepas dari isu yang terlibat atau status mental. Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa yang lebih tua (Pennington, 2004):
  • Memberikan perhatian dan mendengarkan individu.
  • Berbicara dengan bukan tentang seseorang.
  • Gunakan bahasa hormat (tidak elderspeak) dan jangan terlalu manis.
  • Perlakukan orang sebagai orang dewasa.
  • Ambil keprihatinan nya serius.
  • Mengidentifikasi kondisi medis dan obat-obatan, karena kondisi mental yang sering merupakan akibat dari masalah fisik, atau interaksi obat atau samping efek.
  • menganggap kompetensi dalam klien dewasa yang lebih tua kecuali sebaliknya jelas.
  • Jika perlu, memperlambat laju terapi untuk mengakomodasi perlambatan kognitif.
  1. Memberikan informasi dengan cara yang mendekati tingkat klien dari membaca dan pemahaman, menggunakan metode alternatif seperti disederhanakan visual atau rekaman video jika perlu.
  2. Libatkan orang dewasa yang lebih tua dalam keputusan sebanyak mungkin. Jika ada kognitif keterbatasan, mungkin perlu untuk menggunakan individu diakui secara hukum.
  3. Gunakan beberapa penilaian dan termasuk sumber-sumber yang relevan (klien, keluarga anggota, orang lain yang signifikan, dan penyedia layanan kesehatan).
  4. Tentukan peran perawat keluarga, mendidik mereka tentang gangguan, dan membantu mereka mengembangkan strategi untuk mengurangi kelelahan.
  5. Ketika bekerja dengan pasangan yang lebih tua, membantu bernegosiasi isu-isu mengenai waktu yang dihabiskan sendirian dan bersama-sama (terutama setelah  pensiun). Argumen lebih rekreasi yang umum. Ada terlalu banyak “waktu   beberapa” dan tidak ada “Sah” alasan keterpisahan.
  6. Kenali bahwa penting untuk membantu individu yang sendirian membangun sistem pendukung di masyarakat.
  7. Bantuan dewasa yang lebih tua mengembangkan rasa pemenuhan dalam hidup dengan membahas aspek positif dari pengalaman mereka. Sukses dapat  didefinisikan sebagai memiliki melakukan yang terbaik atau setelah bertemu dan selamat tantangan seseorang. Sebuah tinjauan kehidupan sering membantu.
  8. Tentukan pandangan orang dewasa yang lebih tua dari masalah, sistem kepercayaan, stageof- masalah kehidupan, latar belakang pendidikan, dan pengaruh sosial dan etnis.
  9. Membantu dalam menafsirkan dampak masalah budaya seperti kelompok etnis keanggotaan, jenis kelamin, dan orientasi seksual pada kehidupan mereka.
  10. Untuk orang dewasa sangat dekat dengan akhir hidup mereka, membantu mereka berurusan dengan rasa keterikatan benda akrab dengan meminta mereka memutuskan bagaimana pusaka, kenang-kenangan, dan album foto akan   didistribusikan dan dirawat.

Konseling dapat meningkatkan kualitas hidup untuk orang dewasa yang lebih tua atau membantu mereka menyelesaikan masalah akhir-hidup.

Daftar Pustaka

Derald Wing Sue & David Sue, (2008). Counseling the Culturally Diverse Theory and Practice: Fifth Edition. New Jersey

 

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

Filed under Dunia Konseling